business-forum

coaches

More Video! Visit : BARACoaching Channel on Youtube

Rabu, 05 Maret 2014

BOOK CLUB - KECERDASAN FINANSIAL : ILMU KEKAYAAN YANG TIDAK DIAJARKAN DI SEKOLAH DAN KAMPUS



Jum’at (21/02/14), BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java – Bali) mengadakan acara Book Club. Acara yang rutin diadakan setiap bulan itu, hadir dengan membedah buku “8 Intisari Kecerdasan Finansial” yang ditulis William Tanuwidjaja.
Kecerdasan Finansial merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali, menciptakan, dan mengelola sumber daya (resources) potensial menjadi kekayaan riil.
“Perlunya mempelajari kecerdasan finansial supaya kita bisa menjadikan hidup lebih optimal. Mengubah mindset kita tentang uang. Dengan cara berpikir tepat, kita bisa mendayagunakan uang dengan optimal,” tegas Ruaniwati, selaku pembicara dalam acara ini.
Kecerdasan finansial bisa dipelajari, diasah, disempurnakan, dan dipertajam. Tergantung pada diri kita, karena jika tidak diasah akan usang. Kita bisa belajar mengasah kecerdasan finansial dari beberapa hal. Pertama, belajar dari dunia nyata dengan menggunakan pola trial and error. Belajar dari mentor, ahli, dan belajar dari buku. Dewasa ini, buku-buku yang membahas tentang pendidikan dan bagaimana mengelola aset sebagai sumber uang, sudah mulai men’jamur’.
“Yang lebih penting adalah action. Tapi sebelum itu, kita harus paham intisari kecerdasan finansial untuk menuju kebebasan finansial (passive income),” kata wanita yang akrab dipanggil bu Ruani ini.
Dalam bukunya, William menyebut 8 intisari kecerdasan untuk menuju passive income. Pertama, memilah tujuan produktif dan konsumtif. Kegiatan produktif merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan. Misal membeli rumah atau bangunan, yang kemudian disewakan atau dijadikan apartemen. Bisa juga dalam bentuk membeli perusahaan atau emas, yang ke depannya benda tersebut bisa mendatangkan penghasilan buat kita.
Sebaliknya, contoh kegiatan konsumtif misalnya dengan membeli makanan, baju, mobil dan barang-barang bersifat consumable, yang nantinya setelah digunakan atau dipakai akan habis nilainya.
“Seorang business owner harus bisa memilah tujuan produktif dan konsumtif, dan tahu persis artinya buat bisnisnya,” tambah bu Ruani.
Kedua, membedakan aset dan liabilitas. Contohnya kita membeli rumah. Rumah itu hanya jadi liabilitas (beban usaha) jika kita tidak memfungsikannya. Namun, berubah menjadi aset jika rumah tersebut kita sewakan atau jadikan tempat usaha.
Selanjutnya, memahami aliran uang. Poin ini tergantung mindset kita, bagaimana membuat kita untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
Keempat, carilah ‘emas’ yang tersembunyi. Dalam artian, mencari sesuatu yang berharga di bisnis kita, yang nantinya bisa dikelola, dikembangkan, dan menghasilkan profit buat kita.
Poin berikutnya, memiliki daya ungkit. Daya ungkit adalah sesuatu yang membuat aset kita semakin lama semakin berlipat ganda.
Kemudian biarkan uang yang bekerja, pahami tanda-tanda makro ekonomi dan ciptakan aset yang tidak bisa hilang atau ‘dirampok’ orang. Poin terakhir lebih berhubungan dengan soft skill.
Di akhir acara, wanita yang juga CEO Dash & Associates ini mengungkapkan,“Saya harap peserta bukan hanya mengerti kecerdasan finansial saja, tapi bisa mengubah mindset untuk menjadikan hidup lebih optimal. Jadi bukan mencari uang untuk kebutuhan konsumtif semata, namun juga bagaimana bermanfaat untuk orang lain.”

CEO PowerLunch - BAHAYA ‘LATEN’ YANG MENGHANCURKAN BISNIS


Berbicara tentang kesehatan bisnis, ternyata sama dengan kesehatan fisik kita. Ada beberapa fase atau tahapan dimana satu ‘penyakit’ tidak terdeteksi, dan jika dibiarkan akan sulit disembuhkan, bahkan bisa membawa pada kondisi mematikan. Begitupun dengan bisnis. Ada indikasi tak terlihat, yang lama-kelamaan bisa menghancurkan usaha.
Hal inilah yang dipaparkan dalam Forum CEO PowerLunch bertema “How the Mighty Falls”, Rabu (19/02) lalu. Acara rutin yang diadakan oleh BARACoaching (ActionCOACH East Java-Bali) ini merupakan ajang para CEO untuk bersilaturahmi dan berdiskusi terkait masalah bisnis terkini. Humphrey Rusli, selaku COO (Chief Operating Officer) BARACoaching sekaligus pembicara utama menjelaskan tentang 5 stadium beserta gejala yang perlu diwaspadai, karena bisa menghancurkan bisnis.
“Diantara tahapan penyakit, maka stadium awal tentunya mudah disembuhkan, namun lebih sulit dideteksi. Sebaliknya bila seseorang sudah masuk dalam stadium empat, maka sakitnya akan mudah dideteksi, tapi sudah sulit disembuhkan. Sama juga dengan yang terjadi pada bisnis. Ada beberapa gejala perlu diwaspadai, karena bila dibiarkan akan membawa dampak fatal, bahkan membuat perusahaan jatuh,” tutur coach Humphrey di acara yang berlangsung di hotel Shangrila Surabaya ini.
Lebih jauh, coach Humphrey menyebut 5 fase yang bisa menjatuhkan perusahaan besar. Stadium satu yaitu bangga dengan kesuksesan dan merasa sukses adalah kewajaran.
“Pada fase ini, pemimpin bisnis punya pandangan bahwa sukses yang diraih sebelumnya, bisa otomatis diulang dengan mudah. Dia melupakan konteks sukses yang diraihnya. Jadi tidak lagi fokus dengan pemikiran atau strategi bagaimana untuk meraih puncak bisnis, yang diingat hanya suksesnya semata. Diantara beberapa tanda, biasanya yang paling terlihat yaitu tidak pernah melakukan evaluasi kerja, tidak melakukan update karena berkiblat ke cara yang lama dan menganggap cukup banyak tahu, serta jumlah konsumen yang tidak bertambah, karena hanya memaintain konsumen lama,” papar pria kelahiran Surabaya ini panjang lebar.
Fase selanjutnya adalah mengembangkan usaha atau ekspansi, dengan asumsi strategi yang sama bisa dijalankan untuk bidang usaha lain. Pertumbuhan bisnis menjadi cepat tanpa tahu konteks. Biasanya pemimpin bisnis akan mempertaruhkan segalanya untuk satu produk. Dan pada saat mengalami masalah, maka dia akan menyalahkan faktor luar, daripada melakukan introspeksi diri.
Stadium ketiga ditandai dengan sikap menyangkal atau menutup dari kesalahan diri sendiri (self denial). Di fase ini, pemimpin bisnis tidak mau introspeksi diri dan cenderung menyalahkan faktor luar untuk menutupi realita buruk pada bisnisnya.
“Selain menutup diri terhadap kritik dan realita buruk, pemimpin bisnis di stadium tiga juga semakin sedikit membuka kesempatan timnya berdebat. Jadi sifatnya one way instruction. Timnya juga begitu, menyetujui di depan, tapi di belakang tidak sepakat dan tidak menjalankan apa yang sudah disepakati dengan pemimpin,” jelas coach Humphrey.
Pada stadium berikutnya, dengan keadaan financial yang sudah memburuk, pemimpin bisnis biasanya mengandalkan akuisisi atau gebrakan marketing yang bisa menyelamatkan bisnisnya.
“Disini pemimpin perusahaan mulai dilematis, melakukan perubahan yang radikal atau minta bantuan pihak luar untuk menyelamatkan usahanya. Jika harus merekrut pemimpin lagi, maka calon leader baru cenderung mengabaikan culture perusahaan, karena hanya fokus untuk menyembuhkan bisnisnya.”
Jika stadium ini tidak bisa diperbaiki, maka tahap berikutnya semua sumber dan harapan akan ‘mati’.
All resources are depleted, all hopes are gone. No more cash. Yang ada selanjutnya, pemimpin akan menjual semua aset perusahaan atau membiarkannya mati sendiri,” kata coach Humphrey.
Di akhir acara, coach Humphrey menambahkan, dia berharap dengan mengikuti acara ini, peserta yang hadir (para CEO) sadar akan bahaya laten, bahkan yang sudah ada atau mulai dirasakan di perusahaan mereka, agar tidak sampai dibiarkan dan membawa kehancuran bisnis.

Pendapat para CEO :
1.       Jeffry Jono Sugiharto – CV. Talenta Indah Cemerlang
Banyak manfaat yang saya dapatkan dengan mengikuti forum ini. Selain bisa networking dengan sesama pemilik bisnis,  saya juga belajar bagaimana memanage bisnis lebih baik dan bisa grow. Saya seperti diingatkan, bahwa ada fase-fase yang kelihatannya sepele, tidak kita sadari, dan bahkan cenderung kita abaikan, ternyata jika dibiarkan akan fatal dan menjadikan bisnis kita ‘kronis’.
2.       Sam Sebastian – House of David
Buat saya, perlu untuk mengetahui tanda-tanda yang bisa membuat perusahaan jatuh, agar bisa mengantisipasi dan melakukan perbaikan.
Pada forum ini diberikan beberapa contoh, bagaimana perusahaan-perusahaan yang sudah begitu besar akhirnya jatuh. Namun ada juga yang sudah memburuk, kemudian berhasil fight dan mengulang kesuksesannya. Hal ini begitu inspiratif dan bermanfaat buat saya.


BAGI ANDA (PEMIMPIN ATAU PEMILIK BISNIS) YANG BELUM SEMPAT MENGIKUTI FORUM DI ATAS, SILAHKAN KIRIM ALAMAT EMAIL & NO. HP PADA COMMENT BOX, UNTUK MENDAPATKAN PENJELASAN RINGKAS MATERI “HOW THE MIGHTY FALLS” DARI BUSINESS COACH KAMI.
FREE OF CHARGE !

Sharing Bisnis Bersama Rotary Club Surabaja - PERAN COACHING SEBAGAI FITNESS CENTER


Mana yang biasanya akan lebih diutamakan oleh pemilik bisnis, mempunyai sumber daya manusia (tim) yang mumpuni, atau strategi marketing yang bagus? Lalu mana yang lebih penting, teknikal kompetensi atau bisnis kompetensi?
Dua hal itulah yang dibahas dalam sharing bisnis dengan anggota Rotary Club Surabaja, Kamis (27/02) kemarin. Menghadirkan Humphrey Rusli, sebagai pembicara, acara yang bertempat di hotel J.W Marriot Surabaya ini diikuti oleh sekitar 15 anggota Rotary Club Surabaja. Coach Humphrey memaparkan, bahwa dewasa ini sebagian pemilik bisnis hanya fokus pada teknikal kompetensi saja.
“Saat ini problem pemilik bisnis lebih banyak dikarenakan karena mereka fokus pada teknikal kompetensi saja. Padahal, teknikal kompetensi harus seimbang dengan bisnis kompetensi. Begitupun dengan strategi marketing. Yang diutamakan adalah menyiapkan sumber daya manusianya dulu. Percuma saja jika sistem atau strateginya bagus, tapi orangnya tidak mendukung,” papar pria yang pernah menjadi top number one International Business Coach ini.
Lebih lanjut, dijelaskan tentang perlunya pemilik bisnis memiliki pelatih bisnis (coach). Seorang coach akan membantu mengembangkan bisnis ke level lebih tinggi, karena perannya bukan sebagai seorang dokter yang hanya dibutuhkan ketika bisnis sedang sakit. Istilah tepatnya, business coaching sebagai program fitness center yang akan meningkatkan ‘stamina’ bisnis ke level lebih tinggi.
“Ada 4 area yang dibedah dalam coaching sebuah bisnis. Keempat area itu adalah sales, operational, Human Resource Development (HRD) dan area finance,” kata coach Humphrey.
Sri Wulandari, salah satu anggota Rotary Club Surabaya berujar, sharing yang dilakukan coach Humphrey sangat bermanfaat buat mereka.
“Meskipun hanya sebentar, namun apa yang disampaikan oleh coach Humphrey sangat bermanfaat buat kami, khususnya terkait dengan pengembangan bisnis ke depan,” tutur wanita berkacamata ini. 

Jumat, 21 Februari 2014

Business Mastery - RAHASIA AKTIVITAS PAGI ORANG-ORANG SUKSES


Untuk menjadi sukses dalam bisnis, ternyata bukan hanya skill yang perlu ditingkatkan. Seorang pemilik bisnis juga dituntut bisa mengatur waktu yang terbatas, agar tetap memaksimalkan produktivitas. Baik saat kerja maupun di luar jam itu, termasuk waktu pagi hari. Acara Business Mastery Forum yang diadakan oleh BARACoaching (ActionCOACH East Java & Bali), mengupas tentang apa saja yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang telah sukses, di pagi hari. Bertempat di Office BARACoaching, event yang dihadiri oleh owner bisnis ini menghadirkan Suwito Sumargo, pembicara sekaligus pemilik GBT Laras Imbang.
“Tema acara ini terinspirasi dari buku Laura Vanderkam, “What the Most Successful People Do”. Meskipun ini bukan acara bedah buku, namun saya sengaja mengambil inti sari dan membagikan poin-poin penting buku Laura, yang memotret kesibukan luar biasa para pemilik bisnis. Diharapkan peserta nantinya bisa mengatur waktu agar lebih produktif dan mendapatkan hasil yang efektif, untuk kesuksesan mereka,” papar coach Suwito di tengah acara yang berlangsung, Jum’at (07/02) kemarin.
Dalam bukunya, penulis Laura Vanderkam menyebutkan sebagian besar aktivitas yang sering dilakukan oleh kebanyakan orang yang telah sukses tersebut. Semua didasarkan pada penelitian ilmiah, yang dipadukan cerita para CEO dan pelaku bisnis sukses, tentang apa saja yang mereka lakukan di pagi hari sebelum kerja.
Beberapa aktivitas itu diantaranya melakukan olahraga (exercise), meluangkan waktu dengan pasangan dan keluarga seperti sarapan bersama sampai menemani si kecil bermain. Ada juga yang memulai aktivitas pagi dengan network, chatting, cek email dan membaca berita. Hal ini dilakukan agar pada waktu siang, mereka bisa fokus ke pekerjaan mereka.
Lebih lanjut, Laura menyebutkan, sebanyak 10,65% orang sukses juga melakukan meditasi di pagi hari.
“Pada umumnya, kebanyakan orang melakukan meditasi pada malam hari, di saat suasana sepi. Namun saat pagi hari, meditasi juga bisa dilakukan. Bayangkan, kita akan mendapatkan suasana yang berbeda, udara yang lebih segar dengan kicauan burung yang tidak kita dapatkan di malam hari. Dan itu akan membuat kita lebih tenang dan rileks,” tutur coach Suwito.
Bagi mereka dengan kesibukan luar biasa, waktu pagi menjadi awal untuk mengatur apa saja yang menjadi prioritas bisnis di hari itu. Ada juga yang mengerjakan ‘proyek’ pribadi (a personal passion project), dalam artian apa yang menjadi impian pribadi, di luar pekerjaan mereka.
Lalu apa saja yang mesti dilakukan agar kegiatan pagi menjadi lebih produktif? Pertama, mengatur jadwal tentang apa saja yang akan kita lakukan untuk mengisi ‘pagi produktif’ kita. Membayangkan pagi yang sempurna (picture the perfect morning), supaya kita punya gairah atau semangat untuk bangun lebih awal.
“Yang paling susah adalah membangun kebiasaan atau build the habit. Kita perlu mengawali dengan tidur lebih awal sehingga kita juga akan bangun lebih pagi dari biasanya (waking up super early). Tumbuhkan kemauan untuk menambah output dan membuat pagi kita lebih produktif,” tegas coach Suwito di akhir acara.

SHARING BISNIS BERSAMA ROTARY CLUB SURABAYA DARMO


BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java & Bali) mengadakan kerjasama dengan Rotary Club Surabaya Darmo, Senin (10/02) kemarin. Acara yang dihadiri oleh kurang lebih 20 pelaku bisnis anggota ROTARY ini, menghadirkan Humphrey Rusli, selaku COO BARACoaching Surabaya sebagai pembicara.
Bertempat di Hotel J.W Marriot Surabaya, acara ini juga merupakan meeting rutin anggota ROTARY Club Surabaya Darmo yang bersifat mingguan. Selain sharing dengan peserta terkait problem bisnis terkini, coach Humphrey memperkenalkan ActionCOACH sebagai lembaga pengembangan bisnis yang fungsinya disamakan dengan fitness center.
“ActionCOACH bukan dokter bisnis. Tujuan kita bukan mengobati bisnis yang sedang sakit. Jika ada yang seperti itu, maka saya sarankan untuk menghire konsultan. Kita bisa dikatakan sebagai fitness center. Jadi bagaimana menjaga agar bisnis tetap sehat sampai menuju kesuksesan,” papar pemenang Associate Coach of The Year 2012 dan 2013 ini.
Lebih jauh, Soeharto, selaku adviser Rotary Club Surabaya Darmo berharap, melalui acara ini ActionCOACH bisa memberikan tips sekaligus strategi bisnis yang berhubungan dengan kondisi saat ini. 

Kamis, 06 Februari 2014

CEO PowerLunch - MITOS-MITOS KELIRU YANG BISA MEMBUNUH BISNIS BESAR

Menjalankan roda perusahaan besar memang tidaklah mudah. Apalagi di era hyper competition dewasa ini. Pemimpin visioner dan produk yang berkualitas, bukanlah jaminan utama untuk menjadi perusahaan raksasa. Lalu apa saja yang harus diperhatikan agar perusahaan besar bisa terus tumbuh dan berkembang, bukan malah kembali ke posisi awal?
BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) mengupas hal tersebut dalam acara CEO PowerLunch bertajuk “How the Big Stay Big”, Rabu (15/01) kemarin. Forum bulanan yang diadakan di Kalimantan Room, Shangrilla Hotel Surabaya ini dihadiri oleh para CEO dari wilayah Surabaya dan sekitarnya.
”Jim Collins dalam risetnya berkata, bahwa perusahaan besar yang tumbuh menjadi raksasa bukan disebabkan karena adanya pemimpin visioner yang hanya fokus pada profit saja. Lebih jauh, dia harus punya idealisme atau prinsip kuat, dan itu bukan profit. Profit hanya menjadi salah satu sasaran antara, bukan yang utama,” jelas Humphrey Rusli selaku Chief Operating Officer (COO) BARACoaching Surabaya sekaligus pembicara dalam acara ini.
Coach Humphrey menyebutkan, ada 11 mitos yang harus dihindari karena dapat membunuh pertumbuhan bisnis. Beberapa diantaranya adanya pendapat bahwa untuk menjadi perusahaan besar, harus punya pemimpin yang karismatik dan visioner. Padahal, faktanya pemimpin-pemimpin besar justru bekerja di balik layar dan fokus pada pembentukan rencana jangka panjang juga mengembangkan tim untuk menjalankannya.
Mitos selanjutnya hanya fokus ke profit. Fakta berbicara, perusahaan akan tumbuh jika pemimpin tidak hanya memikirkan profit, tapi dia juga punya pandangan (prinsip) hidup yang kuat. Profit hanya menjadi salah satu sasaran antara, bukan yang utama.
“Selain itu ada juga pendapat atau mitos yang menyebutkan, diperlukan planning yang rumit dan canggih untuk mencapai puncak bisnis. Pada kenyataannya, untuk menjadi besar diperlukan eksperimen, trial and error, dan terkadang keberanian untuk berbuat salah. Karena tanpa itu semua tidak akan ada yang namanya belajar dan berkembang,” tegas international business coach kelahiran Surabaya ini.
 Kesalahan lain yang sering dilakukan oleh para pemilik bisnis adalah merekruit orang-orang siap pakai (berpengalaman), agar perusahaanya menjadi besar. Pendapat itu pun sebuah mitos, karena lebih baik menerima orang yang tidak seberapa berpengalaman, untuk dididik menjadi lebih baik dari bawah (home grown) dengan lingkungan yang kondusif.
“Sebenarnya inti dari forum How the Big Stay Big adalah mengingatkan esensi dari perusahaan yang bisa berkembang menjadi raksasa, untuk kemudian belajar menerapkan esensi itu. Selain itu mengeliminasi cara pandang yang salah dan tidak mensupport tujuan perusahaan jangka panjang.”
 Meski begitu, tambah coach Humphrey, tidak mudah untuk menjalankannya. Diperlukan tenaga, waktu, dan effort yang besar. Sebagian besar pebisnis pun masih beranggapan, kualitas superior sebuah produk adalah yang utama, tanpa sadar hal paling penting adalah konsistensi kualitas dan disiplin mendeliver janji, untuk kontinuitas cashflow.
 “CEO diidentikkan sebagai sosok yang sangat sibuk dan tidak punya waktu, sehingga seringkali lupa untuk membuka wawasan dan networking dengan pebisnis lain. Acara CEO PowerLunch ini didesain untuk itu semua. Karena di sini mereka bisa mendapatkan network berkualitas dengan lingkungan belajar yang kondusif,” tutup coach Humphrey di akhir acara.

Pendapat para CEO :
1.       Nirwan Sumargo – GBT Laras Imbang
Sebagai dokter, buat saya tetap penting mengikuti forum bisnis seperti CEO PowerLunch. Banyak hal yang bisa diambil di sini. Saya banyak mendapatkan ilmu bisnis yang belum pernah saya peroleh secara akademik. Lebih jauh juga membuka wawasan saya, terutama dari segi peningkatan pelayanan kualitas kesehatan, sehingga tahu kepuasan konsumen (pasien).
Bagi saya, agar tetap bertahan, pelaku bisnis harus punya visi yang jelas, karena dengan bekal itulah dia akan menjalankan dengan sungguh-sungguh untuk mencapai goal yang ingin dicapai. Kedua, harus punya empati, baik terhadap tim, orang lain, maupun dengan sesama pebisnis untuk maju bersama.
Terakhir, harus punya kemampuan untuk mengevaluasi. Misal, dalam keseharian saya menjalankan praktek, saya terbiasa menanyakan kepada pasien, seperti mengapa mereka memakai jasa saya? Apa pelayanan yang diberikan sudah sesuai dengan keinginan mereka?
Itu semua membantu saya untuk mengevaluasi dan menempatkan diri, serta menilai sampai sejauh manakah saya.

2.       Daniel P. Tengker – House of David
Menurut pendapat saya, untuk tetap menjadi besar, maka seorang pelaku bisnis harus punya impian yang besar juga. Contohnya, Akio Morita, pendiri perusahaan raksasa Sony, yang mengwali bisnisnya dengan membuat barang-barang elektronik yang mudah rusak. Waktu itu, dia hanya punya impian besar untuk membuat nama Jepang harum di mata dunia.
Selanjutnya jangan hanya mengejar profit. Kita harus punya satu arahan yang akhirnya bisa memotivasi dan menjadi jiwa untuk perusahaan. Kalau kita hanya fokus pada profit, bisa terkalahkan oleh mereka yang punya impian besar.
CEO PowerLunch “How the Big Stay Big” memberikan pemahaman pada saya, bahwa ada banyak hal atau titik yang mesti dipelajari dan dibenahi, karena perusahaan besar atau raksasa juga bisa jatuh.
Selain itu, lebih membuka pemikiran kita tentang apa yang bisa membuat tetap fun untuk terus bekerja (berbisnis), yang itu bukan melulu karena uang. Secara networking, juga banyak memberikan inside, karena bisa bertemu dengan sesama owner bisnis, tahu cara atau pola pikir mereka, dan yang lebih penting bisa sharing dengan mereka.


BAGI ANDA (PEMIMPIN ATAU PEMILIK BISNIS) YANG BELUM SEMPAT MENGIKUTI FORUM DI ATAS, SILAHKAN KIRIM ALAMAT EMAIL & NO. HP PADA COMMENT BOX, UNTUK MENDAPATKAN PENJELASAN RINGKAS MATERI “HOW THE BIG STAY BIG” DARI BUSINESS COACH KAMI.
FREE OF CHARGE !

Rabu, 29 Januari 2014

Workshop Telemarketing Oke : MULAI DARI TEORI SAMPAI ROLE PLAY LANGSUNG

     Dalam dunia bisnis, istilah telemarketing sudah tidak asing lagi. Seorang telemarketer mempunyai peran penting dan bertanggung jawab atas aktivitas marketing perusahaan. Sayangnya, sebagian besar tidak memiliki skill yang mumpuni untuk melakukan pemasaran lewat telepon.
     Berdasarkan inilah, BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java & Bali) mengadakan workshop full day bertajuk “Telemarketing OKE”. Acara yang diadakan setiap minggu ini, ditujukan untuk karyawan maupun business owner. Erfina Hakim, selaku pembicara dan Business Development Manager (BDM) BARACoaching memaparkan, selama ini ternyata banyak business owner yang salah menempatkan personal untuk bertanggung jawab sebagai telemarketer.
     “Telepon adalah sarana marketing yang paling efektif dan sangat bisa dihandalkan. Namun faktanya, banyak business owner yang salah menempatkan personal untuk bertanggung jawab melakukan komunikasi pemasaran by phone. Yang terjadi media telefon menjadi kurang efektif untuk mencetak penjualan,” jelas wanita yang hobi berkebun ini.
     Banyak hal yang didapat peserta dalam workshop sehari ini. Diantaranya bagaimana meraih kesan pertama untuk mendapatkan kesempatan berikutnya, menentukan waktu efektif telemarketing, relevansi tujuan telepon dan adaptasi peluangnya, teknik mengunci prospek, serta bekal emosional yang harus dimilki oleh seorang telemarketer. Selain itu, para peserta juga diajak untuk membuat skrip serta role play secara langsung.
     “Bekal telemarketer itu tidak cukup hanya pemilihan kata yang sesuai dan menarik saja. Syarat utama keberhasilan telemarketing adalah percaya diri. Dan poin lain yang paling penting adalah feeling good, ketika akan menelfon dia merasa senang, tidak tertekan, dan punya target untuk closing,” papar Fina.
     Menurut wanita yang sudah berpengalaman lebih dari 10 tahun di bidang marketing ini, dunia telemarketing itu sangat menarik, karena bisa melakukan closing penjualan dengan worksmart, bukan workhard.
     “Nah, dengan acara ini saya harap semakin meningkatkan kinerja dan kemampuan telemarketer memanfaatkan media telepon untuk mencetak penjualan,” tegasnya di akhir acara.