business-forum

coaches

More Video! Visit : BARACoaching Channel on Youtube

Kamis, 16 April 2015

KERANCUAN ANTARA GAJI, INSENTIF, TUNJANGAN, KOMISI, BONUS DALAM PERUSAHAAN - By: Coach Humphrey Rusli

Sering saya ditanya oleh para pengusaha, baik klien ActionCOACH atau saat saya mengasuh acara bincang bisnis. “Coach, kalau bonus itu dijanjikan diawal boleh atau tidak?”. Atau, “Manajer saya minta tunjangannya dinaikkan, apakah ada ukuran yang baku untuk menaikkannya, berapa persen?” Dan masih banyak lagi yang bernada seperti pertanyaan-pertanyaan di atas.

Ada baiknya saya ulas secara singkat perbedaan serta batasan dari macam-macam terminologi di atas:
1.       Gaji
Mungkin ini yang paling mudah dan sudah jelas. Gaji adalah satuan upah sebagai pengganti keahlian, waktu dan tenaga yang dicurahkan seorang pegawai dalam perusahaan. Besar kecilnya gaji tergantung seberapa besar waktu atau tenaga, dan seberapa ahli tenaga kerja yang di’beli’ perusahaan tersebut.

2.       Insentif
Insentif sebetulnya adalah 'tambahan' uang, sebagai upaya meminta pekerja mengerjakan tugas tertentu. Misalkan: seorang pekerja diminta untuk mengerjakan tugas tambahan, di luar tugas pokoknya.
Lalu si pekerja diberi insentif agar berkenan melakukan tugas extra itu. Insentif bersifat sementara dan kasuistis. Bila pekerjaan ekstra itu berlangsung permanen, maka insentif dilebur menjadi gaji, alias ada penyesuaian gaji atas beban pekerjaan barunya.

3.       Tunjangan
Mungkin dari semua istilah, ini adalah yang paling sering kurang tepat penggunaannya. Sebenarnya istilah tunjangan ini muncul apabila si pekerja butuh ditunjang agar mampu bekerja secara profesional pada bagiannya masing-masing.
Contoh: tunjangan rumah. Ini diberikan bagi pekerja yang dipekerjakan diluar kota sehingga butuh tempat tinggal. Tunjangan kendaraan, ini untuk pekerja yang terpaksa pulang pergi jarak jauh dari dan ke tempat kerja.
Ada juga tunjangan jabatan. Untuk jabatan tertentu misalkan manajer pemasaran, si pegawai dituntut untuk berpenampilan rapi dan well-groomed. Dari mana uangnya? Dari tunjangan jabatan itu. Intinya semua yang meningkatkan performa pegawai dan perlu ditunjang, masuk ke dalam post "tunjangan". Namun hati-hati, tidak semua pegawai perlu diberi tunjangan untuk bisa bekerja optimal.

4.       Komisi
Istilah ini sudah sangat populer di dunia penjualan. Komisi adalah bagi hasil dari sebuah usaha yang memiliki target yang jelas. Komisi memiliki aturan yang mengikat. Besaran komisi ditentukan di depan, dan komisi hanya diberikan bila target yang disepakati di awal tercapai. Bila target tidak tercapai, komisi otomatis tidak keluar.

5.       Bonus
Ini adalah suatu istilah yang paling sering disalah-kaprahkan dengan komisi dan atau insentif.
Secara konseptual, bonus tidak sama dengan istilah-istilah tersebut di atas. Bonus berasal dari kata latin yang bermakna: "atas kebaikan hati".
Dari dasar makna ini sudah terlihat, bonus tidak ada dasar perhitungan yang mengikat, tidak bisa dijanjikan, dan tidak tergantung oleh target yang dicapai. Bonus murni bentuk ucapan terima kasih owner usaha kepada teamnya.
Besarannya? 100% terserah owner. Apakah setiap tahun sudah pasti ada bonus? Belum tentu, tergantung owner. Dengan kata lain seorang pegawai tidak bisa ‘menuntut’ bonus akhir tahun kepada atasannya. Bonus adalah hak prerogatif owner.


Lalu? Setelah paham istilah-istilah di atas, apakah Anda bisa menggunakannya untuk memacu tim anda untuk lebih berkarya? Manakah yang Anda pakai dalam usaha Anda?

Ingat, Anda adalah pengusaha, Anda yang pegang uang. Istilah-istilah di atas tidak dibuat untuk mengekang Anda, namun sebaliknya seharusnya semakin Anda paham perbedaannya, semakin kreatif Anda memacu tim Anda.

The Sky is The Limit!
Selamat berkarya.

Kamis, 09 April 2015

FENOMENA ‘FAST & FURIOUS 7’ - By: Coach Ruaniwati

Sudah nonton Fast and Furious 7? Salah satu film yang digadang-gadang bakal meraih box office penjualan tahun ini. Lihat saja animo para penonton yang rela antri untuk nonton film yang satu ini. Apa sih istimewanya?
Film ini adalah sekuel ke-7 dari serangkaian film dengan judul sama. Ya, judul sama dan diberi urutan nomor, temanya sama yaitu kebut-kebutan dan pamer mobil keren-keren. Apa sih yang membuat film ini jadi meledak dan dinanti-nanti?
Jika kita perhatikan sejak awal tahun, bahkan sejak akhir tahun lalu, desas-desus yang terus dibicarakan tentang film ini telah membangun momentum dan menimbulkan "rasa penasaran".
Salah satu aktornya, Paul Walker meninggal akhir tahun 2013 setelah shooting film ini selesai, menambah efek berita karena dianggap akting dia yang terakhir. Apakah hanya itu saja?
Dalam salah satu diskusi dengan para pebisnis, saya menanyakan apakah ada yang tahu film ini, hampir semuanya tahu film ini dan kapan akan "main" di bioskop. Malah mereka menjawab dengan bangga karena tahu lebih banyak daripada peserta diskusi yang lain. Luar biasa bukan?
Apa yang kita bisa pelajari dari fenomena Fast & Furious ini?
1. Kerennya cara mereka meng-komunikasi-kan produknya, sehingga jika kita tidak tahu, kita dianggap "tidak gaul" alias gak keren.
2. Media berlomba-lomba menuliskan berita tentangnya, tidak dibayar, malah sebaliknya media mendapat "keuntungan".
3. Perencanaan yang matang dengan "coverage" yang luas, di seluruh dunia. Konsistensi pelaksanaan dan konten kampanye-nya.
4. Menambahkan efek wow dalam produk mereka.
Jadi, mana pelajaran yang kita bisa terapkan untuk usaha kita walaupun dalam skala yang lebih kecil? Apakah desas desus yang diprovokasi, perencanaan yang matang, atau hal lain yang membuat produk atau jasa kita jadi pembicaraan seru, lagi dan lagi?
Ingin menambahkan pendapat Anda dalam artikel ini? Silahkan kirim komentar Anda kepada kami.
Salam The Next Level! 

Senin, 06 April 2015

SENYUMMM..... - By: Coach Suwito Sumargo

Anda mungkin bertanya, apa hubungan antara bisnis dengan senyum. Saya akan bercerita sedikit di sini.
Suatu petang saya mampir di sebuah kedai, yang hanya menyediakan satu menu saja: Nasi Pecel. Tentu saja ada pernik-pernik pelengkapnya, seperti: Empal, Dadar Jagung, Sate Jerohan, dan lain-lain.
Saya mengantri di trotoar, bersama 4 - 5 orang lainnya. Dan ada belasan orang lagi yang sedang asyik menikmati nasi pecel (beralaskan pincuk daun). Kurang dari 10 menit, giliran saya pun tiba: Makan disini? Begitu sapa si Mbok. Saya pun mengangguk. Setelah 5 atau 6 tanya-jawab, tak sampai 2 menit, saya sudah siap menyantap nasi pecel plus srundeng dan sepotong empal.
Sambil makan, saya pun mulai menghitung-hitung, kira-kira berapa porsi yang bisa terjual dalam semalam. Dengan bantuan informasi dari tukang parkir, muncul angka yang fantastis, setidaknya 200 porsi. Itu capaian normal selama 3 jam per hari. Si Mbok berjualan 7 hari dalam seminggu, bergantian dengan putri dan menantunya.
Keesokan harinya, saya makan malam di resto siap saji lokal. Harga makanannya 4x lebih mahal. Dan saya harus menunggu 10 menit sebelum hidangan tersaji didepan saya. Tanpa senyuman ramah pula. Aah...bedanya bak  bumi dengan langit.
Selama belasan tahun, si Mbok tidak pernah pindah, tidak buka cabang, tidak mengubah tampilan atau penyajian, tidak mengubah menu utama (nasi pecel). Konon, senyum ramahnya pun tak pernah berubah.
Bila Anda punya bisnis semacam ini, apakah Anda akan ekspansi, buka cabang dimana-mana? Apakah Anda akan menerapkan standarisasi layanan, memperbaiki tampilan dan meningkatkan kebersihan? Silahkan share pendapat Anda.
Salam The NEXT Level!

Kamis, 02 April 2015

GARANSI EMOSIONAL VS GARANSI TEKNIKAL - By: Coach Humphrey Rusli

Pernahkah kita menjumpai bisnis atau brand/merk yang sangat dikagumi oleh konsumennya? atau sebuah produk yang sangat banyak memiliki konsumen loyal, bahkan ada yang sampai level fanatik?
“Kalau ndak pake produk xyz rasanya kurang pas,” begitu kata konsumen fanatiknya.
Mungkin buat sebagian pebisnis, ini hanyalah mimpi dan tidak mungkin terjadi. Bisa karena kalah modal dalam beriklan, kalah pandai dalam mempromosikan atau tidak menggunakan konsultan merek ternama, dan lain sebagainya.
Apapun alasannya, mereka sudah menyimpulkan tidak bisa punya konsumen loyal (fanatik) seperti brand di atas, dan kemudian memutuskan lebih baik fokus cari uang yang biasa-biasa saja.
Bagaimana kalau ternyata brand apapun bisa memiliki fenomena diatas? bagaimana kalau ternyata resepnya tidak serumit yang anda bayangkan?
Coba simak artikel pendek saya berikut ini:
Pada dasarnya manusia sangat egotistical (egois), lebih mengutamakan perasaan dan pemikiran sendiri dibandingkan pendapat dan pemikiran orang lain. Kesalahan besar yang sering kami (para coaches) lihat dalam banyak usaha adalah para pengusaha berusaha memberikan kesan "hebat", "terkini", "terbaru", "termutakhir", "tercanggih", dan lain sebagainya pada para konsumen, tanpa memperhatikan pendapat pribadi konsumen tersebut. Ini adalah apa yang saya sebut sebagai jebakan "Kecap No 1", di mana si penjual mati-matian berusaha menekankan persepsi bahwa produk/jasanya adalah yang terbaik.
Ingat, hampir semua manusia modern (termasuk saya dan anda) sangat sensitif dengan persepsi yang dipaksakan dari luar, dan lebih memilih mendengarkan pendapat pribadinya sendiri atau teman-teman dekat yang dipercayai.
Nah, untuk dapat memberikan persepsi positif kepada calon konsumen kita, alih alih memberikan iklan dengan jargon superlatif (Ter..., Paling ..., Super ..., dsb), alangkah bijaksananya kalau kita menceritakan proses produk atau jasa kita dan mengarahkan terbentuknya persepsi positif akan produk/jasa kita dari kacamata konsumen. Biarkan calon konsumen yang mengambil kesimpulan, bahwa anda hebat dan keren tanpa harus menyebutkan diri hebat dan keren.
Ini disebut strategi memberikan Garansi Emosional kepada calon konsumen. Apa itu Garansi Emosional? apa bedanya dengan garansi-garansi yang banyak ditawarkan oleh produsen/penjual? Prinsipnya sebetulnya sama, yaitu memberikan ketenangan buat calon pembeli bahwa keputusan membelinya tidak salah.  Bedanya, Garansi Teknikal (yang sudah lazim) menekankan pada jaminan bila sebuah produk atau jasa anda tidak berfungsi sesuai janjinya. Atau jaminan bila ada kerusakan akan diganti, dst.
Garansi teknikal berlaku setelah produk/jasa itu terbeli. Sedangkan Garansi Emosional berlaku bahkan sebelum produk/jasa itu terbeli. Bagaimana maksudnya?
Pernahkah anda minum air mineral atau AMDK? Sudah pasti pernah bukan? Pertanyaan saya, apa yang membuat anda yakin bahwa air mineral itu bersih? bukankah jernih semata tidak menjamin air itu layak minum? bukankah anda seharusnya membawa ke laboratorium untuk mengecek dahulu sebelum meminumnya?
Berapa orang yang pergi ke laboratorium dulu untuk setiap AMDK yang hendak dikonsumsi? jawabannya: TIDAK SATU PUN (kecuali anda yang bertugas di bagian sertifikasi AMDK). Mengapa anda dan saya percaya saja? apakah karena merek? ternyata bukan!
Coba anda cermati, iklan AMDK pada umumnya tidak pernah menyebutkan bahwa dia BERSIH dan BEBAS KUMAN. Coba cari tulisan itu dalam kemasan atau dalam iklan TV /radio/ koran/dsb. Pasti tidak anda temukan! lalu apa yang ditulis sebagai gantinya ketika beriklan?
- Menggunakan air dari sumber mata air XYZ
- Melalui proses penyaringan 17 x
- Sistem Ozonisasi atau reversed Osmosis
- Dst...
Ini adalah yang disebut "Garansi Emosional", yaitu persepsi anda sengaja diarahkan oleh produsen sehingga muncul kesimpulan tertentu. Dan karena anda sendiri yang menyimpulkan, bukan disimpulkan oleh produsen, anda jadi langsung percaya (ingat manusia lebih percaya pendapat pribadi).
Tidak percaya? Mari kita praktekkan:
Jika anda membaca atau mendengar sebuah statement : AMDK kami melalui proses penyaringan 17x... maka dalam benak anda pasti muncul sebuah kesimpulan... hmmm... kalau AMDK itu disaring 17x seharusnya air itu...... BERSIH!
Benar bukan?
Nah inilah yang disebut GARANSI EMOSIONAL, sebuah teknik menyajikan narasi untuk disimpulkan oleh pendengarnya.
Sudahkah anda memiliki GARANSI EMOSIONAL dalam bisnis anda? 
Semoga bermanfaat.


Kamis, 26 Maret 2015

SIASAT CERDAS AGAR BAYAR PAJAK LEBIH MURAH

Selain forum bisnis, BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) juga mengadakan seminar pajak bertajuk “Siasat Cerdas Agar Bayar Pajak Lebih Murah”, Kamis (19/03/15) lalu. Acara ini diadakan sebagai bentuk kerjasama dengan konsultan pajak ternama di Surabaya, PT. Karunia Mitra Bersatu.
Dwie Ratna Winarsih, selaku pembicara bertutur, selama ini wajib pajak hanya dibebani dengan kewajiban-kewajiban apa saja yang harus dilakukan atau dibayarkan.
“Jika kita datang ke kantor pajak, selalu yang digembor-gemborkan adalah kewajiban kita, tanpa dikasih tahu hak kita sebagai wajib pajak sebenarnya seperti apa. Karenanya, banyak yang kemudian berpikir pajak itu hanya membebani dan dipersepsikan sebagai biaya” papar bu Dwie.
Selanjutnya, wanita yang sekaligus founder PT. Karunia Mitra Bersatu tersebut juga menjelaskan hak-hak apa saja yang diterima wajib pajak, agar tidak bayar pajak lebih mahal dari yang seharusnya dibayar. Beberapa hal yang perlu dipahami, yang pertama adalah sistem perpajakan di Indonesia menganut sistem Self-Asesment bagi semua orang yang tinggal dan memiliki penghasilan di Indonesia.
Kedua, tertib administrasi. Dalam artian kesalahan laporan ataupun kesalahan hitung dan juga kesalahan administrasi perpajakan menjadi tanggung jawab wajib pajak masing-masing. Karena itu, sangat diperlukan pemahaman tentang apa saja hak dan kewajiban wajib pajak.
Pemahaman ini merupakan pendukung buat kita untuk dapat menentukan tarif pajak yang paling sesuai dan mudah, menurut kebutuhan bisnis kita. Jika tidak, maka pajak bisa jadi ‘bom waktu’ buat kita.
Coach Ruaniwati, dari BARACoaching Surabaya bertutur, kerjasama ini merupakan bentuk dari pengejawantahan salah satu visi dari ActionCOACH yaitu edukasi.
“Seminar ini bertujuan untuk memberikan update kepada pebisnis tentang aturan-aturan baru, strategi melakukan perencanaan pajak, serta memberikan informasi yang benar tentang pajak untuk para pebisnis. Sesuai dengan visi ActionCOACH, kami berharap acara ini bisa memberikan edukasi kepada para pebisnis untuk bisa mengatur atau memanage usahanya terutama berkaitan dengan perpajakan.”  

Senin, 23 Maret 2015

BAGAIMANA MENJEMBATANI KELUARGA VS BISNIS?

Meskipun tidak sedikit bisnis keluarga yang berkembang besar dan lintas generasi, namun bukan fakta baru, jika bisnis keluarga punya masalah cukup kompleks. Itu kenapa hanya 1% yang bisa bertahan hingga generasi ke-4. Sebenarnya apa bisnis keluarga itu? Dan mengapa begitu rumit permasalahannya?
Hal ini dikupas dalam seminar bertajuk “Membangun Bisnis Keluarga yang Sukses dan Bahagia”, Kamis (12/03/15) lalu. Bertempat di Office BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali), acara ini menghadirkan Coach Suwito Sumargo selaku pembicara.
Dalam seminar yang khusus ditujukan untuk pemilik bisnis itu, Coach Suwito memaparkan, topik tentang keluarga dan bisnis sering tidak sejalan, karena tujuan dasar keduanya memang berbeda.
Family is about unconditional love. Sedangkan di sisi lain business is about profit. Kedua hal ini yang sering tidak sejalan dan menimbulkan konflik,” tutur the Winner Supportive Coach dalam BEF Award Indonesia 2014 ini.
Para peserta juga memberikan alasan mengapa pengelolaan bisnis keluarga begitu rumit. Ada yang mengemukakan, perbedaan generasi dan pemikiran yang menyebabkan hal itu terjadi. Ditambah dengan sistem pembagian ‘keuntungan’ yang sulit, sehingga generasi kedua dan seterusnya harus terus mengembangkan usaha, bila ingin mendapat hasil yang lebih besar.
Lalu bagaimana mengatasi perbedaan dan masalah dalam bisnis keluarga? Yang pertama adalah dengan komunikasi. Komunikasi yang baik merupakan kunci untuk membentuk sebuah bisnis keluarga yang sehat. Salah satu caranya bisa dengan mengadakan pertemuan keluarga (anggota yang terlibat dalam bisnis) secara reguler.
Selanjutnya dengan membangun sisi financial yang kokoh. Penting untuk mengetahui sumber keuangan dan merencanakannya dengan baik (budget and planning). Jika satu waktu kita harus berhutang, maka pertimbangkan dulu: untuk apa uangnya, dan berapa penghasilan yang diperoleh agar bisa membayar kembali hutang tersebut.
Ketiga, menemukan sekaligus mempersiapkan generasi penerus dalam bisnis keluarga. Ini merupakan salah satu tahapan yang krusial. Tentu saja krusial, karena tumbuh kembang, bahkan ‘mati-hidup’nya perusahaan keluarga bergantung kepada siapa yang menjadi pemimpin.
“Banyak hal dipertimbangkan dalam memilih future leader. Namun yang sering terjadi, generasi penerus dalam bisnis keluarga ‘dipaksa’ menjadi pemimpin, tanpa melihat dia sudah siap atau belum. Hal ini yang disebut nepotisme dan menyebabkan masalah dalam perusahaan,” papar pelatih bisnis sekaligus pemilik GBT Laras-Imbang ini.
Selain masalah kesiapan, seorang penerus (owner) juga dituntut bisa jadi good leader sekaligus good manajer.
Selain ketiga hal di atas, juga disebutkan poin governance. Poin ini bukan hanya bagaimana membuat aturan main, tapi juga memahami dan mendokumentasikan peraturan perusahaan.
“Dan lagi, butuh disiplin, komitmen dan ketahanan dalam menjalankannya,” tegas Coach Suwito.

KARYAWAN SAYA NGGAK BERKUALITAS? - By: Coach Suwito Sumargo

“Saya kesulitan mendapatkan karyawan yang berkualitas. Karyawan saya ini selalu merepotkan. Mereka berulang kali bertanya dan tidak mau memutuskan sendiri.” Demikian sekilas perbincangan saya dengan seorang pemilik toko.
Saya berkunjung ini atas permintaan Pak Danny (pemilik toko). Sambil berbincang-bincang, bola mata Pak Danny 'berkeliaran' mengamati seluruh penjuru toko. Berkali-kali beliau minta maaf kepada saya, karena beliau harus segera 'mencegat' karyawan dan memberi serangkaian perintah. Ini untuk mencegah agar karyawannya tidak melakukan kesalahan.
Setengah jam kemudian, kesibukan toko pun mereda. Kami bisa berbincang lebih santai. Sambil menghela nafas, beliau berkata, “Ya seperti inilah kesibukan saya, setiap hari. Karena itu, saya tidak mungkin meninggalkan toko ini dan menghadiri seminar. Sebenarnya saya sangat ingin memiliki karyawan yang nggenah dan bisa dipercaya.”
Kejadian seperti ini sangat sering saya temui, ketika saya makan di depot atau belanja di sebuah toko kelontong atau membeli sesuatu di toko bangunan. Dan setiap pemilik usaha melakukan hal yang serupa dengan cerita diatas. Keluhan baru terasa ketika kegiatan usaha mulai tumbuh dan berkembang, ketika pembeli/pelanggan mulai banyak. Dan ketika keluhan makin sering muncul, punya usaha tidak lagi menyenangkan. Malah menjadi beban.
Bagaimana membebaskan kita dari beban ini?
Pertama, pikirkan satu bagian pekerjaan, yang PASTI bisa dikerjakan oleh karyawan-karyawan kita, dengan sempurna. Cukup satu bagian saja, bukan seluruh proses. Kemudian, coba latihkan ke karyawan-karyawan itu dan amati siapa yang menunjukkan tanda-tanda akan bisa melakukannya dengan baik.
Lalu, bagaimana bila karyawan-karyawan itu enggan mengikutinya?
Saya biasanya meminta klien untuk menceritakan ke karyawan-karyawannya, sebuah cerita tentang masa depan perusahaan dan bagaimana peluang karyawan-karyawan itu untuk maju dan sukses bersama. Ini bukan cerita tentang visi-misi yang nggombal, melainkan sebuah cerita atau cita-cita yang disampaikan dengan sepenuh hati, tulus dan jujur. Cerita yang disampaikan dengan penuh semangat. Dan...ternyata tidak banyak pemilik usaha yang mampu melakukannya dengan baik.
Tapi, bila si pemilik usaha berhasil meyakinkan karyawan-karyawannya, maka mereka akan berusaha sebaik-baiknya. Bahkan, tak jarang terjadi kompetisi diantara mereka. Dengan demikian, setiap karyawan itu akan berusaha menunjukkan yang terbaik.
Apa yang kita pelajari dari artikel saya kali ini?
1.    Kuasailah urut-urutan pekerjaan, lakukan pemenggalan-pemenggalan, agar setiap penggalan bisa dilakukan dengan baik.
2.    Menyemangati karyawan dengan menceritakan masa depan perusahaan dan bagaimana mencapainya. Bila kita berhasil melakukannya, maka kita mengajak karyawan-karyawan kita untuk memahami dan melaksanakan visi-misi.
Anda akan belajar lebih banyak, bila Anda menghubungi kami...

Salam The NEXT Level!