business-forum

coaches

More Video! Visit : BARACoaching Channel on Youtube

Kamis, 25 September 2014

REKRUTMEN SAMA PENTINGNYA DENGAN PENJUALAN (By: Coach Ruaniwati)


Dalam survei kecil yang dilakukan kepada para klien kami, ternyata 90% mengatakan, bidang yang menurut mereka paling meresahkan di usaha mereka adalah tantangan di SDM (Sumber Daya Manusia).
Tertarik dengan topik itu, saya menanyakan lebih lanjut apa maksudnya. Ada beberapa jawaban umum, misalnya: “Kok kayaknya sulit mencari pegawai yang baik, kalau pandai biasanya tidak bertahan lama karena pindah ke perusahaan yang lebih besar atau  buka usaha sendiri.”
“Jika sudah bergabung, ada aja masalahnya. Dari banyak alasan untuk tidak disiplin sampai tidak mencapai target yang diharapkan. Kok beda ya dengan 10 atau 15 tahun lalu? Kayaknya waktu itu lebih mudah me-manage pegawai”.
Mana yang benar sih? Apakah jamannya berubah sehingga angkatan kerjanya juga berubah, atau kita sebagai pengusaha me-manage dengan cara keliru?
Tentu saja jawaban atas pendapat-pendapat ini dijawab dengan jawaban yang berbeda-beda, karena antara perusahaan yang satu dengan yang lain kondisinya tidak sama. Namun yang bisa kita kerjakan dengan cara sama untuk semua perusahaan, adalah terlebih dulu memikirkan sumber daya manusia sejak proses perekrutannya.
Beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam proses perekrutan diantaranya, dengan mengetahui secara spesifik, bagian apa yang diperlukan, misalnya tenaga penjualan, telemarketing, purchasing, gudang, customer service, dan lain-lain.
Melakukan wawancara serta menggunakan sejumlah tes untuk mengetahui apakah kandidat kita mempunyai kapabilitas seperti yang kita inginkan. Dan paling penting, melakukan proses ini dengan disiplin, untuk memperbesar kemungkinan mendapatkan kandidat terbaik.
Yang jarang terpikirkan dalam proses rekrutmen adalah pencarian kandidat pegawai seyogyanya dilakukan seperti pada waktu kita melakukan proses pencarian pelanggan. Untuk proses penjualan kita rela membuat strategi, perencanaan dan menjabarkan pelaksanaannya secara rinci. Biasanya dengan konsisten kita lakukan, karena jika tidak, maka pendapatan perusahaan jadi taruhannya. Sebenarnya proses rekrutmen tidak jauh berbeda. Jika saja kita melakukan proses yang sama dengan penjualan maka mendapatkan karyawan yang cocok, tentu tidak lagi sulit.
Setelah kita merekrut karyawan yang baik dan cocok, maka selanjutnya adalah proses hubungan yang dibangun antar karyawan maupun dengan atasan. Bagaimana Anda melakukan hal ini di perusahaan Anda? Sistem seperti apa yang kita anut untuk manajemen sumber daya manusia kita?

Silakan share problem Anda dengan kami, pada kolom komentar di bawah.

Rabu, 24 September 2014

BAGAIMANA BILA PARTNER BISNIS ANDA MENYEBALKAN? (Memilih Partner Bisnis yang Cocok)

Coach Suwito Sumargo - The Most Supportive & System Coach Award 2014 (BEF Indonesia 2014)
Tono mengajak Danny untuk menjadi partner di bisnis yang sedang dirintisnya. Danny sudah berteman dengan Tono selama lebih dari dua dekade. Suatu ketika mereka bertemu dan inilah (sekilas) percakapan mereka.
Danny   : “Gimana nanti pembagian sahamnya?”
Tono     : “Gampanglah bisa diatur, yang penting kita jalan dulu.”
Danny   : “Terus kapan kita mulai?”
Tono     : “Gampang kalau uang investornya udah cair.”
Bila Anda adalah Danny, apakah akan melanjutkan kerjasama ini?
Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam memilih partner bisnis.

Karakter
Beberapa orang/ pengusaha memang punya gaya seperti Tono, yang mudah mengatakan: “gampang”. Bagi Tono, tidak ada persoalan yang terlalu sulit untuk dipecahkan. Ada dua kemungkinan melihat seseorang dengan ciri seperti itu. Dia terbiasa menggampangkan atau menyepelekan masalah. Atau mungkin dia adalah seorang jenius dan selalu optimis bisa menyelesaikan masalah (apapun).
Dalam cerita di atas, Danny yang sudah lama mengenal Tono, mungkin sudah paham karakter atau ciri-cirinya. Namun, bagi Anda yang tidak memahami, Anda bisa terkaget-kaget.
Perubahan Tono bisa terjadi dengan cepat, sementara Anda masih mikir-mikir. Bila Anda tidak betul-betul memahami karakter orang seperti Tono, sebaiknya Anda tidak bekerjasama dengan orang seperti ini.

Komunikasi
Komunikasi adalah kunci keberhasilan berhubungan dengan orang lain. Itu kenapa, komunikasikan segala sesuatu dengan jernih dan mudah dipahami. Sediakan waktu setiap hari dengan partner Anda, untuk mengevaluasi pekerjaan atau sekedar sharing.

Keputusan yang Berbeda
Suatu saat, seorang karyawan membuat kesalahan fatal. Partner bisnis Anda menginginkan agar si karyawan di-PHK seketika. Sebaliknya, Anda cenderung memberi kesempatan si karyawan untuk memperbaiki kesalahannya dan tidak serta merta memecatnya.
Perbedaan seperti ini bisa menimbulkan rasa tidak enak. Apalagi bila Anda tidak bisa memutuskan sendiri dan harus senantiasa mempertimbangkan pendapat partner bisnis Anda. Perbedaan pendapat seperti ini tidak pernah Anda alami sebelumnya. Celakanya, bila hal seperti ini terjadi saat kerjasama sudah berjalan, maka akan sulit bagi Anda untuk melangkah mundur.
Cara seseorang bertindak atau memutuskan sesuatu, dipengaruhi oleh pandangan hidup dan keyakinannya. Sebelum Anda memilih seseorang sebagai partner bisnis, ada baiknya Anda kenali secara mendalam pandangan hidup dan keyakinannya, yang tercermin dari tindakan dan cara pengambilan keputusannya.

Kompetensi atau Keahlian
Bekerjasama dengan partner yang punya kompetensi/ keahlian. Selain kompetensi atau skill sesuai dengan bisnis yang dikelola, pilihlah partner yang punya skill yang bisa menutupi kelemahan atau kekurangan Anda. Misal Anda ingin membuka toko aksesoris, namun tidak tahu seperti apa barang yang mesti didisplay, atau dimana mendapatkan aksesorisnya, maka Anda bisa memilih partner bisnis yang menguasai hal itu.
Selain punya relasi dan klien usaha banyak, partner bisnis yang berkompeten memungkinkan Anda bisa berkreativitas secara maksimal untuk memajukan bisnis agar bisa diterima pasar.

Pembagian Tugas, Tanggung Jawab, Kewajiban dan Hak
Bisnis itu ibarat kapal. Bagaimana jika dalam 1 kapal ada 2 nahkoda? Untuk menghindari perpecahan, ketika Anda mulai membangun bisnis dengan partner, tuliskan rules of the game yang jelas. Seperti apa pembagian tugas, tanggung jawab, hak dan kewajiban masing-masing dalam kerja.

Pisahkan Harta Pribadi dari Harta Perusahaan

  • ·  Pisahkan rekening pribadi dan rekening bisnis. Jadi usahakan minimal punya 2 rekening yang berbeda. Pun dengan partner bisnis Anda.
  • ·         Pastikan Anda dan juga partner menerima gaji, layaknya karyawan. Pergunakan gaji tersebut untuk keperluan pribadi. Jangan sampai mencampur adukkan uang perusahaan untuk keperluan pribadi.
  • ·         Hindari sebisa mungkin penggunaan aset pribadi. Contohnya, perusahaan menggunakan kendaraan pribadi Anda atau partner untuk urusan perusahaan. Maka harus ada penghitungan secara profesional, misal dihitung sebagai sewa yang dibayar dengan uang perusahaan.

Jika Partner Bisnis Adalah Pasangan Hidup

  • ·        Sebisa mungkin, bersikaplah obyektif terhadap pasangan Anda. Jika terdapat perbedaan pendapat dalam urusan bisnis, jangan sampai mengganggu hubungan personal dalam keluarga. Begitupun sebaliknya. Jadi, ketika Anda memutuskan untuk menjadikan pasangan hidup sebagai partner bisnis, maka Anda juga harus siap untuk bersikap profesional, dengan memisahkan antara urusan bisnis dan keluarga (pribadi).
  • ·        Pemisahan aset bisnis dengan aset pribadi atau aset keluarga sejak awal. Usahakan memisahkan rekening pribadi dan bisnis. Selain itu, jangan pernah mencampur-adukkan keuangan perusahaan dengan urusan pribadi.

Apakah partner Anda adalah pasangan bisnis yang terbaik?
Lalu bagaimana jika masalah bisnis sudah sering (terlanjur) berujung pada masalah keluarga?

Share your problem or (success) story with our coach!
Facebook : fb.me/actioncoachsby

Dapatkan solusinya, langsung dari para pelatih bisnis Internasional!

Senin, 15 September 2014

BISAKAH KITA MENGUBAH PERILAKU SESEORANG


Hampir mustahil, demikian selalu jawaban orang yang kita tanyai seperti diatas. Sebenarnya, mengubah perilaku seseorang itu bukan hal mustahil. Hanya saja, mengubah perilaku seseorang itu memang tidak mudah.
Tanpa bantuan weker atau alarm, saya selalu terbangun pada jam 5.30 pagi. Ini terjadi setiap hari, Senin hingga Minggu. Entah itu hari kerja maupun hari libur. Ini adalah kebiasaan saya. Apakah kebiasaan bangun pagi saya ini bisa dirubah?
Tentu saja bisa. Bagaimana caranya?
Agar saya bisa bangun lebih pagi atau lebih siang, saya butuh ‘sesuatu’ sebagai target atau pengingat. Misalnya, ketika saya tinggal di Jakarta untuk sementara waktu, maka saya tidak perlu bangun jam 5.30. Setelah memikirkan berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk bangun jam 7.00, karena toh saya baru berangkat kerja jam 8.00.
Untuk mengubah kebiasaan bangun jam 5.30 menjadi jam 7.00, saya menggunakan weker atau alarm yang berbunyi pada jam 6.00 dan sebelum tidur saya menggumamkan kata-kata:”Besok bangun jam 6.00”, berulang kali. Ini saya lakukan selama 1 minggu atau hingga saya terbangun dengan sendirinya meskipun pada hari ke delapan weker sudah tidak saya fungsikan.
Kemudian saya mengubah setelan weker menjadi jam 6.30 dan sebelum tidur saya menggumamkan kata-kata: ”Besok bangun jam 6.30”, berulang kali. Setelah 1 minggu, saya pun berhasil mengubah kebiasaan saya, menjadi terbangun secara otomatis pada jam 6.30. Demikian saya lakukan (secara bertahap) hingga saya bisa terbangun dengan sendirinya pada jam 7.00.
Apa yang bisa kita pelajari dari cerita diatas?
Kebiasaan seseorang bisa dirubah, tapi perlu alat bantu (dalam cerita diatas: weker) dan perubahan ini sebaiknya dilakukan secara bertahap. Perubahan perilaku juga tidak bisa dilakukan secara mendadak atau besar-besaran. Orang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan perubahan. Dan, semakin besar atau mencolok perubahan yang dialami, maka penolakan pun akan semakin kuat. Perubahan secara gradual akan lebih bisa diterima.
Hal penting lainnya adalah: Komitmen dan Disiplin. Komitmen dimulai dengan kesungguhan kita untuk mau berubah. Dan disiplin akan terbentuk kemudian, bila kita memang sungguh ingin memiliki kebiasaan baru.
Perilaku seseorang hanya bisa berubah bila yang bersangkutan memang sungguh-sungguh mau berubah. Jadi harus punya komitmen atau niat yang kuat. Disinilah masalahnya! Orang enggan mengubah perilaku, terutama karena dia atau mereka sudah atau sedang berada di zona nyaman. Mereka hanya akan berubah, bila mereka menemukan (jaminan) adanya zona nyaman yang baru. Dengan kata lain, mereka menginginkan reward, sebagai iming-iming agar mereka mau berubah .
Perilaku yang buruk seringkali terjadi sebagai akibat perlakuan-perlakuan yang dialami sebelumnya. Sering terlambat masuk kerja, mungkin hanya akibat dari rangkaian kejadian sepanjang pagi hari.
Seorang perempuan mengaku sulit hadir tepat waktu di tempat kerja, karena ternyata dia tidak bisa mendelegasikan pekerjaan-pekerjaan ke-rumahtangga-an yang harus dilakukannya sendiri, setiap pagi. Setelah digali lebih dalam, perempuan yang cenderung perfeksionis ini, selalu tidak puas bila pekerjaan-pekerjaan di rumah dilakukan oleh orang lain.
Agar dia bisa berubah, maka dilakukan pemilahan: pekerjaan mana saja yang dianggap paling kurang penting. Kemudian, dia memilih siapa-siapa yang dipercaya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Ada yang dikerjakan ibunya, ada yang dikerjakan anaknya dan ada pula yang dikerjakan suaminya. Semua berusaha ‘belajar’ sesuai dengan arahan si perempuan ini. Selang sebulan, si perempuan sudah bisa hadir selalu tepat waktu.
Perempuan ini mau berubah, setelah dia meyakini bahwa bila semua orang di rumah bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan ke-rumahtangga-an dengan baik, maka dia akan menjadi perempuan yang terpuji dan bijak.
Dalam dunia bisnis, Anda pun juga bisa melakukannya: mengubah perilaku buruk diri sendiri dan orang lain (misal: karyawan Anda). Lalu mana yang lebih penting menurut Anda, mengubah perilaku diri sendiri atau orang lain? 

Senin, 08 September 2014

Inspirasi Filsafat Wayang Jawa Dalam Dunia Bisnis (Part II) - BELAJAR MENJADI ‘ARJUNA’ DALAM BISNIS


Membangun bisnis itu ibarat membangun sebuah kerajaan. Pernah tidak, terpikir mengapa kerajaan-kerajaan Indonesia pada jaman kuno bisa bertahan sampai puluhan bahkan ratusan tahun. Apa saja resep yang bisa dipelajari untuk mendukung bisnis Anda di jaman modern seperti sekarang?
Salah satu tokoh yang banyak menginspirasi adalah Arjuna. Arjuna memang bukan bagian dari petinggi kerajaan-kerajaan Indonesia, namun cerita kepahlawanannya sering dijadikan acuan para Raja di jaman kuno.
Selain tampan, Arjuna juga dikenal karena kepandaiannya dalam memanah. Dia selalu bisa fokus dan dengan tepat membidikkan panahnya pada sasaran yang diinginkan.
Agar sukses, maka harus fokus. Demikian yang sering kita dengar. Maka, kita pun sibuk melatih diri agar bisa fokus. Fokus sepertinya sesuatu yang biasa-biasa saja, namun ternyata tidak semua orang bisa melakukannya dengan baik. Kita perlu melalui sebuah proses, melakukan sebuah gerakan tertentu, berulang kali, sebelum kita bisa memanah, menembak atau memasukkan bola basket ke dalam jaring dengan tepat.
Ada cerita menarik tentang Arjuna, ketika Drona mengajaknya dan keempat Pandawa lain masuk ke dalam hutan, untuk latihan memanah. Drona menggantungkan sebuah burung-burungan dari kayu di sebuah ranting pohon, di seberang sungai, tempat mereka berdiri.
Pertama, sang Guru memanggil Yudhistira dan bertanya,”Apa yang kamu lihat?”
“Aku melihat burung.”
“Apa lagi yang kamu lihat?”
“Aku melihat ranting dan daun.”
“Apa lagi?”
“Aku melihat pohon-pohon hutan dan sungai,” kata Yudhistira.
Drona menyuruhnya kembali, dan memanggil Bima.
“Apa yang kamu lihat?” tanya Drona pada Bima.
“Aku melihat burung.”
“Apa lagi yang kamu lihat?”
“Aku melihat langit, pohon, dan rumput.”
Selanjutnya, Drona menanyai Nakula dan Sadewa, dan menerima jawaban yang hampir sama. Akhirnya, Drona memanggil Arjuna.
“Apa yang kamu lihat, Arjuna?”
“Saya melihat mata burung, Guru.”
“Apa lagi yang kamu lihat?”
“Tidak ada, Guru.”
Drona bertanya lagi,”Kamu tidak melihat apapun lagi?”
“Tidak, Guru,” katanya penuh keyakinan.
“Apa kamu melihat ranting, daun, pohon, atau langit?”
“Tidak, Guru. Saya tidak melihat apapun kecuali mata burung.”
Drona langsung menyuruh Arjuna menembak, dan panah pun melesat tepat mengenai mata burung.
Dalam cerita ini, Drona mengajarkan agar fokus kepada sasaran, baru kemudian memanah. Namun hanya Arjuna yang sanggup melihat satu sasaran dan memanahnya dengan tepat. Jadi, bisa dikatakan memanah yang efektif itu ya seperti Arjuna. Selama kita belum fokus, maka tindakan (memanah) kita akan sia-sia atau tidak mengenai sasaran.
Bekal fokus juga sangat diperlukan bagi pebisnis, agar bisa membidik sasaran yang ingin dituju dengan tepat. Hanya 20% pebisnis yang memiliki kelebihan seperti Arjuna. Punya intuisi tajam untuk membidik sasaran bisnis dengan tepat. Selebihnya, sebagian besar pebisnis cenderung hanya disibukkan oleh analisa lingkungan, tapi justru lemah dalam eksekusi. Mereka seringkali terlalu banyak mikir dan akhirnya tak kunjung mengambil keputusan dan melakukan langkah penting.

3 Poin Penting Dalam Membidik Target
Lalu bagaimana caranya, agar kita bisa menjadi sosok ‘Arjuna’ dalam memimpin bisnis? Bagaimana agar kita bisa fokus, membidik target dengan tepat, dengan tindakan yang lebih efektif sekaligus efisien.
Pertama, zoom out to zoom in. Artinya, melihat sesuatu secara keseluruhan atau lebih luas, sebelum akhirnya lebih detail dan spesifik dari jarak dekat. Poin ini bisa didapat dari mempelajari lingkungan kompetitor kita, siapa saja mereka dan bagaimana cara mereka dalam membidik target pasar.
Intinya, kita harus melakukan persaingan dan perbandingan pasar. Bagaimana kita menemukan peluang yang tidak ditemukan oleh kompetitor, mempelajari kelemahan mereka dan membandingkan dengan apa yang sudah kita lakukan.
Dari situ, tariklah sebuah ‘garis’ yang lebih mengerucut, tentang siapa kompetitor utama kita, dan apa keunggulan yang bisa kita pakai untuk memenangkan ‘pertarungan’ bisnis.
Kedua, memperhatikan sasaran mana yang akan kita bidik, dan ‘peluru (panah)’ seperti apa yang akan kita gunakan agar tepat sasaran. Ada banyak pilihan peluru yang bisa digunakan. Dalam bisnis, dikenal dengan istilah bullet. Namun, hanya satu yang bisa tepat sasaran, disebut dengan cannon ball.
Cannon ball diperoleh dengan melakukan penelitian terlebih dulu. Hal ini untuk memudahkan kita mengetahui apa yang diinginkan oleh target (pasar atau konsumen) sebenarnya. Penelitian ini bisa bersumber dari kumpulan data perusahaan sedari awal berdiri dan atau dengan melakukan test and measure dalam skala kecil, yang ditembakkan berulang-ulang sampai tepat sasaran.
Bagaimana kita menginginkan hasil yang tepat jika kita tidak melakukan proses dengan benar. Dan bukankah proses yang benar itu kita dapat dari mencobanya berkali-kali, sampai menemukan model yang sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Ketiga, sering berdiskusi dengan pebisnis lain atau siapapun (pelatih bisnis, mentor, konsultan) yang bisa memberikan advice, menunjukkan ‘titik buta’, serta memperkaya wawasan dan menunjukkan apa yang tidak kita ketahui sebelumnya. Dengan melihat banyak hal dari banyak perspektif, maka akan semakin mudah buat kita untuk menentukan siapa lawan kita, berpikir out of the box, dan punya banyak cara juga untuk membidik target pasar dengan tepat.
Meskipun kesaktian Arjuna sudah didapat dari lahir, kemampuannya dalam memanah bukan hanya didapat dari insting, namun juga terus berlatih dan mengasah diri di bawah arahan Drona, gurunya. Demikian juga dengan Yudisthira dan para saudara Arjuna yang lain, yang awalnya tidak bisa melihat sasaran secara fokus, dengan latihan terus-menerus akan melatih kepekaan mereka dalam melihat sasaran secara tepat.
So, mulailah berlatih FOKUS, belajar banyak hal, melihat sesuatu dari banyak perspektif dan jadilah Arjuna dalam bisnis Anda!
Salam the NEXT Level!

Senin, 25 Agustus 2014

FILOSOFI KEPEMIMPINAN MASA KINI DALAM BUDAYA KUNO WAYANG JAWA (Part I)


Maraknya film Mahabaratha yang sekarang tayang di salah satu TV swasta mengingatkan saya tentang keberadaan wayang Jawa. Meskipun berasal dari negeri sendiri, cerita pewayangan Jawa sedikit banyak juga diadopsi dari kisah dewa-dewa dalam agama Hindu, yang berasal dari India. Seperti Mahabaratha yang bercerita tentang perselisihan Pandawa-Kurawa, serta Ramayana yang bercerita tentang kisah cinta Rama (perwujudan Dewa Wisnu) dan Shinta (Dewi Laksmi).
Wayang sebagai salah satu warisan budaya, dikenal sebagai bentuk budaya adiluhung. Artinya, budaya yang mempunyai nilai-nilai luhur. Cerita-cerita yang disampaikan selalu mengajarkan pesan moral, seperti empati, kejujuran, bijaksana, tanggung jawab, keadilan, dan budi pekerti yang baik.
Meskipun seiring perkembangan zaman, budaya wayang Jawa sudah semakin tergeser, namun tak dapat dipungkiri, banyak nilai-nilai filosofi yang bisa diambil dan diimplementasikan dalam kehidupan sekarang. Salah satunya dalam dunia bisnis.
Seorang pemimpin bisnis, hendaknya bukan hanya memahami kompetensi bisnis yang dijalankan. Lebih jauh, juga menerapkan nilai-nilai moral, karena bisnis bukan hanya tentang bagaimana dia menjalankan bisnisnya, tapi juga bagaimana dia berhubungan dengan orang lain untuk kesuksesannya.
Banyak sekali teladan kepemimpinan yang bisa dilihat dalam budaya kuno wayang Jawa. Pembelajaran tentang bagaimana seorang pemimpin harus bersikap dan bertindak. Baik dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, serta terhadap penciptanya.
Diantaranya cerita tentang lakon Yudistira (Puntadewa), si sulung Pandawa yang terkenal akan kebijaksanaan dan budi pekertinya yang luhur. Pada suatu hari Puntadewa memerintahkan Sadewa untuk mengambil air di sungai. Setelah menunggu lama, Sadewa tidak kunjung datang, lalu diutuslah Nakula, hal yang sama kembali terjadi, Nakula pun tak kembali. Lalu Arjuna dan akhirnya Bima. Semuanya tak ada yang kembali.
Akhirnya menyusullah Puntadewa. Sesampainya di telaga ia melihat ada raksasa besar dan juga adik-adiknya yang mati di tepi telaga. Sang Raksasa kemudian berkata pada Puntadewa bahwa barang siapa mau meminum air dari telaga tersebut harus sanggup menjawab teka-tekinya.
Pertanyaannya adalah apakah yang saat kecil berkaki empat dewasa berkaki dua dan setelah tua berkaki tiga? Puntadewa menjawab, itu adalah manusia, saat kecil manusia belum sanggup berjalan, maka merangkaklah manusia (bayi), setelah dewasa manusia sanggup berjalan dengan kedua kakinya dan setelah tua manusia yang mulai bungkuk membutuhkan tongkat untuk penyangga tubuhnya.
Sang raksasa lalu menanyakan pada Puntadewa, jika ia dapat menghidupkan satu dari keempat saudaranya yang manakah yang akan diminta untuk dihidupkan? Puntadewa menjawab, Nakulalah yang ia minta untuk dihidupkan karena jika keempatnya meninggal maka yang tersisa adalah seorang putra dari Dewi Kunti, maka sebagai putra sulung dari Dewi Kunti ia meminta Nakula, putra sulung dari Dewi Madrim. Dengan demikian keturunan Pandu dari Dewi Madrim dan Dewi Kunti tetap ada. Sang Raksasa sangat puas dengan jawaban tersebut lalu menghidupkan keempat pandawa dan lalu berubah menjadi Batara Darma.
Dari cerita tersebut, suatu ajaran yang baik diterapkan dalam kehidupan yaitu keadilan dan tidak pilih kasih.
Sampai sekarang, keadilan merupakan kebutuhan bagi setiap manusia. Dalam dunia usaha atau bisnis, membentuk lingkungan kerja yang teratur dan produktif bukanlah hal  yang mudah. Semua orang bisa menjadi pemimpin, tapi belum tentu menjadi pemimpin yang adil. Tak jarang karyawan melakukan protes atas kebijaksanaan pemimpin yang dinilai tidak adil. Hal ini karena setiap manusia memiliki hak untuk diperlakukan sama.
Seorang pemimpin bisnis dituntut untuk berlaku adil dan seimbang, pertama dalam hal yang berhubungan dengan peraturan ataupun kebijaksanaan perusahaan. Jangan pernah membandingkan atau bersikap tidak adil antara karyawan yang satu dengan yang lainnya. Jika harus mengambil keputusan, keputusan itu bersifat netral, bisa menguntungkan perusahaan dan karyawan Anda.
Selain itu, jangan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Berusahalah menempatkan diri pada posisi yang lain, jangan selalu melihat dari ‘kacamata’ diri kita. Dengan sikap empati, diharapkan kita bisa memandang dari perspektif orang lain, dan berlaku seimbang.  
Dalam kisah Puntadewa, bisa saja dia meminta Arjuna atau Bima untuk dihidupkan sebagai saudara kandung, namun secara bijaksana ia memilih Nakula, agar keturunan Pandu dari Dewi Madrim dan Dewi Kunti tetap ada.
Jika dihubungkan dengan kepemimpinan sekarang, seorang pemimpin, dalam menjalankan roda perusahaan, wajib menyingkirkan ego dalam dirinya. Dia harus bisa menempatkan antara kepentingan atau masalah perusahaan dengan kepentingan keluarga atau pribadi. Perlu adanya ketegasan untuk membedakan keduanya. Jangan sampai nantinya kebijakan perusahaan akan lebih meng’gemuk’kan salah satu pihak.
Lalu bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda bersikap adil dalam bisnis Anda? Teladan apalagi yang bisa kita ambil dari lakon pewayangan Jawa? Baca kelanjutannya dalam “FILOSOFI KEPEMIMPINAN MASA KINI DALAM BUDAYA KUNO WAYANG JAWA (Part II)”.

CEO Business Gathering - KUPAS GAYA ‘ROCKSTAR’ ALA PEMILIK BISNIS


Apa reaksi Anda ketika mendengar kata rockstar? Mungkin ada yang beranggapan negatif tentang penyanyi rock. Mereka sering dipersepsi buruk, dengan gaya tampilan yang sering keluar dari aturan atau ‘pakem’ yang ada. BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) mendobrak pemikiran tersebut dalam forum CEO Business Gathering, bertajuk “Think Like A Rock Star”.
Forum yang diadakan pada Senin (18/08/14) ini merupakan gathering ex klien BARACoaching Surabaya. Coach Han Budiyono selaku pembicara bertutur, ada nilai-nilai dari seorang rockstar yang bisa diteladani oleh pelaku bisnis dewasa ini. Salah satunya, berani tampil beda dan tidak khawatir meskipun orang lain tidak bisa menerima penampilan atau bahkan pemikiran mereka.
Mereka sering bertingkah laku di luar kebiasaan pada umumnya. Contohnya, grup Slank yang lebih memilih bergaya ‘natural’ waktu konser. Buat mereka, kostum panggung yang glamour, malah tidak cocok, karena tidak bisa dipakai dalam aktivitas keseharian.
“Para bintang rock benar-benar yakin dengan apa yang diyakininya, meskipun orang lain tidak. Satu nilai yang bisa dikorelasikan dalam bisnis sekarang, adalah being true to yourself. Sekarang ini masih banyak, calon pebisnis yang memulai bisnis dengan usaha yang sedang ngetrend. Pandangan ini keliru. Only do or sell something that you truly believe. Juallah produk atau jasa yang sesuai hati nurani Anda,” papar CEO sekaligus pendiri BARACoaching Surabaya ini.
Teladan lain yang bisa diambil dari seorang rockstar adalah selain lagu, mereka paham bahwa publikasi wajib hukumnya. Seorang pebisnis juga dituntut untuk paham, bagaimana agar produk atau jasanya dikenal orang.
Business owner harus jago dalam sales dan marketing. Meskipun bisa saja tim kita yang mengerjakan tugas-tugas marketing, branding, dan promotion, namun secara konsep tidak bisa didelegasikan. Tugas sebagai pemilik bisnis, adalah mengetahui bagaimana konsepnya sehingga apa yang tim lakukan bisa tepat sasaran.”

Popstar Punya Penonton, Rockstar Punya Pengikut
Ada yang mengatakan “popstar punya penonton, rockstar punya pengikut”. Fans rockstar tidak merasa hanya melihat konser atau pertunjukan, mereka benar-benar menjadi penonton yang fanatik.
Nilai positif lain yang bisa dipelajari oleh pebisnis dari seorang rockstar adalah mencari loyalis, bukan sekedar customer. Yang harus dilakukan adalah mengubah mindset, hanya mencari short term customers. Pemilik bisnis hendaknya bukan hanya menjual produknya, namun mengetahui bagaimana langkahnya agar customer yang didapat, menjadi loyalist (raving fans) produk dan jasanya.
Selanjutnya, old style vs new style. Jika dulu usaha Anda berada di ‘atas angin’, maka belum tentu berlaku juga untuk sekarang atau ke depannya. Untuk itu, seorang pemilik bisnis harus selalu menemukan cara untuk mengupdate bisnisnya sesuai perkembangan jaman.
Ibarat kolam ikan, yang akan habis jika diambil ikannya secara terus-menerus. Maka harus dipikirkan bagaimana caranya agar ikan menjadi produktif dan menghasilkan, sehingga tidak akan habis, meskipun dipancing terus-menerus.
Kita sering melihat gaya hidup seorang rockstar yang suka berpetualang dan bersenang-senang. Nilai ini juga bisa diambil oleh para pemilik bisnis.
“Teladan pentingnya adalah be above normal sometimes to learn and develop. Jadi, bukan hanya bersenang-senang, namun travel to style and learn. Bagaimana dalam perjalanan, kita bisa mengambil nilai-nilai pembelajaran yang akan mengubah cara pikir terhadap sesuatu, khususnya terkait bisnis. Ya, misal merencanakan travel untuk mempelajari budaya sekaligus bagaimana cara berbisnis baru yang belum kita lihat sebelumnya,” papar coach Han, pelatih bisnis yang punya predikat Platinum Mentor Coach dari ActionCOACH Internasional ini.