business-forum

coaches

More Video! Visit : BARACoaching Channel on Youtube

Senin, 23 Maret 2015

KARYAWAN SAYA NGGAK BERKUALITAS? - By: Coach Suwito Sumargo

“Saya kesulitan mendapatkan karyawan yang berkualitas. Karyawan saya ini selalu merepotkan. Mereka berulang kali bertanya dan tidak mau memutuskan sendiri.” Demikian sekilas perbincangan saya dengan seorang pemilik toko.
Saya berkunjung ini atas permintaan Pak Danny (pemilik toko). Sambil berbincang-bincang, bola mata Pak Danny 'berkeliaran' mengamati seluruh penjuru toko. Berkali-kali beliau minta maaf kepada saya, karena beliau harus segera 'mencegat' karyawan dan memberi serangkaian perintah. Ini untuk mencegah agar karyawannya tidak melakukan kesalahan.
Setengah jam kemudian, kesibukan toko pun mereda. Kami bisa berbincang lebih santai. Sambil menghela nafas, beliau berkata, “Ya seperti inilah kesibukan saya, setiap hari. Karena itu, saya tidak mungkin meninggalkan toko ini dan menghadiri seminar. Sebenarnya saya sangat ingin memiliki karyawan yang nggenah dan bisa dipercaya.”
Kejadian seperti ini sangat sering saya temui, ketika saya makan di depot atau belanja di sebuah toko kelontong atau membeli sesuatu di toko bangunan. Dan setiap pemilik usaha melakukan hal yang serupa dengan cerita diatas. Keluhan baru terasa ketika kegiatan usaha mulai tumbuh dan berkembang, ketika pembeli/pelanggan mulai banyak. Dan ketika keluhan makin sering muncul, punya usaha tidak lagi menyenangkan. Malah menjadi beban.
Bagaimana membebaskan kita dari beban ini?
Pertama, pikirkan satu bagian pekerjaan, yang PASTI bisa dikerjakan oleh karyawan-karyawan kita, dengan sempurna. Cukup satu bagian saja, bukan seluruh proses. Kemudian, coba latihkan ke karyawan-karyawan itu dan amati siapa yang menunjukkan tanda-tanda akan bisa melakukannya dengan baik.
Lalu, bagaimana bila karyawan-karyawan itu enggan mengikutinya?
Saya biasanya meminta klien untuk menceritakan ke karyawan-karyawannya, sebuah cerita tentang masa depan perusahaan dan bagaimana peluang karyawan-karyawan itu untuk maju dan sukses bersama. Ini bukan cerita tentang visi-misi yang nggombal, melainkan sebuah cerita atau cita-cita yang disampaikan dengan sepenuh hati, tulus dan jujur. Cerita yang disampaikan dengan penuh semangat. Dan...ternyata tidak banyak pemilik usaha yang mampu melakukannya dengan baik.
Tapi, bila si pemilik usaha berhasil meyakinkan karyawan-karyawannya, maka mereka akan berusaha sebaik-baiknya. Bahkan, tak jarang terjadi kompetisi diantara mereka. Dengan demikian, setiap karyawan itu akan berusaha menunjukkan yang terbaik.
Apa yang kita pelajari dari artikel saya kali ini?
1.    Kuasailah urut-urutan pekerjaan, lakukan pemenggalan-pemenggalan, agar setiap penggalan bisa dilakukan dengan baik.
2.    Menyemangati karyawan dengan menceritakan masa depan perusahaan dan bagaimana mencapainya. Bila kita berhasil melakukannya, maka kita mengajak karyawan-karyawan kita untuk memahami dan melaksanakan visi-misi.
Anda akan belajar lebih banyak, bila Anda menghubungi kami...

Salam The NEXT Level!

Kamis, 19 Maret 2015

KAPAN BUKA CABANG? - By: Coach Ruaniwati

Kapankah waktunya kita membuka cabang? Jika pertanyaan ini diajukan kepada Anda, mungkin jawabannya bisa bermacam-macam. Misal, jika saya sudah punya orang yang tepat atau jika modalnya sudah cukup, dan alasan lainnya. Bagaimana menjawab pertanyaan ini?
Mari kita telaah dengan benar dan ijinkan saya menanyakan, apakah sebenarnya yang Anda inginkan terjadi di bisnis Anda dalam 3 sampai 5 tahun ke depan?  Apakah jawabannya salah satu di bawah ini?
“Oh, saya ingin sales saya naik, saya ingin lebih profit atau saya ingin perusahaan saya lebih dikenal”. Jika jawabannya salah satu dari itu, apakah selama ini cara Anda berbisnis tidak bisa lebih dioptimalkan, sehingga harus membuka cabang baru?
Membuka cabang adalah salah satu cara untuk menaikkan omzet, menaikkan profit dan membuat usaha Anda lebih dikenal, apakah hanya itu saja?
Tentu saja ada banyak cara lainnya untuk meningkatkan hal-hal itu dan tidak harus membuka cabang untuk mencapainya. Membuka cabang juga mengandung resiko-resiko yang harus kita tanggung. Karena itu kita perlu realistis memperhitungkan dan menganalisa dengan baik.
Selain itu, membuka cabang juga harus disesuaikan dengan rencana jangka panjang bisnis Anda. Paling baik jika keputusan yang kita ambil sejalan dengan sasaran jangka panjang. Jika tidak, maka membuka cabang akan menimbulkan masalah atau beban baru.
Jika semua resiko yang mungkin muncul telah diperhitungkan dan mengambil keputusan untuk membuka cabang, apakah yang harus dilakukan? Buatlah perencanaan yang jelas, yang dapat diikuti oleh tim yang terlibat dan didiskusikan dengan mereka. Membuat perencanaan sebenarnya lebih mudah daripada melaksanakannya, mengapa demikian?
Melaksanakan rencana bisnis kita, memerlukan fokus dan konsistensi, bukan hanya dalam hal pembukaan cabang tapi juga di semua area bisnis. Tingkat keberhasilan yang baik ditentukan oleh seberapa baik kita sebagai pebisnis dan tim yang terlibat konsisten.
Bagaimana dengan Anda, apakah ini waktu yang tepat untuk membuka cabang? Ingin tahu lebih banyak?  Silakan emailkan pendapat Anda ke ruaniwati@baracoaching.com.

Salam the NEXT Level!

Kamis, 12 Maret 2015

JANGAN JUAL SAMBALNYA, TAPI JUAL LAUKNYA! - By: Coach Humphrey Rusli

Di budaya kita Indonesia, terutama di tanah Jawa, makan nasi dengan condiment atau pelengkap semacam sambal sangatlah umum. Bahkan buat sebagian orang, makan belum terasa nikmat jika belum ada sambal.
Sambal sebenarnya bukan merupakan lauk utama, namun mengapa sering dicari? Bagi penggemarnya, sambal ini adalah penambah selera, mungkin bila tanpa sambal makanan lezat hanya akan disantap sebanyak 1 porsi saja. Namun bila dibumbui sambal (yang pedasnya menggigit) mungkin bisa 1,5 bahkan 2x porsi biasa. Jadi kesimpulannya sebenarnya mana yang lebih penting, lauknya atau sambalnya?
Tentu jawaban (pada umumnya) adalah: Yang penting adalah lauknya. Namun benarkah demikian?
Jika kita beruntung bisa menikmati sajian/lauk yang nikmat, mungkin kita tidak terlalu butuh sambal untuk membantu menyantap habis nasi beserta lauk tersebut. Namun bagaimana bila lauknya tidak sedap atau kurang sesuai selera kita? Sudah barang tentu kita ‘terpaksa’ harus menambahkan sambal sebanyak-banyaknya agar bisa mengkamuflase rasa lauk yang kurang sedap dengan pedasnya sambal tersebut. Bukankah demikian?
Atau sebaliknya, bagi yang mengaku doyan berat sambal, mungkinkah mereka membeli makanan yang isinya hanya nasi putih dan sambal saja, tanpa lauk apapun? Tentu tidak bukan? Susah saya membayangkan hal itu terjadi, betapapun gemar mereka akan sambal, mereka tetap membutuhkan lauk yang juga sama nikmatnya bukan?

Lalu apa Hubungannya Sambal-Lauk ini dengan Bisnis?
Dalam bisnis, hukum sambal-lauk ini juga sangat berlaku. Sambal di dalam bisnis adalah ‘discount’ yang diberikan oleh penjual ke konsumennya. Sambal (discount) ini sangat menggiurkan dan bahkan sering dijadikan satu-satunya cara untuk menarik perhatian dan merangsang konsumen membeli lebih atau membeli sekarang juga.
Ini sebenarnya sah-sah saja dalam bisnis. Namun harap diingat, bahwa konsumen anda sebenarnya membutuhkan lauknya terlebih dahulu sebelum sambal (discount)nya. Lauk di dunia bisnis adalah keunikan dan perbedaan kualitas, layanan dan sebagainya dibandingkan kompetitor sejenis.

Ingat rumus dari Hukum Sambal-Lauk ini:
1. Tidak ada orang yang hanya membutuhkan sambal (discount) nya semata. Mereka membutuhkan lauknya terlebih dahulu, yaitu keunikan dan perbedaan yang seharusnya menjadi sasaran utama yang dijual oleh produsen/penjual kepada pembeli.
2. Semakin buruk kualitas lauknya (buruk di kualitas atau tidak adanya pembeda yang jelas dibanding kompetitor) semakin pembeli membutuhkan sambal yang extra pedas (discount yang extra besar) untuk menutupi ‘rasa’ yang kurang sedap tersebut.
Ada 10 lauk yang digemari oleh konsumen pada umumnya:
1. Lauk "Quality" atau bahan baku/SDM yang berkualitas dari sebuah produk/ jasa.
2. Lauk "Speed of Service" atau kecepatan pelayanan yang signifikan dibandingkan kompetitor.
3. Lauk "Customer Service" atau pelayanan prima ke pelanggan.
4. Lauk "Reliability" atau bisa diandalkan.
5. Lauk "Consistency" atau kemampuan supplier untuk menjamin kesamaan service atau quality secara kontinue dan terus-menerus.
6. Lauk "Safety" atau keamanan.
7. Lauk "Back Up Service" atau pelayanan yang terpadu dan mudah diakses oleh pelanggan.
8. Lauk "Convenience" atau nyaman dan dilayani dengan sangat baik, cepat, serta tepat sasaran.
9. Lauk "Image" atau kebanggaan yang timbul pada konsumen ketika membeli produk/jasa itu.
10. Lauk "Guarantee" atau ketenangan pembeli karena sebagian besar resiko ditanggung oleh produsen/penjual.
Nah, kesimpulannya: juallah ‘lauk’nya dahulu sebelum memberikan ‘sambal’nya, niscaya konsumen anda akan semakin bergairah dan setia kapada anda.

Salam The Next Level

Humphrey Rusli

Kamis, 05 Maret 2015

Membangun Karir atau Membangun Aset? - Coach Humphrey Rusli

Membangun karir atau aset? Pertanyaan ini terkesan sangat simple dan bisa dijawab langsung oleh pemilik bisnis keluarga. Namun sebenarnya justru ini adalah pertanyaan kunci yang bisa membantu pemilik bisnis keluarga melanggengkan usaha mereka sampai lintas generasi. Sayangnya, pertanyaan ini jarang ditanyakan sehingga menimbulkan keruwetan yang sejatinya tidak perlu diributkan. Kok bisa? Mari kita telaah.
Bisnis keluarga pada umumnya beranggotakan para keluarga dekat, yang sama-sama menggeluti satu bidang usaha. Umumnya generasi yang lebih tua bermaksud meneruskan aset ini ke garis semendanya, yaitu garis keturunan langsung dari kakek ke anak, lalu ke cucu, dan seterusnya.
Biasanya juga yang generasi lebih muda mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan lebih tinggi, baik di dalam atau luar negeri. Sepulangnya dari atau setamatnya masa sekolah anak, pilihan yang jelas pada umumnya adalah langsung ditarik untuk membantu bisnis keluarga.
Nah, di sini mulai muncul kerancuan yang kalau dibiarkan akan menjadi sumber pertengkaran tiada berkesudahan dan tidak jarang berakhir ke perpecahan keluarga itu dalam menjalankan usaha. Pertanyaan yang sering muncul di benak generasi yang lebih muda adalah: Saya direkrut untuk membangun karir saya di bisnis keluarga ini atau untuk membantu generasi sebelumnya membangun aset? Apa perbedaannya?
Membangun Karir: Ini adalah bentuk pengembangan diri atau self actualization dari seorang eksekutif. Untuk membangun karir ada syarat-syarat yang wajib ada, job desc yang jelas, penghasilan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan dan prestasi kerja, kejelasan wewenang, dan adanya reward and punishment yang jelas.
Jadi kalau si anak memiliki pendidikan S2 di bidang bisnis dan kemudian diposisikan sebagai sopir atau yang mengurus para sopir angkutan, sudah barang tentu ini merupakan career suicide bagi si anak itu. Tujuan utama dari membangun karir adalah penciptaan rekam jejak prestasi yang baik (sesuai minat dan bakat) dan mengumpulkan pendapatan sebesar-besarnya. Gengsi juga berperan besar dalam membangun karir.
Membangun Aset: Pemahaman membangun aset 180 derajat berseberangan dari membangun karir. Membangun bisnis (baca: aset) tidak membutuhkan kejelasan job desc yang absolut di awalnya bagi para anggota keluarga yang terlibat. Nantinya pasti harus ada kejelasan job desc, tapi ketika seorang anggota keluarga baru bergabung, tidak diperlukan kejelasan ini.
Mengapa? Karena membangun aset bertujuan untuk menciptakan passive income dengan seefektif dan seefisien mungkin. Jadi kalau lulusan S2 tersebut diatas ternyata cakap mengurus sopir-sopir dan sopir-sopir pun segan dan patuh terhadap anak tersebut, maka posisi dia boleh dikatakan lebih leverage (berdaya ungkit) dalam asset building sebagai pengurus sopir, walaupun latar belakangnya adalah Master di Bisnis.
Membangun aset juga tidak terlalu memperhatikan peningkatan pendapatan ataupun peningkatan jabatan bagi anggota keluarganya, karena yang menjadi nomor satu bukan pendapatan per bulannya, namun apakah mesin penghasil uang mereka bisa terus-menerus menghasilkan uang dalam jangka panjang atau tidak. Sifat paling dasar dari aset adalah bisa diwariskan, sedangkan karir tidak bisa diteruskan ke generasi penerusnya.
Nah, sayangnya jarang sekali topik diatas ini dibahas oleh generasi yang senior bersama-sama dengan generasi muda. Kesalahpahaman akan hal ini sungguh sering terjadi di bisnis-bisnis keluarga yang kami bantu.
Si anak merasa gaji kurang dan tidak bisa kelihatan bergengsi, sedangkan si ayah merasa si anak kurang ulet dan suka pilih-pilih dalam menjalankan suatu pekerjaan. Si anak merasa tidak jelas (dan tidak berani bertanya) tentang apakah dia akan diwarisi aset usaha ini atau hanya sekedar ‘membantu’ dan mendapatkan gaji.
Sedang si ayah merasa sudah pasti akan mewariskan usaha ini ke anak, dan tidak perlu dibahas terlalu detail di awal. Masalah ini bisa lebih rumit lagi kalau sudah ada beberapa anak, sepupu, menantu yang bergabung di satu usaha yang sama.
Bagaimana solusinya? Bicarakan dan putuskan dengan jelas antara generasi senior dan generasi junior, apakah para junior direkrut untuk membantu membangun aset (yang nantinya akan diwariskan ke mereka) atau mereka direkrut untuk membangun karir di usaha orang tuanya (yang nantinya bisa dipakai untuk membangun karir di perusahaan orang lain yang lebih tinggi kelasnya)?
Semoga Berguna!
Humphrey

Kamis, 26 Februari 2015

BERSAING..SIAPA TAKUT? - By: Coach Ruaniwati

Siapakah sih sebenarnya yang disebut pesaing? Apakah yang produk atau layanannya sama seperti usaha kita? Apakah mereka yang menggerogoti pasar atau pelanggan kita? Apakah mereka yang menembak ide-ide kita?
Anda mungkin setuju dengan satu atau lebih jawaban diatas. Kenyataannya, tidak ada usaha yang tidak punya pesaing. Di semua level usaha dari level bawah sampai level tertinggi, dari produk apapun yang kita tahu, pasti ada kompetisi. Faktanya, jika suatu usaha tidak ada pesaingnya, kemungkinan besar karena usaha tersebut tidak prospek sehingga tidak ada pengusaha lain yang mau berusaha di bidang atau jenis usaha yang sama.
Selama ada kompetisi, itu berarti usaha kita ada prospeknya dan menghasilkan keuntungan.
Mari kita lihat dari sudut pandang yang berbeda. Persaingan dapat kita pakai sebagai tolak ukur kita terhadap kinerja usaha kita. Manfaat lainnya dari persaingan adalah latihan sparring partner. Tidak ada juara PERTAMA tanpa juara kedua, ketiga dan seterusnya.
Jadi, bagaimana kita bisa berlatih dengan memanfaatkan persaingan sebagai pendorong supaya kita jadi lebih baik? Ada 6 cara untuk menaikkan level usaha Anda:
1. Bersikaplah positif terhadap persaingan, menyadari jika semua usaha pasti ada pesaingnya.
2. Buatlah ranking, di nomor berapa kita saat ini, pikirkan bagaimana caranya untuk naik di level berikutnya. Jika Anda memerlukan bantuan ahli, silahkan cari dari sumber-sumber yang dapat dipercaya.
3. Terimalah kenyataan. Jika ranking Anda di urutan terbawah tidak perlu berkecil hati. Yang penting adalah tindakan yang direncanakan untuk bisa naik level.
4. Temukan hal utama apa yang membuat Anda berbeda dengan pesaing.
5 Jika seandainya kita di nomor satu, berhati-hatilah, tetap waspada. Cara yang paling baik adalah bertanding dengan diri sendiri, terus menerus mengusahakan untuk mengalahkan record kita sendiri.
6. Temukan cara untuk bekerjasama dengan pesaing jika memungkinkan, sehingga mendapatkan benefit (misalkan: membeli material dari sumber yang sama, sehingga mendapatkan harga yang lebih rendah karena kuantitas pembelian bersama yang lebih besar dibanding sendiri-sendiri).
Menarik bukan? Bersaing...Siapa takut?
Emailkan pendapat Anda untuk memperkaya bahasan ini ke ruaniwati@baracoaching.com

Salam The Next Level!

Senin, 23 Februari 2015

KAPAN ANDA MEREKRUT KARYAWAN? - By: Coach Suwito

“Ada berapa kandidat?”
“Dua orang.”
“Ya sudah, rekrut aja dua-duanya.”
“Bapak tidak menginterview dulu?”
“Ndak usah. Besok mereka langsung suruh kerja aja.”
Itu cuplikan pembicaraan sang Boss dengan Staf-nya. Kita tentu bisa menduga-duga situasi yang terjadi, yaitu sang Boss sedang kepepet dan amat butuh pegawai. Dan saking kepepetnya, sang Boss sampai-sampai mengabaikan interview.
Padahal interview merupakan salah satu tahapan penting dalam proses rekrutmen. Melalui interview kita bisa mengungkap karakter seseorang, termasuk kebiasaan-kebiasaan buruk yang seringkali ditutupi oleh kandidat.
Selain interview, kita juga perlu melakukan serangkaian tes untuk membuktikan karakter dan bakat-minat sesungguhnya. Ini akan berguna untuk merencanakan tahapan pelatihan yang dibutuhkan untuk pengembangan si kandidat.
Tahapan lain yang juga perlu dilakukan ialah pemeriksaan rekomendasi. Bila kita menyempatkan diri untuk menghubungi pemberi rekomendasi, maka akan lebih banyak fakta yang bisa terungkap. Siapa tahu ada fakta-fakta positif yang bisa membuat si kandidat menghasilkan top performance?
Ah, andai sang Boss tidak kepepet waktu, maka proses rekrutmen bisa dijalani dengan lebih baik. Jadi, sebaiknya lakukan saja rekrutmen terus-menerus, tidak perlu menunggu kepepet. Siapa tahu, kita justru menemukan kandidat-kandidat yang lebih baik dibandingkan karyawan yang ada saat ini.
Bagaimana pendapat Anda? Semoga tulisan di atas bisa membuka wacana dan inspirasi dalam bisnis Anda.
Have a Nice Monday...and... Salam The NEXT Level!

Sabtu, 21 Februari 2015

INI DIA SALAH KAPRAH YANG BISA HANCURKAN BISNIS KELUARGA

Sebuah penelitian mengungkap, dari keseluruhan perusahaan yang dimiliki keluarga, sebesar 95% gagal melewati tiga generasi. Itu kenapa sampai muncul idiom: “generasi pertama yang mendirikan, generasi kedua yang membangun, dan generasi ketiga yang merusak”.
Pernyataan ini seolah bilang, generasi penerus dalam bisnis keluarga sangat sulit untuk mengulang kejayaan atau kesuksesan generasi sebelumnya. Benarkah seperti itu? Lalu apa saja suka duka meneruskan bisnis keluarga? Kesalahan apa yang sering dibuat, sehingga bisnis keluarga sulit bertahan sampai beberapa generasi?
BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) mengulas semua problem ini dalam seminar bertajuk “Salah Kaprah dalam Pengelolaan Bisnis Keluarga”, Sabtu (07/02/15) dan “Suka Duka Meneruskan Bisnis Keluarga”, Kamis (12/02/15) lalu.
Seminar yang ditujukan khusus para pemilik bisnis ini salah satunya membicarakan tentang problem utama yang sering terjadi dalam menjalankan bisnis keluarga. Tidak jarang kemudian bisnis keluarga sulit berkembang, bahkan menjadi pemicu keretakan dalam rumah tangga.
Coach Humphrey Rusli, selaku pembicara seminar bertutur, selama ini banyak pengusaha dalam bisnis keluarga yang banyak melakukan kesalahan, yang mereka anggap benar atau memang sudah seharusnya begitu. Istilahnya salah kaprah. Salah kaprah yang umumnya terjadi, pertama berhubungan dengan status.
“Semua anggota keluarga apakah paham bahwa mereka dilibatkan bukan untuk membangun karir, tapi untuk membangun aset, sesuatu yang bisa diwariskan,” tutur Coach Humphrey.
Banyak pebisnis keluarga beranggapan, terlepas dari mumpuni atau tidak, anak atau anggota keluarga memang harus diberi jabatan tinggi, harus diberi kekuasaan lebih. Padahal, yang seharusnya diwariskan bukan jabatannya, namun aset perusahaan. Jadi tidak masalah meskipun mereka memulai dari jabatan rendah sekalipun.
Salah kaprah kedua adalah berhubungan dengan fungsi. Sebagian besar perusahaan keluarga masih belum bisa membedakan fungsi antara seorang manager dan leader.
“Selama ini, kebanyakan perusahaan keluarga masih mencampur adukkan fungsi manager dan leader. Padahal, tugas keduanya benar-benar berbeda. Seorang leader diantaranya bertugas menetapkan visi-misi perusahaan, memotivasi dan menginspirasi bawahannya. Sedangkan manager bertugas untuk memimpin organisasi, serta mengontrol dan memecahkan masalah yang terjadi pada perusahaan,” papar COO BARACoaching Surabaya ini.
 Lebih lanjut, pelatih bisnis dunia yang berkali-kali memenangkan ajang ‘coach’ bergengsi ini menambahkan, calon penerus sebaiknya dipersiapkan dengan jadi seorang manager terlebih dulu sebelum diarahkan jadi leader.
Salah kaprah lain yang ditengarai sebagai penghambat bisnis keluarga adalah poin competency or descendant. Reward seharusnya diberikan berdasarkan kompetensi dalam menjalankan pekerjaan. Namun, yang terjadi sebaliknya. Kompetensi tidak lagi dianggap sebagai parameter. Pemberian reward dalam family business seringkali diberikan karena pertimbangan ‘dia’ sebagai keturunan kita.
Seminar yang diadakan di Office BARACoaching ini, selain teori, juga lebih banyak diisi dengan diskusi aktif coach Humphrey dan peserta.
“Kami berharap, setelah pulang dari acara ini, para peserta mengerti bahasan mana yang krusial untuk dibicarakan dengan anggota keluarga terkait permasalahan bisnis keluarga. Selain itu juga paham perbedaan dari masing-masing pokok pikiran, mana yang benar membangun aset, atau hanya membangun karir,” jelas coach Humphrey di akhir acara.