business-forum

coaches

More Video! Visit : BARACoaching Channel on Youtube

Senin, 04 Mei 2015

UNGKAP CARA SIMPLE MENGETAHUI ‘PASSION’ MENJUAL

Jantung dari sebuah perusahaan terletak pada kegiatan penjualan (sales). Itu sebabnya, seorang owner bisnis harus cukup peka sekaligus tanggap akan kebutuhan tenaga salesnya.
Hal ini dikatakan Erfina Hakim, selaku pembicara dalam training yang diadakan BARACoaching–ActionCOACH Surabaya. Acara yang bertajuk “Easy Selling” ini diadakan selama 3 hari berturut-turut, Rabu sampai Jum’at, 22 s/d 24 April ’15 di Office BARACoaching, PTC Surabaya.
Pada sesi awal, dipaparkan apa saja bekal seorang tenaga sales dan marketing. Pertama, pantang memiliki mental block. Salah satu yang bisa menghambat pikiran kita untuk maju adalah adanya mental block dalam diri kita. Hal ini sering terjadi ketika kita meremehkan atau diremehkan orang lain (underestimate/d).
“Karena itu, tantang diri Anda. Pecahkan rekor diri sendiri, untuk selalu mendapatkan lebih dan lebih,” tegas wanita yang lebih dari 15 tahun bergelut dengan dunia sales ini.
Bekal kedua, live with passion. Ada beberapa cara simpel mengenali, apakah kita punya passion ‘menjual’ atau tidak. Diantaranya, jika mampu mengendalikan bagaimana kita bekerja, merasa cakap melakukan, dan terus bisa meningkatkan. Selain itu, passion bisa dilihat bila pekerjaan kita memberi pengaruh atau kontribusi pada perusahaan.
Banyak hal diajarkan dalam training berdurasi kurang lebih 4 jam ini. Selain bekal seorang sales dan marketing, juga diberikan edukasi tentang hard selling, soft selling, kekuatan komunikasi melalui body language, sampai teknik cepat menguji ‘kepekaan diri’ terhadap prospek. Para peserta juga diajak diskusi aktif tentang problem dan kesulitan mereka selama di ‘lapangan’.
Azam, salah satu peserta training mengaku, secara keseluruhan baik dari segi materi maupun penyampaiannya, training ini bagus dan bermanfaat.
“Kita memang butuh pelatihan seperti ini,” tambahnya.
Di akhir acara, Erfina berharap, para peserta training bisa lebih mampu men-challenge diri sendiri, mencari cara paling mudah untuk ‘jualan’ yang sesuai dengan karakter dirinya.

FATAL LOYAL - By: Coach Suwito Sumargo**

Senin yang lalu, jam 6.30 pagi saya sudah siap di lobby laboratorium langganan saya. Memang, 6 bulan terakhir ini saya bolak-balik ke beberapa laboratorium, yang bukan langganan saya. Dan 2 pemeriksaan terakhir, saya kembali memeriksakan diri ke laboratorium langganan saya. Saya menggunakan kesempatan ini untuk membandingkan satu laboratorium dengan lainnya.
Nopember 2014, saya menjalani pemeriksaan di laboratorium B. Hasil pemeriksaannya agak mengecewakan, karena gula darah menembus batas. Gara-gara layanannya saya anggap tidak memuaskan, maka saya meragukan kebenaran hasil pengukurannya.
Setelah konsultasi dengan dokter keluarga, maka diputuskan agar saya melakukan pemeriksaan sekali lagi, dengan metode yang berbeda dan di laboratorium yang berbeda. Kali ini saya mengusulkan untuk melakukan pemeriksaan di laboratorium langganan saya.
Ternyata, laboratorium langganan saya tidak bisa melakukan pemeriksaan dengan metode seperti yang diminta dokter. Pemeriksaan pun terpaksa saya lakukan di laboratorium sebuah rumah sakit swasta yang ternama. Hasilnya? Memperkuat hasil pemeriksaan pertama, di laboratorium B: gula darah saya memang menembus batas.
Saya pun mulai menjalani terapi dan 2 minggu kemudian saya mengunjungi laboratorium langganan. Hasilnya? Ada perbaikan! 2 bulan kemudian, pemeriksaan serupa dilakukan sekali lagi. Dan dokter memutuskan, gula darah saya sudah kembali normal.
Total, dalam 6 bulan terakhir saya mengunjungi 3 laboratorium yang berbeda. Dan saya tetap ingin kembali ke laboratorium langganan. Mengapa? Di laboratorium langganan, bukan saja layanannya lebih ramah, tapi saya juga melihat perbaikan atau pengembangan-pengembangan.
Dalam 5 tahun terakhir, saya mengunjungi laboratorium langganan saya, minimal sekali setahun. Dan, saya selalu menemukan perubahan dan perkembangan baru.
Misalnya, toiletnya bukan saja selalu bersih, wangi, tersedia tempat menaruh barang-barang kecil bawaan kita dan jumlahnya pun ditambah. Maklum, di saat banyak pasien melakukan pemeriksaan, terkadang terjadi antrian di toilet.
Software yang digunakan semakin praktis, mencatat detil pemeriksaan jadi semakin cepat. Karyawan-karyawannya semakin terlatih, murah senyum dan ramah. Ada 1 karyawan, yang diberi tugas khusus, yaitu menjelaskan pernik-pernik pemeriksaan, baik kepada pasien lama maupun baru. Dan masih banyak lagi daftar pujian terhadap laboratorium langganan saya ini.
Mungkin tidak semua, tapi pasti ada saja pasien (seperti saya), yang gemar mengamati. Pasien (atau pelanggan), adalah pengamat awam. Tapi, hasilnya bisa mempengaruhi pendapatan perusahaan.
Pelanggan yang loyal, membutuhkan sentuhan tertentu agar tidak 'patah hati'. Meski saya tergolong jarang ke laboratorium, tapi saya mengamati perkembangannya. Dan, saya suka dengan perkembangan positif yang saya lihat dan alami.
Apa jadinya, bila saya tidak lagi merasakan perkembangan positif? Apa kira-kira pendapat pelanggan seperti saya, bila merasa tidak puas dan tidak sreg lagi dengan layanannya?
Bagaimana bila saya juga meragukan kebenaran hasilnya? Jawabannya? Pasti saya tidak mau kembali dan pindah ke laboratorium lain.
Dan mungkin saja, saya akan bilang kesana kemari, bahwa mutu dan layanan laboratorium ini sudah merosot. Jadi, kita harus hati-hati dalam memperlakukan pelanggan. Bila keliru, hasilnya bisa-bisa fatal. Tapi, bila perlakuan kita tepat, maka pelanggan akan jadi loyal.


** Coach Suwito Sumargo: The Winner Supportive Coach Award & System Award 2014 (Business Excellence Forum Award 2014)

Kamis, 23 April 2015

SHERLOCK HOLMES - By: Coach Ruaniwati



Siapa tidak tahu detektif terkenal rekaan Sir Arthur Conan Doyle, Sherlock Holmes? 
Buku-bukunya laris sepanjang masa, filmnya di bioskop selalu di-antri penonton, sampai dibuat berseri. Tak ketinggalan serial televisi beberapa versi. Lengkap!
Mengapa begitu banyak orang nge-fans dengan tokoh ini? Sherlock digambarkan sangat pandai, hampir-hampir dianggap dewa di dunia per-detektif-an :). 
Yang paling menarik adalah kemampuan deduksi yang luar biasa, yang diperoleh dari pengamatan sangat detail. Pemecahan suatu kasus biasanya digambarkan rumit dan tidak dapat ditebak oleh orang pada umumnya. 
Sherlock dapat menghubungkan bukti-bukti detail sederhana sedemikian rupa sehingga dapat mengetahui kejadian sesungguhnya yang memecahkan misterinya.
Selain itu, pengamatan menyeluruh tentang perilaku dan mengetahui motivasi seseorang melakukan suatu tindakan yang membuat Sherlock jadi detektif kawakan.
Apakah kemampuan deduksi dan mengamati hal-hal detail seperti ini dapat kita pelajari dan dibawa ke kondisi sehari-hari perusahaan? Tentu saja bisa jika kita mau!
Bagaimana pengamatan detail dan kemampuan deduksi dapat diterapkan? Coba amati anak buah Anda, apakah jika diperlakukan aturan baru terjadi perubahan perilaku? Positif atau negatif? Apa yang menyebabkan mereka bertindak seperti itu?
Apakah detail-detail sederhana perilaku mereka dapat dikembangkan menjadi perilaku yang baik dan memberi benefit bagi perusahaan?
Apakah Anda punya contoh lain di bisnis Anda yang memerlukan deduksi ala Sherlock?
Selamat jadi detektif!
Salam The Next Level

Senin, 20 April 2015

TAK ADA PILIHAN! - By: Coach Suwito Sumargo**

Saat berkunjung ke sebuah tempat usaha (toko), saya sering kagum dengan ketangguhan sang bos dalam menjalankan usahanya. Tak jarang, sang Bos harus sudah standby atau mengawali pekerjaannya, sejak sebelum toko buka hingga malam hari (setelah toko tutup).
Menurut penuturan mereka, saat toko buka mereka sibuk melayani pembeli, pemasok dan mengawasi para pekerjanya. Sementara setelah toko tutup, dia harus memeriksa setiap transaksi dan menuliskannya ke dalam buku catatan. Hampir tak ada waktu istirahat yang memadai, apalagi berinteraksi dengan keluarga dan teman.
Kadang, saya menangkap keluh mereka, yang merasa capek setelah menjalani selama belasan (bahkan puluhan) tahun. Mereka bilang: tak ada pilihan! Mereka harus mengerjakan sendiri karena tidak ada yang bisa diandalkan untuk menggantikannya.
Apa yang mereka lakukan, mungkin layak kita acungi jempol. Komitmen mereka ini sungguh luar biasa. Tapi, apakah pernah terpikir, betapa mahalnya tenaga, pikiran dan waktu yang mereka curahkan?
Sejak menjadi Coach, saya selalu berusaha, mendorong para pengusaha ini untuk berpikir dan bertindak dengan cara yang berbeda. Kalau mau, sebenarnya pekerjaan-pekerjaan itu bisa di-delegasi-kan ke orang lain.
Dan sang bos bisa menikmati lebih banyak waktu luang. Karena memiliki cukup banyak waktu luang, jelas lebih berharga. Seberapa besar penghargaan Anda terhadap waktu?
Share pendapat dan problem Anda by email ke: suwito@baracoaching.com

** Coach Suwito Sumargo: The Winner Supportive Coach Award & System Award 2014 (Business Excellence Forum Award 2014)

Kamis, 16 April 2015

KERANCUAN ANTARA GAJI, INSENTIF, TUNJANGAN, KOMISI, BONUS DALAM PERUSAHAAN - By: Coach Humphrey Rusli

Sering saya ditanya oleh para pengusaha, baik klien ActionCOACH atau saat saya mengasuh acara bincang bisnis. “Coach, kalau bonus itu dijanjikan diawal boleh atau tidak?”. Atau, “Manajer saya minta tunjangannya dinaikkan, apakah ada ukuran yang baku untuk menaikkannya, berapa persen?” Dan masih banyak lagi yang bernada seperti pertanyaan-pertanyaan di atas.

Ada baiknya saya ulas secara singkat perbedaan serta batasan dari macam-macam terminologi di atas:
1.       Gaji
Mungkin ini yang paling mudah dan sudah jelas. Gaji adalah satuan upah sebagai pengganti keahlian, waktu dan tenaga yang dicurahkan seorang pegawai dalam perusahaan. Besar kecilnya gaji tergantung seberapa besar waktu atau tenaga, dan seberapa ahli tenaga kerja yang di’beli’ perusahaan tersebut.

2.       Insentif
Insentif sebetulnya adalah 'tambahan' uang, sebagai upaya meminta pekerja mengerjakan tugas tertentu. Misalkan: seorang pekerja diminta untuk mengerjakan tugas tambahan, di luar tugas pokoknya.
Lalu si pekerja diberi insentif agar berkenan melakukan tugas extra itu. Insentif bersifat sementara dan kasuistis. Bila pekerjaan ekstra itu berlangsung permanen, maka insentif dilebur menjadi gaji, alias ada penyesuaian gaji atas beban pekerjaan barunya.

3.       Tunjangan
Mungkin dari semua istilah, ini adalah yang paling sering kurang tepat penggunaannya. Sebenarnya istilah tunjangan ini muncul apabila si pekerja butuh ditunjang agar mampu bekerja secara profesional pada bagiannya masing-masing.
Contoh: tunjangan rumah. Ini diberikan bagi pekerja yang dipekerjakan diluar kota sehingga butuh tempat tinggal. Tunjangan kendaraan, ini untuk pekerja yang terpaksa pulang pergi jarak jauh dari dan ke tempat kerja.
Ada juga tunjangan jabatan. Untuk jabatan tertentu misalkan manajer pemasaran, si pegawai dituntut untuk berpenampilan rapi dan well-groomed. Dari mana uangnya? Dari tunjangan jabatan itu. Intinya semua yang meningkatkan performa pegawai dan perlu ditunjang, masuk ke dalam post "tunjangan". Namun hati-hati, tidak semua pegawai perlu diberi tunjangan untuk bisa bekerja optimal.

4.       Komisi
Istilah ini sudah sangat populer di dunia penjualan. Komisi adalah bagi hasil dari sebuah usaha yang memiliki target yang jelas. Komisi memiliki aturan yang mengikat. Besaran komisi ditentukan di depan, dan komisi hanya diberikan bila target yang disepakati di awal tercapai. Bila target tidak tercapai, komisi otomatis tidak keluar.

5.       Bonus
Ini adalah suatu istilah yang paling sering disalah-kaprahkan dengan komisi dan atau insentif.
Secara konseptual, bonus tidak sama dengan istilah-istilah tersebut di atas. Bonus berasal dari kata latin yang bermakna: "atas kebaikan hati".
Dari dasar makna ini sudah terlihat, bonus tidak ada dasar perhitungan yang mengikat, tidak bisa dijanjikan, dan tidak tergantung oleh target yang dicapai. Bonus murni bentuk ucapan terima kasih owner usaha kepada teamnya.
Besarannya? 100% terserah owner. Apakah setiap tahun sudah pasti ada bonus? Belum tentu, tergantung owner. Dengan kata lain seorang pegawai tidak bisa ‘menuntut’ bonus akhir tahun kepada atasannya. Bonus adalah hak prerogatif owner.


Lalu? Setelah paham istilah-istilah di atas, apakah Anda bisa menggunakannya untuk memacu tim anda untuk lebih berkarya? Manakah yang Anda pakai dalam usaha Anda?

Ingat, Anda adalah pengusaha, Anda yang pegang uang. Istilah-istilah di atas tidak dibuat untuk mengekang Anda, namun sebaliknya seharusnya semakin Anda paham perbedaannya, semakin kreatif Anda memacu tim Anda.

The Sky is The Limit!
Selamat berkarya.

Kamis, 09 April 2015

FENOMENA ‘FAST & FURIOUS 7’ - By: Coach Ruaniwati

Sudah nonton Fast and Furious 7? Salah satu film yang digadang-gadang bakal meraih box office penjualan tahun ini. Lihat saja animo para penonton yang rela antri untuk nonton film yang satu ini. Apa sih istimewanya?
Film ini adalah sekuel ke-7 dari serangkaian film dengan judul sama. Ya, judul sama dan diberi urutan nomor, temanya sama yaitu kebut-kebutan dan pamer mobil keren-keren. Apa sih yang membuat film ini jadi meledak dan dinanti-nanti?
Jika kita perhatikan sejak awal tahun, bahkan sejak akhir tahun lalu, desas-desus yang terus dibicarakan tentang film ini telah membangun momentum dan menimbulkan "rasa penasaran".
Salah satu aktornya, Paul Walker meninggal akhir tahun 2013 setelah shooting film ini selesai, menambah efek berita karena dianggap akting dia yang terakhir. Apakah hanya itu saja?
Dalam salah satu diskusi dengan para pebisnis, saya menanyakan apakah ada yang tahu film ini, hampir semuanya tahu film ini dan kapan akan "main" di bioskop. Malah mereka menjawab dengan bangga karena tahu lebih banyak daripada peserta diskusi yang lain. Luar biasa bukan?
Apa yang kita bisa pelajari dari fenomena Fast & Furious ini?
1. Kerennya cara mereka meng-komunikasi-kan produknya, sehingga jika kita tidak tahu, kita dianggap "tidak gaul" alias gak keren.
2. Media berlomba-lomba menuliskan berita tentangnya, tidak dibayar, malah sebaliknya media mendapat "keuntungan".
3. Perencanaan yang matang dengan "coverage" yang luas, di seluruh dunia. Konsistensi pelaksanaan dan konten kampanye-nya.
4. Menambahkan efek wow dalam produk mereka.
Jadi, mana pelajaran yang kita bisa terapkan untuk usaha kita walaupun dalam skala yang lebih kecil? Apakah desas desus yang diprovokasi, perencanaan yang matang, atau hal lain yang membuat produk atau jasa kita jadi pembicaraan seru, lagi dan lagi?
Ingin menambahkan pendapat Anda dalam artikel ini? Silahkan kirim komentar Anda kepada kami.
Salam The Next Level! 

Senin, 06 April 2015

SENYUMMM..... - By: Coach Suwito Sumargo

Anda mungkin bertanya, apa hubungan antara bisnis dengan senyum. Saya akan bercerita sedikit di sini.
Suatu petang saya mampir di sebuah kedai, yang hanya menyediakan satu menu saja: Nasi Pecel. Tentu saja ada pernik-pernik pelengkapnya, seperti: Empal, Dadar Jagung, Sate Jerohan, dan lain-lain.
Saya mengantri di trotoar, bersama 4 - 5 orang lainnya. Dan ada belasan orang lagi yang sedang asyik menikmati nasi pecel (beralaskan pincuk daun). Kurang dari 10 menit, giliran saya pun tiba: Makan disini? Begitu sapa si Mbok. Saya pun mengangguk. Setelah 5 atau 6 tanya-jawab, tak sampai 2 menit, saya sudah siap menyantap nasi pecel plus srundeng dan sepotong empal.
Sambil makan, saya pun mulai menghitung-hitung, kira-kira berapa porsi yang bisa terjual dalam semalam. Dengan bantuan informasi dari tukang parkir, muncul angka yang fantastis, setidaknya 200 porsi. Itu capaian normal selama 3 jam per hari. Si Mbok berjualan 7 hari dalam seminggu, bergantian dengan putri dan menantunya.
Keesokan harinya, saya makan malam di resto siap saji lokal. Harga makanannya 4x lebih mahal. Dan saya harus menunggu 10 menit sebelum hidangan tersaji didepan saya. Tanpa senyuman ramah pula. Aah...bedanya bak  bumi dengan langit.
Selama belasan tahun, si Mbok tidak pernah pindah, tidak buka cabang, tidak mengubah tampilan atau penyajian, tidak mengubah menu utama (nasi pecel). Konon, senyum ramahnya pun tak pernah berubah.
Bila Anda punya bisnis semacam ini, apakah Anda akan ekspansi, buka cabang dimana-mana? Apakah Anda akan menerapkan standarisasi layanan, memperbaiki tampilan dan meningkatkan kebersihan? Silahkan share pendapat Anda.
Salam The NEXT Level!