business-forum

coaches

More Video! Visit : BARACoaching Channel on Youtube

Kamis, 05 Februari 2015

LAYANAN RAMAH, ANTUSIAS, DAN TULUS - By: Coach Suwito

Pernahkah Anda berbelanja di pedagang kaki lima? Saya pernah.
Ada 'kenikmatan' tersendiri ketika kita belanja di kaki lima, antara lain: pilihannya banyak dan bisa menawar sesuka hati. Kadang, kita beruntung karena mendapat layanan yang ramah, seperti pengalaman saya berikut ini.
Pagi itu, saya kebetulan punya waktu lowong dan di depan hotel ada beberapa pedagang yang menggelar dagangannya. Ehm...lumayan buat beli oleh-oleh. Nggak perlu jauh-jauh ke toko souvenir.
Saya memperhatikan istri saya yang sibuk memilih. Dengan ramahnya si penjual menuruti permintaan istri saya. Dia minta warna yang cerah dan ukuran lebih kecil (untuk cucu kami). Si penjual pun bergegas mengambil koleksi yang ada di temannya, sesama pedagang. Ini terjadi beberapa kali, dan si penjual mondar mandir memenuhi permintaan istri saya. Singkat kata, akhirnya istri saya membayar belajaannya.
Petangnya kami singgah di sebuah toko souvenir terkenal di kota itu. Dan barang-barang serupa juga ada disitu, tentu dengan harga yang lebih mahal. Tapi, yang mengecewakan adalah layanannya tidak ramah. Si penjual kaki lima jauh lebih ramah, mau melayani dengan antusias dan tulus.
Tentu saja, di toko seperti ini harga tak bisa ditawar dan lebih mahal. Karena toko ini berpendingin/AC, punya lahan parkir, punya tempat bermain untuk anak-anak dan juga ada sebuah cafe (buat nongkrong sejenak setelah penat berbelanja).
Sebelum meninggalkan toko, saya pun menyempatkan diri menuliskan pesan/feedback yang intinya: “Pemilik Toko yang terhormat, Anda berpeluang untuk lebih maju dan sukses, dengan cara meningkatkan keramahan, antusiasme dan ketulusan karyawan Anda”.
Anda, pembaca Biz-tips, juga berpeluang mendapat feedback tentang bisnis Anda dari para Coach Baracoaching.


Rabu, 04 Februari 2015

Training TM OKE - 20 DETIK PERTAMA UNTUK 15 MENIT KE DEPAN

Dalam dunia bisnis, seorang telemarketer merupakan bagian dari ‘jantung’ yang ‘memompa’ kemajuan usaha. Itu sebabnya, diperlukan skill yang mumpuni untuk melakukan pemasaran lewat telepon. Beberapa yang harus dikuasai adalah teknik melakukan negosiasi dan bagaimana closing penjualan.
Hal itu dikupas dalam training bertajuk “Telemarketing OKE”, Sabtu (31/01/15) lalu. Training yang diadakan oleh ActionCOACH BARACoaching Surabaya ini diberikan pada tim sales pusat (Surabaya) dan cabang Malang PT. Arofah Mina. Di awal acara, Erfina Hakim, selaku pembicara bertutur tentang tujuan training itu.
“Kita berharap setelah mengikuti pelatihan ini, peserta bisa menguasai 4 hal penting dalam telemarketing. Empat poin itu adalah menutup closing penjualan by phone, lalu melakukan negosiasi lebih baik, mendapatkan appointment penting, dan terakhir memudahkan penagihan pembayaran,” ungkap Erfina.
Lebih jauh, wanita yang pernah meraih predikat ‘The Best Area Manager’ wilayah Indonesia Timur ini juga memaparkan apa saja bekal seorang telemarketer sebelum menelepon. Problem kebanyakan dari seorang telemarketer adalah ketakutan sebelum menelepon prospek.
Hal ini, menurut Erfina karena mereka terbawa imajinasi buruk yang mereka ciptakan sendiri sebelum telepon.
“Belum-belum sudah mikir bakal ditolaklah, prospeknya judes, dan hal-hal negatif lainnya. Bangunlah imajinasi menyenangkan dan selalu berpikir positif. Bayangkan hal-hal lucu, bisa dengan saling bercanda dengan teman kerja sebelum menelpon. Pokoknya hindari berpikir buruk, karena ini tidak akan membangun mental Anda. Malah akan menyusutkan semangat untuk menelpon prospek,” tegas wanita yang akrab dipanggil Fina ini.
Selain itu, posisi tubuh juga harus mendukung. Siapkan tujuan dan sesuaikan skrip. Tujuan harus jelas, atur gaya bahasa (intonasi, volume, tekanan suara, kecepatan bicara) sehingga mudah dipahami, dan bersikaplah tenang.
“Hal paling penting lain yang harus dipahami, kesempatan pertama telemarketing adalah menjual suara bukan produk,” tambah Fina.
Itu sebabnya, tidak masalah bila seorang telemarketer tidak paham semua product knowledge. Yang harus diperhatikan adalah penciptaan kesan pertama di 20 detik pertama, sebagai penentu 15 menit ke depan.
Selain mendapat teori tentang telemarketing, peserta juga berbagi pengalaman dan sharing problem terkait selling by phone. Mulai perbedaan hard selling dan soft selling, sampai ‘uneg-uneg’ yang berhubungan dengan penelepon (prospek). 
Heri Wibowo, selaku pemilik PT. Arofah Mina berujar, ”Ini adalah training kedua yang diikuti tim saya. Training sebelumnya sangat membawa kemajuan, khususnya pada tim pertama. Trainingnya applicable dan hasilnya luar biasa. Setelah menjalani pelatihan Telemarketing OKE mereka (tim Arofah Mina) bisa melampaui target semua.”

HARUSKAH MEMBAYAR MAHAL UNTUK BRANDING - (Hasil FDG IV – 23 Januari ’15)

Apakah branding itu? 50% responden dari hasil penelitian yang kami lakukan terhadap para pemilik bisnis baik dari bidang jasa maupun manufacture berpendapat bahwa branding itu identik dengan nama perusahaan, nama produk/ jasa, merek dagang yang mudah diingat, bersifat unik yang membedakan produk/ jasa satu dengan yang lain. Mereka menganggap penting branding karena memiliki tujuan agar produk/ jasa kita lebih dikenal konsumen dan konsumen di Indonesia umumnya lebih melihat brand dari pada kualitas.
Branding menurut coach Ruani adalah cara mengkomunikasikan personality/ identitas kita kepada orang lain/ kepada calon konsumen dengan konsisten.Identitas menentukan kita ini siapa dibandingkan orang lain, biasanya identitas pemilik bisnis atau perintis bisnis akan melekat menjadi  identitas perusahaan. Identitas perusahaan harus dibangun sedini mungkin dan  dilakukan secara konsisten agar nantinya bukan konsumen yang menilai dan menentukan identitas kita. Tentu sah-sah saja kalau persepsi konsumen benar, bagaimana kalau tidak?
Dalam melakukan kegiatan branding pasti akan memiliki tantangan seperti bagaimana memberikan suatu kepercayaan dan kepuasan kepada konsumen, mencari ide agar branding lebih efektif dan efisien, tepat sasaran, konsisten, mengendalikan internal SDM serta mengedukasi konsumen perihal produk/ jasa yang kita kenalkan. Agar kegiatan branding kita sesuai dengan segmen dan target yang dituju maka kita perlu melakukan  4W dan 1H yaitu:
1.        Who, siapa saja orang yang menjadi calon konsumen kita
2.        Where, mencari tahu dimana konsumen itu berada/ berkumpul.
3.        What,  apa saja kelebihan dan keunikan produk kita sehingga dapat menarik minat calon konsumen untuk membeli. Apa saja yang dapat kita tawarkan kepada konsumen.
4.     Why, kenapa konsumen harus membeli produk/ jasa kita, apa keuntungan yang didapat dengan membeli/ menggunakan produk/ jasa kita.
5.     How, bagaimana kita memasarkan dan bagaimana hasil evaluasi pemasaran kita.
Banyak hal yang dilakukan oleh para pemilik bisnis untuk meningkatkan branding mereka yaitu dengan meningkatkan kualitas pelayanan, melakukan kerjasama dengan perusahaan/ instansi lain, memanfaatkan Word of Mouth (WOM) serta memasang iklan di koran, majalah, televisi, mencetak brosur dan menggunakan media online seperti website/ media sosial.
Dari hasil penelitian media online dapat dipakai secara efektif untuk meningkatkan penjualan. Hal ini terlihat dari parameter yang digunakan seperti adanya kenaikan pendapatan, adanya repeat order dan target yang tercapai.
Sebelum melakukan branding sebaiknya kita perlu mengetahui 4 hal tentang brand:
1.     Identitas brand kita harus jelas.
2.     Brand itu harus memiliki suatu nilai seperti ROI maupun nilai uangnya.
3.   Brand harus memiliki experience yang konsisten.
4. Brand itu menggambarkan tentang kita/ perusahaan.
Dan suatu brand dikatakan bagus jika:
1.    Dapat menyampaikan pesan yang dimaksud dengan jelas.
2.    Dapat menggambarkan/ mengkonfirmasi kredibilitas perusahaan seperti apa.
3. Dapat terbentuk komunikasi/ hubungan baik dengan konsumen, memberikan pengalaman yang berkesan kepada konsumen.
4. Dapat memotivasi konsumen untuk membeli produk/ jasa kita.
 Selain kegiatan branding yang gencar dilakukan kita juga harus memperhatikan dari sisi produk/ jasa yang kita jual, jangan sampai apa yang kita branding kan tidak sesuai dengan produk/ jasa yang kita jual karena dampaknya konsumen kita akan kecewa dan branding kita tidak akan bisa bertahan lama.
Dalam melakukan kegiatan branding 63% pemilik bisnis mempunyai dana yang dialokasikan khusus untuk branding sedangkan sisanya sebanyak 37% tidak memiliki dana khusus. Sebenarnya dalam melakukan kegiatan branding tidaklah harus mahal, tetapi bisa dilakukan dengan mengoptimalkan media yang harganya lebih terjangkau seperti media sosial, dimana sebagian besar pemilik bisnis berpendapat media tersebut cukup efektif dan tergolong murah.
Kemudian, dalam suatu perusahaan siapakah yang seharusnya melakukan fungsi branding? sering sekali kegiatan branding identik dengan tanggung jawab marketing, tetapi fungsi branding ini seharusnya menjadi tanggung jawab semua orang yang ada di perusahaan karena kegiatan branding merupakan bagian dari strategi bisnis dimana semua lini harus mengetahui apa yang perusahaan ingin capai.

Selasa, 03 Februari 2015

Training Tim Ando - TAKTIK SALES: ‘MEMBURU’ ATAU ‘MENANAM’?

Ternyata bagaimana cara kita ‘berjualan’ juga dipengaruhi oleh kondisi pasar atau permintaan konsumen. Itu sebabnya muncul istilah hunter dan farmer dalam sistem penjualan (sales).
Hal ini disampaikan Coach Suwito Sumargo, selaku pembicara dalam training internal yang diadakan oleh PT. Halimjaya Sakti, Selasa (27/01/15) lalu. Pelatihan yang dihadiri oleh kurang lebih 70 peserta, dari tim sales dan marketing juga jajaran manajerial produsen sandal-sepatu merek “Ando” ini, bertajuk “Sales Made Simple”.
Dalam dunia sales dikenal teknik hunter dan farmer. Para sales yang menggunakan teknik hunter biasanya mereka yang bisa langsung mengenali ‘mangsa’. Lebih tajam dan cepat dalam menjual. Berbeda dengan teknik farmer, yang lebih slow dan tidak langsung menuju sasaran (pelanggan).
Baik teknik hunter maupun farmer bisa digunakan dalam menjual. Seorang sales tidak melulu harus langsung me’nembak’kan jualannya pada pelanggan. Ada kalanya dia harus bergerak lebih ‘slow’, dengan melakukan pengenalan dan pendekatan kepada calon pelanggannya terlebih dulu.
Which technique you choose? Semua itu melihat daerahnya, bagaimana kondisi pasar dan permintaan konsumennya,” ungkap coach Suwito.
Selain teknik sales, pembicara asli Surabaya ini juga mengupas tentang bekal apa saja yang harus dimiliki untuk menjadi seorang ‘penjual’ yang sukses. Bekal ini datang dari lingkungan di luar kita dan dari diri sendiri.
Bekal dari luar seperti mengikuti training secara berkala, pengetahuan tentang strategi menjual dan menghadapi customer. Poin ini tidak terlepas dari peran perusahaan, yang sebaiknya jangan hanya menjual komoditi saja, namun memperhatikan juga kualitas SDM-nya.
Sedangkan bekal dari dalam diri diantaranya meliputi: semangat untuk bekerja dan berprestasi, jujur, loyal, kerjasama (team work), sesuai dengan peraturan perusahaan atau tertib administrasi, sampai mempersiapkan penampilan sebelum menemui customer.
“Pada dasarnya semua karyawan itu memang harus punya semangat kerja dan berprestasi. Manfaatnya bukan hanya untuk perusahaan saja, namun yang terbesar adalah untuk dirinya sendiri. Kalau semangat itu kita punya, maka yang meraih kesuksesan nantinya kita juga,” tegas Coach yang sudah berpengalaman lebih dari 30 tahun di dunia bisnis ini.
Lebih lanjut, the Most Supportive Coach 2014 ini juga berdiskusi dengan peserta terkait problem dan pengalaman di lapangan.
Di akhir acara, Handoko Halim selaku Direktur PT. Halimjaya Sakti berharap training ini benar-benar bisa membawa manfaat yang besar juga perubahan positif yang diharapkan.
“Perubahan positif ini sangat berguna untuk menunjang perkembangan perusahaan dan memenangkan persaingan pasar. Lebih jauh, perubahan positif bukan hanya untuk perusahaan saja, namun untuk mereka pribadi juga,” ujarnya. 

Kamis, 29 Januari 2015

SOP DAN TRAINING - Coach Humphrey Rusli

Semua pengusaha sudah pasti pernah mendengar kedua istilah ini, SOP dan training. Bahkah sudah sering mengejawantahkan kedua hal tersebut di dalam bisnis mereka masing-masing. Namun (mungkin) karena seringnya kedua istilah ini dibahas, sampai berkali-kali saya melihat kerancuan penempatan dua atribut ini dalam organisasi bisnis.
Apa perbedaan dan hubungan antara SOP dan training? Apakah bersifat menunjang satu sama lain atau tidak berkaitan? Sebenarnya apa fungsi dari masing-masing atribut tersebut dalam bisnis?

1. Kesalahpahaman Umum Tentang SOP
Fungsi utama dari SOP dan training sebenarnya sama-sama untuk membuat kegiatan operasional lancar dan semakin efektif dan efisien dalam menggerakkan organisasi mencapai target bisnisnya.
Namun, SOP  BUKAN bahan untuk pelatihan (training) anak buah. Ini adalah kesalahpahaman yang paling sering muncul di organisasi bisnis. SOP (Standard Operating Procedure) sebenarnya adalah serangkaian instruksi yang jelas dan mudah dipahami dalam melaksanakan 'ritual' teknis tertentu.
Penekanan pada kata 'ritual', artinya: kegiatan standar yang tidak banyak modifikasi, tidak memerlukan kreatifitas berpikir dan tidak memerlukan ‘training’ untuk memahaminya. SOP adalah prosedur mengoperasionalkan aktifitas standar perusahaan.
Bila SOP dibuat sangat kompleks dan rumit sehingga perlu di’training’kan, maka ini sebenarnya adalah ‘pemborosan’ resources dan sumber daya manusia. Bila SOP anda terpaksa memerlukan training khusus, maka ada 2 kemungkinan yang terjadi di bisnis anda:
a. Yang membuat SOP tidak terlalu paham, sehingga menjadi kompleks dan rumit.
b. Kompetensi anak buah anda tidak sesuai dengan job yang diembannya, sehingga SOP yang sederhana gagal dipahami.
Berarti SOP hanya perlu disosialisasikan bukan di’training’kan ke anak buah. Dan sosialisasi ini sudah bisa dilaksanakan secara informal dari senior-seniornya pada saat satu atau dua hari pertama tim baru tersebut masuk di organisasi anda.

2. Training yang benar
Lalu bilamana kita mentraining anak buah? Jawabannya adalah ketika skill atau keterampilan anak buah anda perlu ditingkatkan untuk menjawab tantangan yang belum ada jawabannya di buku panduan SOP.  Training secara rutin wajib dilakukan untuk meningkatkan keterampilan dalam menghadapi masalah-masalah yang bisa muncul dan yang membutuhkan kreativitas serta daya pikir lebih untuk memecahkannya.
Training juga diberikan untuk mengantisipasi tuntutan organisasi akan SDM yang lebih berkualitas demi tercapainya sasaran bisnis yang lebih tinggi di masa depan.

Senin, 26 Januari 2015

PRODUK IDAMAN - By: Coach Suwito

 “Kalau udah (jelas-jelas) punya produk idaman, itu sih pasti gampang mendatangkan pembeli. Karena udah ada daya tariknya, maka pastilah pembeli akan datang dengan sendirinya.” Begitu sanggah salah satu klien saya.
Masalahnya, perusahaan saya masih baru dan produknya juga menggunakan merk baru, kan sulit mendatangkan pembeli. Apalagi mendapatkan pembeli fanatik,” lanjutnya dengan nada tinggi, seolah ingin meyakinkan saya bahwa praktek tidak semudah teori.
Iya, betul. Pada kenyataannya memang sulit dan tidak banyak orang yang berhasil memperkenalkan produk barunya hanya dalam waktu singkat.Demikian saya menanggapinya.
Sebuah produk baru atau merk baru, memang tidak mungkin langsung moncer atau terkenal. Harus ada langkah pendahuluan atau istilahnya: promosi. Tanpa promosi, mana mungkin calon pembeli tahu tentang produk atau merk kita.
Promosi adalah upaya untuk memperkenalkan diri, memperkenalkan keunggulan produk baru dan sekaligus memperkenalkan merk baru. Ada banyak cara memperkenalkan diri dan juga ada banyak media yang bisa digunakan untuk itu.
Tapi, yang lebih dulu kita pikirkan adalah: produk ini bakal bermanfaat bagi siapa? Karena itu, sebelum berpromosi, sebaiknya kita tahu: siapa yang nantinya kita harapkan sebagai pengguna produk kita? Dalam teori marketing dikatakan: kita harus tahu target market dan segmentasinya.
Ketika diperkenalkan pertama kalinya, Teh Botol langsung disukai karena kemudahannya. Tanpa perlu menyeduh, kita langsung bisa menikmati kesegaran teh, dimanapun dan kapanpun. Saat itu, tak ada yang berpikir bahwa teh itu bisa dikemas dalam botol. Tapi, sekarang sudah banyak perusahaan dan merk yang menawarkan kesegaran (dan kepraktisan) air teh. Kepraktisan, juga menjadi ide awal air minum dalam kemasan. Air bersih, sehat (mengandung mineral) yang bisa diminum kapan dan dimana saja.
Pernahkah Anda memikirkan, siapa kira-kira yang bakal jadi pembeli produk Anda? Apa saja yang diharapkan dari produk kita? Lalu, bisakah kita melebihi harapan para pembeli itu?

Kepada Anda, para pembaca artikel ini, yang sudah tahu jawaban pertanyaan-pertanyaan diatas, silahkan share. Mari berbagi pengalaman, siapa tahu jawaban Anda bisa menginspirasi teman-teman kita. Kirimkan pengalaman Anda ke : suwito@baracoaching.com.

Kamis, 22 Januari 2015

BEKERJA DENGAN ‘HATI’ - By : Coach Suwito

Begitu keluar dari bandara, saya langsung menuju taxi favorit saya. Setelah duduk, saya sebutkan nama sebuah hotel yang menjadi tujuan. Sembari menyodorkan selembar lima puluh ribuan, saya berkata: “Bapak tahu tempatnya kan?”
Si driver menjawab: “Ya pak, saya tahu tempatnya. Bapak ingin lewat tol saja, bukan?”
“Ya,” saya menjawab pendek dan langsung sibuk dengan gadget saya.
Beberapa menit kemudian, saya menegur si driver: “ Bapak bisa lebih cepat?”
Jawab si driver, “Bisa Pak, tapi kecepatan kita sekarang sudah sesuai dengan batas kecepatan maksimal di tol.”
Saya baru menyadari, ternyata kita sudah cukup cepat. Dan ada satu fakta menarik, ternyata driver ini patuh pada aturan (lalu lintas) di jalan tol. Saya pun akhirnya berbincang-bincang dengan si driver.
“Tuh, mobil-mobil lain pada ngebut,” kata saya.
“Maaf Pak, saya hanya diijinkan mengendarai sebatas (kecepatan) ini saja” jawabnya dengan sopan.
“Kan ndak ada yang tahu, bila bapak ngebut?” kata saya lagi.
Sambil ketawa ringan dia menjawab: “hehehee…Tuhan tahu lho, Pak.
Perbincangan kami akhirnya lebih mengarah ke pengalaman pribadinya sebagai seorang driver. Sehingga saya pun akhirnya tahu, si driver ini benar-benar seorang yang patuh pada aturan dan bukan seperti pengemudi pada umumnya yang hanya (pura-pura) patuh bila ada polisi saja.
Driver tadi bercerita, dia punya keyakinan, bila dia tidak memulai sebuah pelanggaran, maka dia akan terhindar dari kesulitan. Dan dengan mengemudi sesuai aturan, si driver merasa lebih tenang dan nyaman. Dengan demikian, dia bisa memberikan yang terbaik ke penumpang. Luar biasa.
Saya membayangkan, bagaimana seorang driver bisa mempunyai sikap seperti itu? Sebuah sikap yang membuat dia bisa bekerja dengan baik, tanpa perlu diawasi.
Saya jadi teringat pada cerita klien-klien saya, yang karyawannya cenderung hanya patuh ketika sedang ditunggui oleh sang bos. Fenomena ini menggejala dimana-mana, bukan hanya di Indonesia,  lho. Kebanyakan karyawan memang hanya bisa (atau terampil) bekerja saja. Dan mereka hanya bekerja sesuai perintah. Kebiasaan bekerja sesuai perintah ini, tidak akan bertahan lama. Selain bosan atau jenuh, karyawan akan cenderung kembali pada kebiasaan lama yang dia sukai.
Selama ini kita sering lebih fokus kepada result jangka pendek dan lupa menanamkan keyakinan (believe) dan nilai-nilai (values) yang lebih bertahan dalam jangka panjang. Keyakinan ini biasanya dimulai dengan rasa senang akan pekerjaan.
Sebagai bos (atasan), terlebih dulu kita perlu menumbuhkan rasa senang mereka dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Rasa senang akan pekerjaan, tentu tidak muncul secara otomatis.
Salah satu cara untuk merangsang adalah dengan menginduksi atau mempengaruhi mereka bahwa apa yang mereka kerjakan adalah sesuatu yang menyenangkan bahkan bermanfaat buat orang lain. Kita bisa memberikan cerita atau study kasus yang berhubungan, yang secara tidak langsung bisa membuat mereka ikut merasakan dan berpikir, daripada hanya sekedar teori.
Selanjutnya adalah memberi kesempatan kepada mereka untuk mengekspresikan nilai-nilai apa yang mereka dapat dari pekerjaan mereka. Semakin sering kita melakukannya, semakin mengingatkan dan menyadarkan, bahwa apa yang mereka lakukan tidak seberat dan membosankan seperti yang terlihat atau mereka alami.
Poin paling penting adalah melakukan kedua poin di atas secara berulang-ulang. Pengulangan secara terus-menerus akan mengubah sebuah keterpaksaan menjadi sebuah kebiasaan (yang menyenangkan).
Nah, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda punya problem yang sama? Apa saja yang Anda lakukan untuk mengatasinya?
Share pengalaman Anda by email ke: suwito@baracoaching.com