business-forum

coaches

More Video! Visit : BARACoaching Channel on Youtube

Rabu, 15 Juli 2015

LEBARAN: PANEN ATAU UJIAN? - Coach Suwito Sumargo**

Moment lebaran, sangat ditunggu oleh banyak orang. Saya menyukai masa menjelang lebaran, bukan karena ritualnya atau hebohnya. Tapi saya menyukainya karena saya bisa menguji dan berusaha memecahkan rekor.
Ya rekor. Salah satunya ialah berapa banyak mobil yang bisa kami layani. Itu tergantung dari kapasitas bengkel. Dan kapasitas bengkel tergantung pada kecepatan kerja teknisi kami. Atau seberapa pendek prosedur kerja yang harus dijalani. Tapi, yang lebih penting lagi adalah seberapa banyak orang yang datang memperbaiki mobilnya.
Momentum lebaran memang terjadi secara teratur. Penggeraknya adalah tradisi (mudik) masyarakat kita. Akhir-akhir ini, mereka bukan cuma mudik untuk berkangen-kangenan, tapi juga ber-wisata.
Dalam waktu sekejap, warung, depot dan restoran di daerah menjadi ramai. Volume pengunjung meningkat, kadang bahkan bisa mencapai 3x lipat. Dapur kewalahan, bahan baku tak mencukupi, kualitas layanan merosot, daya tampung tak muat, dan lain-lain. Banyak pengusaha yang tak cukup siap menampung luberan pengunjung.
Meski tidak terjadi secara rutin, masa lebaran seperti sekarang sangat baik untuk menguji kesiapan kita. Kemampuan dan kapasitas dalam melayani ledakan atau luberan pengunjung menunjukkan seberapa hebatnya kita.
Dimasa seperti ini, tidak boleh terjadi kekurangan bahan baku. Kita harus sudah bisa meramalkan sebelumnya, sehingga bisa menyiapkan bahan baku berlebih. Jangan sampai kehabisan sebelum masa lebaran berakhir.
Masa lebaran sangat cocok untuk menguji: seberapa hebat kita di tahap mastery. Misalnya, seberapa konsisten prosedur layanan kita, sehingga mampu menjaga mutu. Tak jarang, di saat seperti sekarang ini, saya makan malam di sebuah resto langganan dan mendapati rasa yang berbeda atau ikan yang kurang matang, dan lain sebagainya. Yang sering terjadi, ketika saya memesan menu favorit, mereka bilang: habis. Tentu saja saya kecewa.
Bila Anda pengusaha, berusahalah untuk menjaga konsistensi mutu dan layanan, terutama di saat padat seperti sekarang. Bagaimana pengalaman Anda di libur Lebaran ini?


** Coach Suwito Sumargo: The Winner Supportive Coach Award & System Award 2014 (Business Excellence Forum Award 2014)

Senin, 13 Juli 2015

MOMENTUM HARI RAYA - Coach Suwito Sumargo**

Rasanya, Hari Raya Idul Fitri baru saja berlalu. Ternyata beberapa hari lagi kita akan merayakannya lagi. Disaat menjelang hari raya seperti ini, saya selalu teringat, betapa sibuknya suasana di bengkel. Ya, ini memang saat-saat paling padat pengunjung. Sudah 30 tahun berturut-turut, berlangsung seperti ini.
Ini saat yang paling ditunggu oleh setiap pengusaha: masa panen, begitu saya menyebutnya. Salah satu yang paling menarik adalah: persiapan pra panen. Saya tidak ingin menjalani hari-hari padat ini dengan alat atau mesin yang rusak. Salah satu persiapan yang saya lakukan ialah meng-overhaul (membongkar) kompresor dan merapikannya kembali agar siap bekerja ekstra keras di saat hari padat pengunjung. Kenapa kompresor? Ya karena itu salah satu alat vital. Selain meng-overhaul kompresor utama, saya juga menyiapkan kompresor cadangan.
Setahu saya, beberapa toko atau grosir pakaian muslim (misal: sarung) juga sudah menyiapkan stok untuk mendulang panen di hari raya. Karena para pembeli sudah mulai membanjiri toko-toko sejak H-10 atau H-14, maka para distributor harus sudah menyiapkan sebelumnya. Pabrik-pabrik sarung bahkan sudah mulai bekerja keras 1-2 bulan sebelumnya.
Momentum serupa juga terjadi di pabrik makanan kaleng dan biskuit. Persewaan mobil juga sudah menyiapkan mobil-mobilnya, karena kebutuhan akan transportasi meningkat drastis.
Inilah momentum. Bagi pengusaha, momentum ini sama dengan rejeki tumpah dari langit. Dan setiap pengusaha harus mempersiapkan diri, mendulang panen. Jangan sampai terlewat dengan sia-sia. Apakah Anda juga mengalaminya? Ceritakan persiapan Anda dalam menyambut momentum hari raya kali ini.


** Coach Suwito Sumargo: The Winner Supportive Coach Award & System Award 2014 (Business Excellence Forum Award 2014)

Kamis, 02 Juli 2015

“SELFI” DAN PELANGGAN - By: Coach Ruaniwati**

Satu hari Minggu, waktu makan siang di salah satu mall di Surabaya saya mengamati sekeluarga, terdiri dari Bapak, Ibu dan 2 anak usia remaja. Yang menarik adalah perilaku Ibunya.
Sejak duduk di restoran sampai makanan datang, si Ibu sibuk "sefie" dan share fotonya, lebih heboh dari anak-anak-nya yang usia remaja :)
Apakah Anda pernah menjumpai hal seperti ini? Mengapa seorang Ibu yang notabene tidak muda lagi bisa berperilaku layaknya "ABG"?
Saya kemudian menyadari satu hal, bahwa setiap orang memerlukan pujian dan penghargaan dari orang lain. Dengan men-share-kan hasil "selfie", sadar atau tidak, seseorang sedang mengharapkan perhatian orang lain.
Apakah pelanggan kita juga mengharapkan perhatian dan pujian? Tentu saja! Memang level kebutuhannya sama untuk setiap orang, tetapi dengan memberikan hal ini kepada pelanggan, Anda mempunyai jalan masuk untuk mengenali dan berelasi dengan pelanggan.
Bagaimana caranya?
Temukan hal-hal sederhana yang menjadi kebutuhan pelanggan, misalnya hubungi mereka, tanyakan apa yang dapat kita lakukan untuk mempermudah mereka.
Sekali-sekali tanyakan hobi mereka. Temukan cara-cara unik untuk memuji atau menghargai prestasi mereka. Bukan hanya di pekerjaan, tetapi bidang sosial lainnya jika ada.
Pendeknya, carilah kesempatan untuk memberikan perhatian kepada pelanggan Anda.
 Selamat mencoba! Have Fun!


** Coach Ruaniwati: womanpreneur dengan pengalaman lebih dari 16 tahun di bidang marketing, branding, dan advertising.

Senin, 29 Juni 2015

MIKIRIN PRODUK ANDALAN - By: Coach Suwito Sumargo**

Ketika Handphone (HP) baru mulai diperkenalkan, konsumen tidak berkomentar tentang bentuk dan beratnya. Keunggulan HP saat itu ialah sebagai alat komunikasi yang lebih fleksibel dibanding telepon mobil (yang 'terikat' pada mobilnya).
HP juga dianggap lebih unggul dari pager dan telpon umum, yang merupakan alat komunikasi dengan biaya yang lebih terjangkau. Dengan HP, kita 'nyaris' bisa berkomunikasi dimana saja dan kapan saja.
Saat HP mulai menggejala, saya sama sekali tidak tertarik untuk memilikinya. Pertama, karena mobilitas saya memang rendah (saya lebih sering di bengkel, ketimbang keluyuran di luar). Kedua, saya jarang menelpon (lagi-lagi karena saya lebih sering di bengkel dan hanya menerima telpon).
Lama kelamaan, ukuran HP mengecil dan ringkas. Kemampuan yang dijejalkan ke dalam alat komunikasi ini semakin banyak, HP pun menjadi multifungsi. Selain punya banyak pilihan nada dering, HP juga bisa menjadi weker karena ada fungsi alarm nya. Jam yang ada di HP pun bisa disesuaikan dengan wilayah keberadaan kita, di belahan Asia, Eropa atau Amerika.
Sekarang, HP bisa berfungsi sebagai kamera, penyimpan data, pemutar lagu, bahkan bisa difungsikan seperti laptop. Entah apa istilah tepatnya: HP yang setara laptop atau laptop yang bisa dipakai menelpon. Entah HP yang bisa berfungsi sebagai kamera atau kamera yang bisa langsung meng-upload ke internet. HP yang sedemikian canggihnya pun menjadi semakin murah dan ringkas.
HP merupakan produk teknologi yang sangat berpengaruh terhadap perilaku konsumen atau pemakainya. Kemudahan dan kelengkapan dari berbagai fitur nya membuat si pemakai menjadi lebih mudah kecanduan. Dan karena perubahan/perkembangannya yang sangat cepat, life cycle dari produk HP juga menjadi sangat pendek.
Orang mudah berubah kegemarannya, berpindah dari merk gadget satu ke yang lainnya. Begitu ada fitur baru, konsumen pun berbondong-bondong membelinya. Bagaimana dengan produk yang kita miliki? Apakah kita 'mikiri' sedemikian rupa? Maksudnya, apakah kita selalu berusaha mencari terobosan-terobosan baru, yang membuat produk kita senantiasa disukai konsumen?
Apakah kita 'mengenali', kapan life cycle produk kita mulai menurun? Apakah kita menjaga agar produk kita selalu di posisi teratas (di benak konsumen)? Apakah kita pernah punya produk yang begitu hebatnya, sehingga ditiru oleh kompetitor? Apa saja keunggulan produk kita selama ini?
Sebagai business owner, kita tidak bisa diam saja atau berpangku tangan. Bahkan ketika kita sedang di posisi tertinggi, sebagai market leader sekalipun, kita harus selalu menyiapkan produk-produk andalan.
Apakah Anda sudah punya produk andalan?

** Coach Suwito Sumargo: The Winner Supportive Coach Award & System Award 2014 (Business Excellence Forum Award 2014)


Kamis, 25 Juni 2015

DAPAT MARKET SHARE ATAU INFORMASI, MANA YANG DULUAN? - By : Coach Humphrey Rusli ***

Ketika saya membantu para pengusaha muda merumuskan konsep bisnis yang pas dan sesuai dengan market, banyak yang kesulitan merumuskan: siapakah sebenarnya target market mereka, di mana mereka berada, masuk ke segmen mana mereka, apa yang mereka suka atau tidak suka, dan lain sebagainya.
Salah satu faktor utama kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas adalah: tidak tersedianya informasi yang komprehensif dan tidak terbiasanya kita melakukan riset mandiri sebelum kita berbisnis. Mungkin karena semakin banyaknya guru-guru bisnis yang menjamin "sukses" bila kita "nekad" dan langsung terjun di market. Tidak perlu bertele-tele mencari dan menganalisa pasar sebelumnya.
Langsung praktek dan belajar dari kesalahan di lapangan, kita jadinya semakin "terangsang" untuk menggunakan konsep tabrak dulu baru mikir belakangan. Nah, "konsep tabrak dulu" ini yang ingin saya bahas sedikit lebih dalam.
Sebenarnya ketika kita tes market atau menjual produk/jasa kita pertama kali, apa yang kita harapkan? Dapat market share atau Informasi? Artinya, apakah jualan pertama kita dimaksudkan untuk membuka pasar dengan harga miring (biasanya demikian), sehingga diterima dulu oleh pasar dan dengan harapan kita akan eksis nantinya. ATAU untuk memperoleh feedback dari konsumen perdana dengan harapan anda bisa memperbaiki produk dan servis anda ke depannya?
Fokus ke penetrasi pasar sebenarnya tidak salah. Namun sebaiknya ini dilakukan dengan data yang baik, artinya fokus pertama kita harusnya adalah mendapatkan feedback yang bisa kita pakai sebagai bahan pelajaran untuk memperbaiki proses penjualan kita. Baru setelah itu kita fokus ke penetrasi pasar.
Mengapa demikian urutannya? Karena penetrasi membutuhkan biaya yang cukup signifikan. Semakin kita tidak paham sikap respon pasar terhadap produk atau jasa kita, semakin sulit dan mahal biaya penetrasi produk atau jasa kita.
Perusahaan Zappos (yang diakui sebagai perusahaan sepatu online tersukses di dunia, dengan omzet tahunan mencapai 1 milliar dollar) pun melakukan "konsep tabrak dulu" sebelum melakukan penetrasi pasar besar-besaran.
Di awal berdirinya, Zappos pun kesulitan menebak apa maunya pasar. Mereka mencoba menerka-nerka, namun tidak terlalu berhasil. Hingga akhirnya sang pendiri melakukan tindakan berikut:
A. Mencari toko sepatu retail offline yang cukup banyak koleksinya.
B. Minta ijin pemiliknya untuk mem-foto stok sepatunya dan memasarkan secara online.
C. Membuat perjanjian dengan si pemilik toko tersebut: bila ada yang laku, Zappos akan membeli secara tunai dan dengan harga retail penuh tanpa diskon dari toko tersebut.
Benar, anda tidak salah baca. Zappos membeli secara tunai dan dengan harga retail untuk kemudian dijual dengan harga yang sama atau lebih mahal sedikit. Hal ini menyebabkan di awal bisnis onlinenya, Zappos tidak untung, bahkan sedikit merugi.
Kenapa Zappos mau? Karena dari eksperimen ini, muncul ilmu-ilmu baru yang mereka bisa ambil. Diantaranya:
- Bagaimana proses menjual yang disukai pelanggan.
- Bagaimana sistem yang mensupport jenis bisnis ini (online).
- Apa yang harus disiapkan bila ada yang minta retur.
- Mengapa ada model-model tertentu yang disukai dan ada yang tidak disukai.
- Seberapa rewel konsumen mereka akan model dan cara pembayaran, dan apa yang Zappos bisa lakukan,
- Dan masih banyak lagi.

Kesimpulan:
Sebenarnya pilihannya ada di tangan anda:
1. Anda melakukan riset pasar sebelumnya.
Mengumpulkan data segmen mana yang kita sasar, apa yang kita mereka sukai, dan sebagainya, sehingga anda lebih mudah membidik dengan tepat. Namun, ini butuh mental, energi, dan waktu yang tidak sedikit.
Atau
2. Jika anda kesulitan (tidak ada waktu) mengumpulkan data, sebaiknya anda melakukan tes market. Namun BUKAN untuk tujuan penetrasi pasar dahulu, melainkan untuk mendapatkan FEEDBACK yang jelas dari REAL market anda.
Sukses Untuk Anda!

*** Coach Humphrey Rusli:
- Coach of the Year 2014 (BEF Award Indonesia 2014) ;
- Sales Coach of the Year 2012 se-Asia dan Australia;
- Associate Coach of the Year 2013 tingkat Internasional (44 negara).

Sabtu, 20 Juni 2015

LEADERSHIP, BISA DIBENTUK ATAU BAKAT DARI LAHIR? - Moderator : Coach Ruaniwati

Dalam penelitian ini, 52% responden bergerak dibidang jasa dan 48% bergerak di bidang manufacture. 93% dari mereka  memiliki pendapat bahwa jiwa kepemimpinan mereka tumbuh dari proses pembelajaran, sedangkan sebanyak 7% responden berpendapat bahwa jiwa kepemimpinannya tumbuh sejak kecil atau bakat lahir.
Sebelum membahas lebih lanjut tentang leadership, beberapa peserta Forum Diskusi Grup (FDG) berpendapat bahwa pengertian dari leadership sendiri adalah jiwa kepemimpinan seseorang dimana orang tersebut berada digaris depan yang memiliki pengaruh dan pengikut dalam mencapai suatu visi misi serta memiliki kualitas seperti: bertanggung jawab, konsisten, memiliki integritas, memiliki kecepatan dalam mengambil keputusan dan memiliki banyak strategi.
Jika leadership itu lahir dari bakat, apakah langsung dapat dipakai/ diterapkan di dalam  perusahaan? Mengapa? 80% berpendapat  leadership yang lahir dari bakat tidak bisa langsung dipakai/ diterapkan perusahaan  karena leadership  perlu pengetahuan dan melalui proses/ tahap pengalaman, 20% berpendapat leadership bisa langsung dipakai/ diterapkan diperusahaan.
Jika leadership bisa dibentuk, yang perlu ditanamkan atau diajarkan terlebih dahulu yaitu kedisiplinan,  kekuatan mental, tanggung jawab, dan kemauan belajar tinggi.

Beda Leadership yang Sengaja Dibentuk dengan yang Benar-Benar  Bakat dari Lahir
Leadership yang sengaja dibentuk :
Ø Terkadang ada kendala dalam proses pembentukannya
Ø Leadership yang dibentuk berdasarkan situasi dan kondisi pada saat tertentu
Ø Bukan dari jiwa/ mentalnya sehingga membutuhkan waktu lebih lama dalam membentuk leadership.
        Leadership yang dari bakat:
Ø  Terkadang mengandalkan insting
Ø  Cenderung ditaktor
Ø  Lahir dari bakat sehingga cenderung
     memiliki mental kuat
Menurut coach Ruani jika kita mengingat apa yang dulu pernah kita dengar, seperti ungkapan dari Ki Hajar Dewantara tentang pemimpin, banyak hal yang dapat kita ambil dan implementasikan sebagai seorang leadership. Berikut Pendapat Ki Hajar Dewantara:
1.                       Ing Ngarso Sung Tulodo
2.                       Ing Madyo Mangun Karso
3.                       Tut Wuri Handayani
Ing Ngarso Sung Tulodo’ jika dikaitkan dengan leadership memberikan pengertian sebagai seorang pemimpin kita harus mampu memberikan teladan. ‘Ing Madyo Mangun Karso’, kita juga harus dapat meningkatkan semangat, ‘Tut Wuri Handayani’ yaitu memberikan dorongan atau meluruskan tujuan kembali sesuai dengan arah yang ingin diraih.
Sebagai seorang pemimpin kita juga harus menyiapkan second layer, atau pengganti diri kita jika suatu saat kita berhenti memimpin, apakah itu nantinya anak kita ataukah orang lain.
Beberapa peserta berpendapat bahwa hal yang harus dipersiapkan untuk second layer adalah sharing visi dan misi perusahaan/ dream, succession plan dan dedikasi.
Ada banyak hal yang menjadi alasan mengapa mereka memilih poin tersebut.
·      Sharing visi-misi/ dream, calon seorang leader pertama harus mengetahui visi dan misi perusahaan  dengan jelas, sebelum melangkah untuk menjadi seorang leader.  Sebagai penerjemahannya perlu dibuat langkah-langkah strategis yang berorientasi pada jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
Jadi, setiap individu mempunyai acuan untuk bergerak dan mengembangkan kreativitas yang menunjang kemajuan perusahaan.
·      Succession Plan, hal ini sangat berpengaruh pada setiap individu di perusahaan yang memang diproyeksikan/ diharapkan menduduki posisi strategis/ jabatan yang lebih tinggi. Pada saat karyawan itu masuk ke perusahaan, seharusnya sudah ada tes yang jelas (seperti psikotest, tes bakat minat dan lain-lain) supaya kita bisa membangun carreer path yang jelas. Lebih tepatnya  yaitu “put the right man on the right place".
·      Dedikasi, dedikasi dapat dijabarkan sebagai pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi keberhasilan suatu usaha. Di sana mengandung unsur loyalitas, kejujuran, kemampuan personal, memahami job description, visi-misi/ orientasi perusahaan, team work, tanggung jawab dan pencapaian hasil usaha. Hal itulah yang merupakan salah satu dasar yang diperlukan bagi seorang pemimpin.
Selain poin-poin yang diajarkan untuk mempersiapkan second layer, hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengukur keberhasilan dari apa yang sudah kita ajarkan dan bagaimana caranya mengukurnya?
Kemudian tanda-tanda seperti apakah seorang leader yang baik itu? hasil survey dan hasil dari forum diskusi kami   menyebutkan beberapa tandanya adalah :
Ø     Memiliki banyak pengikut
Ø     Memiliki kharismatik
Ø     Memiliki integritas
Ø     Berani mengambil tantangan/ resiko
Ø     Memiliki skill dan insting bisnis
Ø     Visioner
Ø     Mampu menciptakan leader baru.
Leadership yang memang sengaja dibentuk dan leadership yang merupakan bakat dari lahir bisa memiliki tingkat kemampuan berbeda tetapi akan tergantung juga dengan orangnya, dimana jika tidak diasah meskipun leadership itu merupakan bakatnya maka tidak akan dapat berkembang berbeda dengan leadership yang dibentuk, meskipun dibentuk tetapi jika terus diasah maka kemampuannya akan lebih berkembang.

Salam The Next Level!
Research & Development Team


Jumat, 19 Juni 2015

6 LANGKAH PRAKTIS AGAR USAHA LANGGENG - By: Coach Ruaniwati**

Usaha langgeng sampai puluhan tahun bahkan dari generasi ke generasi, apakah mungkin?
Boro-boro ke generasi berikutnya, sekarang saja saya masih ngos-ngosan menjaga supaya perusahaan tetap hidup! Mungkin ada sebagian pebisnis yang berpikir demikian.
Bagaimana sih caranya supaya bisnis saya bisa stabil, kuat dan langgeng? Darimana saya harus mulai? Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan demi kelangsungan perusahaan:
1. Nilailah perusahaan Anda se-obyektif mungkin, coba pilahlah!
Sisi sales/marketing? Operasional? Sumber daya manusia-nya? Keuangannya? Jika Anda tidak dapat menilai sendiri, carilah tenaga ahli yang mampu membuat penilaian ini. Biasanya orang luar mampu menilai dengan lebih obyektif.
2. Jika sudah mendapatkan penilaian, tentukan prioritas bagian yang perlu diatasi lebih dulu.
3. Dengan tim Anda, buatlah rencana tindakan yang bisa segera ditentukan.
4. Tentukan target, pastikan siapa yang melakukan apa dan kapan.
5. Evaluasi setiap tindakan, bandingkan dengan rencana yang sudah ditetapkan sebelumnya.
6. Lakukan perbaikan terus menerus sehingga hasilnya semakin baik.
Jika kita sedang membangun usaha, cobalah mengevaluasi kondisi perusahaan Anda paling tidak 6 bulan sekali, sehingga pencapaian atau targetnya bisa dievaluasi secara menyeluruh.
Berpikir dengan cara berbeda juga adalah kemampuan penting bagi para pebisnis. Jika kita melakukan hal sama dengan cara berbeda maka dapat dipastikan kita akan mendapatkan hasil berbeda.
Siap berubah? Siap action? Siapa takut!
Semoga Bermanfaat!

** Coach Ruaniwati: womanpreneur dengan pengalaman lebih dari 16 tahun di bidang marketing, branding, dan advertising.