business-forum

coaches

More Video! Visit : BARACoaching Channel on Youtube

Selasa, 09 Desember 2014

BANYAK PEBISNIS HANYA IKUT-IKUTAN

Jum’at (28/11/14) lalu, BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) mengadakan bincang bisnis bertajuk “Low Cost High Impact Marketing”. Sebuah forum yang membicarakan langkah-langkah meningkatkan penjualan dengan menekan biaya, seefisien mungkin.
Coach Humphrey Rusli, selaku pembicara memaparkan selama ini para pemilik bisnis sering salah kaprah mendefinisikan ungkapan ‘low cost’. Mereka cenderung mengartikan low cost dengan murah semata. Pemikiran seperti ini yang menyebabkan mereka tidak memahami taktik dan cara kreatif untuk meningkatkan penjualan.
“Selama ini para pemilik bisnis tidak paham marketing yang baik itu seperti apa. Kebanyakan, mereka hanya cenderung terpancing dengan kompetitor. Sudah tidak ada kejelasan market, hanya ikut-ikutan apa yang dilakukan kompetitornya. Itulah mengapa banyak strategi marketing berujung pada buang uang,” jelas coach Humphrey.
Lalu bagaimana caranya agar strategi marketing yang kita lakukan tidak sia-sia? Bagaimana agar kita bisa menekan biaya yang terbuang dan memperoleh hasil yang maksimal? Setidaknya, ada 5 hal yang mesti kita pahami dalam low cost high impact marketing.
Pertama adalah apapun yang akan kita jual, pahami dulu siapa pembeli kita. Seorang pengusaha kripik buah naga mengeluh, kenapa kripiknya tidak laku. Padahal diantara jajaran kripik yang lain, kripik ini tergolong lain daripada yang lain dan tentu saja menyehatkan.
“Namun, ketika didisplay di samping  buah naga (kebetulan waktu itu dia menitipkan kripiknya di salah satu swalayan besar), kripiknya jadi laku keras. Dari cerita ini, selain paham siapa target market, kita juga harus memperhatikan hal-hal termasuk tempat display,” lanjut senior coach BARACoaching Surabaya ini.
Poin ini didapat dengan membiasakan diri untuk terus disiplin berpikir dan mencari ide untuk tercapainya low budget high impact marketing. Lewat trial and error, lama kelamaan pemilik bisnis akan menemukan taktik atau strategi yang tepat dalam bisnisnya. Bukan hanya menemukan target pasar, namun juga bagaimana cara memasarkan produk atau jasanya dengan tepat.
Kedua, ‘memutar’ corong promosi ke dalam. Jika sebelumnya promosi lebih ditujukan untuk mendapat konsumen baru, maka sekarang terbalik, fokuslah pada pelanggan lama anda.
“Selama ini, pemilik bisnis tidak menyadari, merekrut konsumen baru, 6 sampai 10 kali lipat lebih sulit daripada mempertahankan konsumen lama. Biayanya juga lebih mahal dari maintenance pelanggan lama, atau bahkan yang sudah loyal.”
Jadi, ketika ada promosi atau informasi produk baru, maka usahakan untuk memberitahukan kepada pelanggan yang ada dalam lingkaran bisnis kita terlebih dulu.
Selanjutnya adalah be creative. Hampir sama dengan poin satu, berpikir kreatif bisa tercapai bila kita membiasakan diri untuk disiplin berpikir dan terus mencari cara atau strategi kreatif untuk mencapai tujuannya.
Keempat, networking. Memperkaya pengetahuan dan wawasan dengan bergaul dengan pemilik bisnis yang lain. Networking bisa memungkinkan kita untuk melihat sebuah masalah atau hal dari banyak sudut pandang. Jadi, sering-seringlah bergaul dan berdiskusi dengan pemilik bisnis yang lain, misal dalam sebuah komunitas atau forum bisnis.
Terakhir, memaksimalkan fungsi media promosi. Salah satunya brosur. Fungsi brosur sebenarnya adalah membuat ‘si pembaca’ atau konsumen jadi penasaran tentang apa yang kita informasikan.
“Sayangnya, sering saya lihat fungsi itu jadi hilang karena design tidak eye catching dan lay out atau tata letak yang ‘salah’. Kesalahan utama yang biasa dijumpai seperti penulisan nama usaha gede di atas, testimoni yang terlalu banyak, dan headline yang tidak menarik,” papar pelatih bisnis terbaik Indonesia ini. 

Senin, 08 Desember 2014

Sustainable Company, Perusahaan yang Berkelanjutan - By: Coach Suwito

Kata sustainable company sering dikaitkan dengan upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup. Tapi kali ini saya ingin menerjemahkannya sebagai sebuah perusahaan yang tahan lama, tahan banting dan tetap populer untuk waktu yang sangat lama, atau perusahaan yang berkelanjutan.
Bila batasan ‘lama’ itu adalah bilangan 5 atau 10 tahun, mungkin kurang relevan. Sebuah perusahaan yang (baru) bertahan selama 5 tahun, masih dianggap belum apa-apa, belum (terbukti) cukup tahan banting atau tahan lama. Padahal, banyak pemilik perusahaan yang sudah ngos-ngosan ketika mempertahankan keberadaan perusahaannya pada 5 tahun pertama.
Bila toh akhirnya si pemilik perusahaan ini berhasil melewati masa 5 tahunnya yang kedua…dengan baik tentunya, maka si pemilik perusahaan ini boleh sedikit lega, dan boleh mulai merasa optimis bahwa perusahaannya bakal bisa bertahan hingga dekade berikutnya.
Ehmm…siapa tahu?

Inovasi Produk dan Merk yang Kuat
Sebuah perusahaan dianggap berkelanjutan, bila dalam kurun waktu dua atau tiga puluh tahun selalu mempunyai produk (atau produk-produk) yang digemari oleh konsumen. Yang produk-produknya senantiasa dicari dan diminati oleh para pelanggannya. Setiap kali melaunch produk baru, senantiasa laris.
Bukan hanya produknya yang dicari, tapi merknya pun sangat dikagumi dan terpercaya. Apple dan Samsung merupakan dua jawara, yang launching produknya hampir selalu booming, fantastis.
Apa sebenarnya yang membuat produk perusahaan-perusahaan ini begitu digandrungi? Tak lain karena mereka mampu menyajikan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen atau pelanggan. Bahkan, perusahaan-perusahaan semacam ini mampu menciptakan trend baru, dan konsumen menggandrunginya, ngefans terhadap merknya.
Perusahaan-perusahaan yang ingin sustainable memang harus rajin-rajin menciptakan produk-produk inovatif. Dan tidak cukup dengan inovatif saja, tapi setiap produk juga harus dikomunikasikan dengan benar, hingga konsumen mendapat persepsi yang pas tentang produk inovatif tersebut. Komunikasi yang tepat inilah yang membuat konsumen antri saat launching sebuah produk baru.
Dan bila sebuah perusahaan selalu mencetak rekor penjualan saat launching produk inovatifnya, maka boleh dibilang perusahaan tersebut berpeluang mendapat julukan sustainable company.


Value dan Vision
Bagaimana perusahaan-perusahaan tersebut sedemikian konsisten dan menjadi jawara dari tahun ke tahun? Kunci pertama dilihat dari visi perusahaan. Di visi perusahaanlah terletak value apa saja yang ingin dipertahankan sebagai identitas perusahaan. Visi yang mengedepankan kesejahteraan umat manusia, akan lebih tahan lama (sustainable) ketimbang visi yang semata-mata mencari keuntungan pribadi saja.
Itulah sebabnya, ketika sebuah perusahaan menunjukkan kepeduliannya pada pelestarian lingkungan hidup, maka merk perusahaan tersebut menjadi terpercaya. Orang membeli dan menggunakan produknya sebagai penghargaan atas visi perusahaan. Dan…konsumen percaya bahwa produknya benar-benar bagus. Tentang kiprah perusahaan yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan hidup, Anda bisa membuka link berikut ini: http://www.coca-colacompany.com/plantbottle-technology/

Kualitas
Ada satu hal lagi yang mungkin dianggap ‘biasa’ pada perusahaan-perusahaan yang tahan lama ini, yaitu: kualitas yang senantiasa terjaga. Kualitas nomor 1 sudah menjadi keharusan, kebiasaan. Bila sebuah perusahaan ingin bertahan untuk waktu yang lama, maka setiap produknya (tanpa kecuali) harus berkualitas nomor 1. Sebuah perusahaan yang sustainable haruslah konsisten menghasilkan produk-produk berkualitas, tanpa kecuali.

Profit
Terakhir, perusahaan hanya akan mampu bertahan lama, bila operasional perusahaan tersebut mendatangkan cukup profit/keuntungan bagi para pemilik (share holders) dan karyawan. Kalau di bagian atas tadi lebih banyak diceritakan tentang benefit di pihak konsumen, maka profit terutama dinikmati oleh share holders.
Share holders tidak hanya menginginkan profit, tapi juga senantiasa bercita-cita memperoleh profit yang sebesar-besarnya melalui investasi seminimal mungkin. Share holders juga sangat gembira, bila investasi yang ditanamkannya mampu bertahan untuk waktu yang lama, dan tetap memberikan keuntungan.
Bagaimana share holders bisa ‘menghemat’ investasi? Salah satu caranya adalah melakukan perawatan terhadap fasilitas produksi. Dengan perawatan yang teratur, maka produktifitas mesin akan tetap terpelihara, masa pakainya menjadi semakin panjang dan tingkat kerusakan dapat diperkecil. Dengan demikian, penggantian mesin atau fasilitas produksi bisa ditunda, bukan?
Tentu saja, bukan hanya keuntungan yang bisa dinikmati oleh share holders, tapi juga kesejahteraan karyawan dan masyarakat sekitarnya. Perusahaan yang mampu meningkatkan kesejahteraan, tentu akan lebih ‘dicintai’ oleh karyawannya. Dengan demikian, turn over karyawan menjadi rendah dan produktifitasnya meningkat.

Menjadi perusahaan yang tahan lama, tahan banting dan tetap digemari oleh konsumen, karyawan dan masyarakat tidaklah mudah. Benar, bukan?

Kamis, 04 Desember 2014

PENYEBAB ‘GEGER’ DALAM BISNIS KELUARGA

Berbisnis dengan keluarga sendiri, rentan menimbulkan perpecahan. Kenapa bisa begitu? Apa saja yang harus dilakukan untuk mengatasinya? BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) mengupas hal ini dalam bincang bisnis bertajuk “Suksesi dan Regenerasi dalam Bisnis Keluarga”, Sabtu (22/11/14) lalu.
Dalam acara khusus untuk pemilik bisnis ini, Coach Suwito Sumargo sebagai pembicara menjelaskan, bisnis keluarga sebenarnya sudah ada sejak jaman Yunani. Ada juga pendapat yang mengatakan sudah ada sebelum revolusi industri. Seiring perkembangan jaman, bisnis keluarga merupakan bentuk bisnis yang paling banyak ada di Indonesia.
Permasalahan yang jamak terjadi dalam bisnis keluarga adalah rentan terjadi perselisihan antar anggota keluarga. Sehingga tidak heran, hanya sedikit yang bisa survive sampai generasi ke empat. Lainnya, gagal di 3 generasi sebelumnya.
“Kenapa sulit mengelola bisnis keluarga? Alasan pertama, banyak terjadi ‘geger’an, karena makin banyaknya yang terlibat dalam pengambilan keputusan. Kedua, adanya nepotisme yang ngawur. Misal dalam hal penerimaan karyawan. Asal saudara atau kerabat, boleh masuk saja dan langsung menduduki jabatan atas,”papar coach Suwito.
Selain dua hal itu, pelatih bisnis yang sudah 30 tahun lebih berkecimpung dalam bisnis keluarga ini menambahkan, budaya bisnis keluarga biasanya berasal dari budaya atau tradisi yang ada dalam keluarga itu sendiri, itulah sebabnya sering terjadi kesenjangan antara generasi tua dan generasi muda. Generasi tua punya pendapat, para muda (atau calon penerus) belum punya cukup pengalaman, kurang disiplin, tidak punya passion dan kurang memahami budaya kerja keluarga.
“Sebaliknya, generasi muda berpikiran, generasi tua adalah orang-orang yang konservatif dan memaksakan kehendak. Beberapa pemimpin (generasi tua) dianggap enggan melepas kekuasaan dan memberi kesempatan pada yang muda untuk maju,” lanjutnya.
Untuk mengatasi perselisihan dalam bisnis keluarga, ada beberapa hal disimpulkan dari forum ini. Pertama, menyiapkan calon pemimpin (suksesor) dari awal. Seringkali keluarga kesulitan mencari pengganti yang benar-benar pas untuk melanjutkan. Selain pendidikan yang tinggi, bekali dia dengan bekal pengalaman kerja nyata. Contohnya dengan mengambil waktu untuk magang atau kerja di bisnis lain.
Kedua, bekerja bersama-sama. Selain membedakan hak dan kewajiban masing-masing, poin yang penting dilakukan adalah intens komunikasi.
“Meeting keluarga secara rutin penting dilakukan, komunikasi merupakan kunci dalam keharmonisan bisnis keluarga,’ tegas the Winner Supportive Coach and System Award 2014 ini.
Selain memberikan contoh dan pengalaman nyata problem bisnis keluarga sekaligus solusinya, dalam bincang bisnis ini coach Suwito juga berdiskusi aktif dengan para peserta terkait problem dalam bisnis keluarga mereka. 

JOSHUA BELL STORY - By: Coach Ruaniwati

Seorang pemain biola terkenal, Joshua Bell bersama dengan surat kabar Washington Post melakukan eksperimen untuk mengetahui persepsi orang dengan cara tampil di stasiun kereta bawah tanah di Washington. Waktu itu, dia memainkan 6 lagu gubahan karya Bach selama 45 menit pada jam tersibuk stasiun.
Hanya 6 orang saja yang berhenti dan mendengar permainannya sejenak dan total hari itu ada 20 orang yang memberi tips yang berjumlah 32 dolar. Padahal sehari sebelumnya, dia tampil di Boston dengan tiket ludes terjual dengan rata-rata tiket seharga 100 dolar.
Yang mengejutkan, tidak ada orang yang mengenali Joshua Bell di stasiun pagi itu. Joshua adalah salah satu pemusik terbaik di dunia dan pemenang Grammy Award, memainkan gubahan lagu Bach dengan biola senilai 3,5 juta dolar waktu itu.
Apa pelajaran yang bisa kita dapatkan dari cerita ini?
Andai saja, kejadian di pagi itu diberitakan atau dipromosikan, kejadiannya akan jauh berbeda, saya membayangkan para fans Joshua Bell bakal datang nonton. 
Apa yang salah disini?
Tidak ada orang yang tahu bahwa Joshua akan manggung pagi itu. Tidak ada orang lewat di situ yang mengenali siapa dia. Tidak ada tanda-tanda yang menyatakan bahwa yang manggung itu pemusik biola paling top di dunia.
Relevan dengan cerita di atas, ternyata jika salah tempat,  seciamik apapun perusahaan/ produk/ layanan kita, tidak ada yang tertarik.
Kualitas ternyata jika ditaruh tidak pada tempatnya tidak akan menimbulkan dampak apa-apa. Jika salah tempat sekalipun kalau tidak di woro-woro juga tidak berdampak banyak.
Dari beberapa diskusi dengan pebisnis, saya jadi sadar bahwa terkadang kita tidak menentukan dulu dimana, kapan dan dengan cara apa kita mau bermain.
Masih mau main dengan cara ini? 

Kamis, 27 November 2014

NIAT - By: Coach Humphrey

“Aduh, anak buah saya kok gak niat kerja, sih!”
Begitu keluhan beberapa pengusaha yang sering saya dengar. Sebenarnya apa niat itu, dan apa hubungannya dengan konteks SDM atau tim dalam sebuah bisnis?
Dari diskusi dengan para pemilik bisnis, saya simpulkan, niat merupakan itikad atau keseriusan seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam bisnis, tim merupakan aset bagi perusahaan. Jadi, kalau anak buah tidak punya niat, maka bisa dikatakan kita punya aset yang tidak baik.
Itulah sebabnya, jika ingin bisnis kita sukses, maka perlu untuk membina tim dengan baik. Perlu membangkitkan niat mereka untuk bekerja dengan optimal dan mendukung kemajuan perusahaan. Sering kita lihat, gara-gara nggak niat, orang pintar sekalipun jadi tidak berguna buat perusahaan.
Seorang anak buah dikatakan tidak niat jika dia memiliki waktu dan kemampuan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan, tapi dia lebih memilih tidak melakukan. Tipe seperti ini adalah bad fruit atau buah buruk dalam perusahaan, yang mau tidak mau harus segera dibuang sebelum merugikan perusahaan.
Masalahnya, selama ini kasus yang saya jumpai justru bukan berasal dari anak buah yang nggak niat, tapi dari pengusahanya sendiri yang keliru menilai. Anak buah sering dicap nggak niat, padahal mereka hanya tidak mampu menyelesaikan tugas yang diberikan. Bisa berarti tidak mampu karena skillnya kurang. Atau dia mampu, namun tidak ada waktu cukup untuk menyelesaikannya. Hal itu yang kemudian membuat niat mereka jadi ‘surut’.
Lalu bagaimana caranya untuk membangkitkan niat pada anak buah?
Pertama, memastikan kecocokan skill atau pengalaman. Tujuannya agar perintah yang diberikan mudah diserap dan anak buah punya rasa PD mengerjakan karena punya skill dan background yang sama.
Contoh perintah yang diberikan bisa seperti, “Saya lihat anda pernah melakukan pekerjaan XYZ. Nah, saya minta anda melakukan lagi, namun dengan sedikit perubahan.”
Kedua adalah setting timing yang jelas. Kita harus tahu waktu atau kapan anak buah mengerjakan tugas yang kita berikan. Sebaiknya ditanyakan kapan mereka melakukan kerjaannya, kapan waktu selesainya. Jika mereka tidak mampu, maka kita hendaknya membantu yang bersangkutan.
Mungkin bisa dengan memberi penjelasan, tugas mana dulu yang diutamakan, kesulitannya apa saja, dan sebagainya. Intinya, pastikan dia memiliki alokasi waktu yang cukup untuk menjalankan perintah kita.

Gimana? Sebenarnya mudah bukan untuk membuat anak buah kita niat bekerja?

Senin, 24 November 2014

BISA DAN TERBIASA - By: Coach Suwito Sumargo

Seorang pebisnis resah, karena tak kunjung menemukan karyawan yang diinginkan. Ketika mendengar keluh kesahnya, saya bertanya: "Pekerjaan apa saja yang harus dilakukan si (calon) karyawan?".
Dia menjawab: "Menulis bon pesanan, faktur penjualan, mengatur-memeriksa-mencatat barang-barang yang masuk/keluar, stok opname...ehm, apalagi ya?".
Kami pun terdiam. Setelah beberapa saat, saya bertanya: "Masih ada lagikah yang harus dia kerjakan?". Dengan raut wajah ragu, dia bertanya: "Terlalu banyak ya, Coach?".
Saya tidak terlalu menanggapi tentang detil pekerjannya. Bagi saya, yang terpenting adalah seorang pimpinan harus tahu apa saja yang akan dikerjakan karyawannya, lalu menentukan karakter dan keahlian seperti apa yang seharusnya dimiliki mereka (karyawannya), agar tugas-tugas tersebut dapat dilaksanakan dengan baik.
Pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan administrasi, membutuhkan ketelitian/kecermatan, kerapian, kemampuan berpikir sistematis dan logis. Semua ini bisa dikenali lebih dulu melalui psikotes. Namun, tak ada salahnya bila hasil psikotes tersebut di periksa ulang atau dibandingkan dengan apa yang dilakukan sehari-hari. Misalnya: seberapa teliti/cermatnya, seberapa rapi dan sistematis/logis dalam melakukan tugas sehari-hari. Bisa saja, ada perbedaan antara hasil tes dengan kenyataan.
Hal lain yang tak kalah pentingnya ialah, apakah mereka bisa bertahan dengan pekerjaan yang itu-itu saja? Apakah mereka tidak bosan? Karena kita tidak butuh karyawan yang hanya bisa bekerja sebentar atau selama beberapa hari/minggu saja, tapi butuh karyawan yang bisa dan terbiasa melakukan pekerjaan yang sama, terus menerus tanpa bosan.

Terbiasa berarti bisa mengerjakan terus menerus, hingga menjadi kebiasaan. Agar bisa terbentuk kebiasaan kerja yang konsisten, butuh karakter yang stabil dan tidak neko-neko. Teliti kembali karakter karyawan Anda, siapa tahu mungkin butuh penataan ulang atau pelatihan lagi, agar bisa lebih optimal.

Jumat, 21 November 2014

PEOPLE OR SYSTEM - ( Intisari Forum Discussion Group (FDG) II – 14 Nov ’14 )

Mana yang lebih dulu, ayam atau telur?
Bagi pebisnis, menjawab hal ini seperti menjawab pertanyaan: mana yang lebih penting, membentuk sistem dulu baru merekrut SDM? atau sebaliknya?
Dalam sebuah riset yang diadakan oleh tim Research and Development kami, sebanyak 79% pebisnis memilih sistem lebih dulu. Dengan adanya sistem, semua akan teratur atau terencana, sehingga orang-orang yang ada akan bekerja sesuai dengan sistem yang sudah dibuat. Sedangkan sisanya, sebanyak 21% lebih memilih merekrut SDM dulu, dengan alasan jika orang-orangnya tidak ‘mumpuni’, maka sistem yang lahir nantinya juga akan buruk atau tidak berkualitas.
Sebenarnya apa itu sistem? Apa pentingnya sistem dalam bisnis kita? Dari forum diskusi yang kami adakan beberapa waktu lalu (Jum’at, 14 Nov ’14), sebagian besar pemilik usaha berpendapat, intinya sistem merupakan sesuatu yang terencana, di dalamnya terdapat orang-orang yang keseluruhannya mengacu pada visi-misi perusahaan.
Sistem bisa saja lahir pada saat kita pertama kali membangun usaha atau pada saat usaha mulai besar dimana proses pekerjaan kita sudah dapat didelegasikan ke bawahan. Sederhananya, sistem itu berangkat dari aturan main. Sebuah aturan main bisa kemudian disebut sistem jika ‘dia’ terbukti bagus, dalam artian bisa menghasilkan profit yang berkelanjutan.
Lebih jauh bicara tentang sistem, kita juga harus memiliki sistem default sebagai acuan. Jika sistem baru yang kita buat tidak sesuai dengan lapangan kita bisa kembali ke sistem default. Sistem default adalah sistem yang berlaku di lapangan, tidak didesain sebelumnya dan berjalan apa adanya.
Ada kasus menarik yang diberikan coach Humphrey Rusli (moderator FDG II) dalam forum ini. Contohnya fakta yang dialami oleh salah satu pengusaha kuliner, waktu usahanya berdiri di daerah kumuh, rumah makannya ramai dikunjungi pelanggan. Namun, ketika pindah ke tempat yang lebih besar dan bersih, pengunjung malah banyak yang ‘lari’ dan menurun drastis. Beberapa perusahaan seperti ini, sistemnya amburadul tetapi sukses, dan setelah sistemnya dirapikan justru mengalami kerugian. Kok aneh, ya? Menurut anda, kira-kira apakah ada yang salah dengan perubahan sistemnya dan bagaimana solusinya?


JANGAN JADI AKTOR UTAMA SAJA
Selama ini, sebagian besar pengusaha atau pemilik bisnis hanya menempatkan dirinya sebagai aktor utama. Apa yang saya rasakan, apa saja yang harus saya lakukan, menurut saya gimana. Mereka terlalu berkutat untuk perbaikan diri sendiri, tanpa menyadari bahwa melihat dari sisi konsumen (market) adalah hal yang tak kalah pentingnya.
Market itu tidak mengenal teori, diperlukan analisa dan penggalian informasi yang akurat jika kita ingin membuat sistem, terutama dalam menggali jenis dan kemauan konsumen kita. Selama ini konsumen membeli produk kita karena apa?
Secara garis besar, ada 3 faktor yang menyebabkan konsumen memakai produk atau jasa kita:
1.     Fungsionalitas. Poin ini seperti pelayanannya cepat, murah, komplit, dan tempatnya dekat/ mudah ditemukan dimana-mana.
2.     Emosional. Kesan apa yang ingin didapatkan ketika memakai sebuah produk atau jasa. Seperti kesan mewah, gengsi, pintar, dan masih banyak lagi.
3.     Familiaritas. Seperti kebiasaan yang sering dilakukan dan konsumen merasa nyaman dengan kebiasaan itu.
Pada kasus pengusaha kuliner (rumah makan) di atas, pelanggan ‘setia’ mungkin lebih memilih datang ke depot kumuhnya, karena sudah terbiasa dan nyaman disitu (faktor familiaritas). Bisa juga karena tempatnya yang mudah dijangkau (faktor fungsionalitas). Sebab itu, tidak mengherankan jika kemudian rumah makannya menjadi sepi ketika dia pindah tempat.
Alangkah baiknya, jika pengusaha itu ingin melebarkan ‘sayap’ bisnisnya, bisa dengan membuka cabang baru, tempat baru, jenis atau segmen konsumen baru, dan dengan pendekatan yang baru juga. Entah itu melalui pendekatan fungsionalitas, emosionalnya, maupun familiaritas. Itu jika kita bicara tentang konsumen bisnis sendiri, bagaimana dengan konsumen dari kompetitor? dalam dunia usaha, tentunya bukan hal baru jika setiap pengusaha saling berebut konsumen atau pasar.
Ada beberapa cara merebut konsumen yang sudah loyal dengan produk tertentu, diantaranya:
1.     Mengeluarkan produk yang berbeda/ unik. Bersifat lain daripada kompetitornya.
2.     Mengeluarkan produk yang sejenis dan menyamakan familiaritasnya dengan kompetitor. Misal mie merk XYZ, yang mengeluarkan jenis produk sama dengan kompetitornya seperti mie kuah rasa soto koya dan masih banyak lagi.
Sebenarnya sulit untuk merebut konsumen yang membeli suatu produk/ jasa karena familiaritasnya, untuk itu alangkah baiknya jika kita menciptakan konsumen dengan segmen sendiri. 

Kembali ke pertanyaan utama: mana yang lebih penting, membentuk sistem dulu baru merekrut SDM? atau sebaliknya? dari FDG II ini disimpulkan, sebaiknya sistem ditentukan atau dirancang terlebih dahulu oleh pemilik perusahaan, karena pemilik perusahaan paling berperan besar dan yang lebih banyak menanggung resiko jika sistem yang dijalankan ‘amburadul’.