business-forum

coaches

More Video! Visit : BARACoaching Channel on Youtube

Rabu, 29 Januari 2014

Workshop Half Day: DISC for Selling



Menjual Secara Optimal dengan Mengetahui Perilaku Konsumen
dalam 5 menit

Apakah Anda mempunyai prospek yang sudah lama dikontak dan masih belum closing?

Apakah customer Anda bertindak berbeda dengan apa yang Anda harapkan dan Anda tidak tahu kenapa?

ATAU Anda betul-betul tidak mengenal tipe perilaku customer danAnda sedang dikejar target?


50% PRAKTIK DAN 50% TEORI
Only for 20 SEAT.

Apa yang Akan Anda dapatkan dari seminar ini?

1. Dalam 5 menit, Anda dapat langsung mengetahui tipe DISC - PRAKTIK
2. Tes DISC untuk masing-masing para peserta yang hadir
3. Memahami tipe perilaku, kekuatan dan potensi sales dari DISC
4. Memahami gaya pembelian, prioritas dan harapan customer dari tipe DISC yang berbeda-beda

Metode forum ini :
1. Presentasi dan diskusi
2. Berkelompok - mapping DISC
3. Role play

Investasi :
1 orang : Rp xxx
5 orang : Rp xxx

Diselenggarakan pada :
Hari : Rabu, 29 Januari'14
Waktu : 13.00-17.00
Tempat : Master Office ActionCOACH, PTC, Surabaya

Langkah pendaftaran :
1. Telepon ke 031 7390 666 untuk konfirmasi jumlah peserta
2. Transfer ke rekening BCA 788 022 0777 an Yonghan Suwandi Budiyono
3. Penerimaan SMS konfirmasi registrasi peserta dan gentle reminder H-1
4. Siapkan permasalahan dan tantangan Anda di lapangan untuk langsung dibahas di forum

ActionCOACH BARASurabaya
The Terrace TT 03-05, PTC (sebelah BNI)

Rabu, 22 Januari 2014

Discovery Day - BERIKAN SENJATA AMPUH DALAM PERANG HARGA



Untuk mensosialisasikan ActionCOACH kepada pemilik bisnis, khususnya di wilayah Surabaya dan sekitarnya, BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java & Bali) mengadakan seminar Discovery Day bertajuk “Price War”, Senin (20/01) kemarin. 
Erfina Hakim, selaku pembicara dan Business Development Manager (BDM) bertutur, selama ini para pebisnis secara sadar atau tidak sadar mengikuti pola atau perilaku pelaku bisnis lain yang cenderung masuk dalam permainan harga.
“Bisa dikatakan harga jual produk ditentukan oleh pasar, dan pelaku bisnis belum percaya diri mensetting harga sendiri. Nah, dengan acara ini diharapkan para pelaku bisnis akan menyadari titik kekuatan, baik dalam diri perusahaan atau kompetitor mereka, untuk menghindari price war,” ujar Erfina.
Lebih jauh, wanita berdarah Palembang ini juga menyebutkan beberapa hal yang perlu dilakukan  agar seorang pelaku bisnis terhindar dari perang harga. Diantaranya, yang paling penting adalah menemukan pembeda (niche) antara produk dan jasa yang dihasilkan, dengan yang lain.
“Meskipun begitu, sebagian besar pelaku bisnis sekarang ini masih mengikatkan diri dengan rutinitas usahanya. Nah, bagaimana mereka mau keluar dan menemukan strategi, jika masih terlibat dengan hal-hal operasional yang harusnya bisa didelegasikan,” ujar wanita yang akrab dipanggil Fina ini.
Selain itu, tambah Fina, para pebisnis sering keliru menentukan niche atau pembeda dalam usaha mereka.
“Itu kenapa perlu sudut pandang orang luar untuk menilainya. Dan di sinilah letak pentingnya pebisnis mempunyai pelatih (coach),” tegasnya di akhir acara.
Banyak hal yang dipelajari para peserta dalam seminar ini. Selain bagaimana cara terlepas dari jebakan perang harga (price war), dijelaskan tentang konsep fundamental bisnis yang diusung oleh ActionCOACH Internasional. Konsep ini sudah diterapkan oleh ribuan pemilik bisnis di seluruh dunia, dan berhasil mencapai titik sukses.

Selasa, 21 Januari 2014

HR FORUM - FROM CEO TO A GREAT COACH


Banyak perusahaan yang belum paham pentingnya coaching dalam perkembangan bisnis mereka. Metode coaching ditengarai sangat berpengaruh terhadap pengembangan pribadi karyawan dan juga bagian proses sistem manajemen kinerja. Lalu apa itu coaching? Dan hal apa saja yang mesti dipunyai seorang CEO atau manajer, agar dia menjadi seorang coach yang handal bagi timnya?
Untuk menjawab pertanyaan itu, SEA Corp. (ActionCOACH East Java & Bali) mengadakan forum bertajuk “Introducing Coaching in Your Business”. Acara yang diadakan Jum’at (27/12/13) ini, menghadirkan pembicara Suwito Sumargo, seorang International Certified Business Coach yang sudah berpengalaman lebih dari 30 tahun membangun bisnis.
Di awal sesi, coach Suwito memaparkan beberapa definisi coaching. Diantaranya menurut Whitmore (1997), coaching is the process of empowering others. Dalam artian, lebih pada membantu orang lain untuk belajar, daripada mengajari mereka.
Menurut finalis Rookie Coach of The Year 2013 ini, coaching berbeda dengan training, karena metode training memang ada untuk tujuan dan pencapaian target tertentu.
“Seorang coach membantu orang lain melihat ‘blind spot’ dan membuka potensi mereka. Forum ini diadakan, agar para CEO sadar, bahwa untuk menjadi coach bagi karyawannya, bukan hanya dibutuhkan pemahaman saja. Secara pribadi, dia harus punya willing to help others, bersedia dengan tulus mengembangkan potensi orang lain,” tegas coach Suwito.
Lebih jauh, dijelaskan dasar-dasar sikap yang harus dimiliki oleh manager as a coach. Yang utama, listen more than talks, lebih banyak mendengarkan daripada bicara.
“Yang dimaksud dengan mendengarkan di sini adalah deep listening. Cobalah untuk menekankan kontak mata dan mencondongkan telinga di saat karyawan berkomunikasi kepada Anda. Konsentrasi dan temukan clarity (kejelasan) tentang apa yang mereka keluhkan. Baru setelah itu, Anda bisa memberikan tanggapan,” ungkap pemilik PT. GBT Laras Imbang ini.
Dalam memberikan tanggapan pun, hendaknya bersifat open ended question, yaitu memberikan pertanyaan yang bertujuan untuk membantu tim atau karyawan menemukan jawaban atas permasalahannya sendiri.
“Hindari pertanyaan yang jawabannya berupa pilihan ya atau tidak. Tapi pertanyaan yang tujuannya memunculkan ‘awareness’ akan persoalan yang sedang dihadapi. Jadi mereka mendapatkan clarity dari permasalahan sendiri. Inilah inti dari open-ended question,” ujar coach Suwito.
Coach Suwito menambahkan, setelah wacana dan kesadaran tim terbuka, yang paling penting bukan hanya action, tapi juga komitmen mereka untuk menjalankan dan memecahkan masalah yang dihadapi.
Sikap lain yang perlu dimiliki untuk menumbuhkan budaya coaching adalah lingkungan yang bisa membuat karyawan Anda termotivasi. Gunakan ‘relationship’ untuk mempengaruhi mereka dan jangan ada ‘gap’ antara Anda dan mereka. Karena metode coaching lebih efektif jika hubungan yang terjadi lebih seperti partner atau teman sharing.
Lalu apa saja yang dibutuhkan agar budaya tersebut bisa diterima di perusahaan? Coach Suwito kembali memaparkan, bahwa diperlukan kesiapan dari kedua belah pihak, baik atasan maupun dari karyawan sendiri. Ada baiknya, atasan harus siap terlebih dahulu untuk memulai budaya coaching di perusahaan yang dia pimpin. 

Jumat, 10 Januari 2014

One Day Workshop: "TELEMARKETING OKE!"

Jualan Langsung, capek jalannya ???
Jualan Online, capek nunggu pembelinya ???
Atau.....
Bingung merespon feedback keluhan telemarketing ???







SAATNYA BELAJAR " Teknik Bicara & Amati Celah " untuk menutup pembicaraan sales dengan sempurna !

CUKUP 1 HARI, dipaksa BISA !

Anda akan mampu :
a. Menutup Closing Penjualan by phone
b. Melakukan negosiasi lebih baik
c. Minimal, berhasil mendapatkan appointment penting

SIAPAPUN ANDA, jangan malu !
Fakta : Keberhasilan DEAL BISNIS 88% dari CARA MENYAMPAIKAN dengan tepat dan pas.

Program JANUARI  :
Kelas Umum-Karyawan: max 6 org/klas
Kelas Business Owner: max 3 org/klas
Biaya Partisipan :
Umum-Kary : Rp. XXX/org
Business Owner : Rp. XXXX/org

Monday Only : (1x pertemuan)
Waktu, pk. 08.00-16.00 Wib


REGISTRATION Step :
1. Pilih Hari & Tanggal
2. Segera Telp ke 031. 7390666 & konfirmasikan JUML PESERTA sesuai kuota perkelas
3. Transfer ke no rek yg ditunjuk
4. Penerimaan SMS konfirmasi registrasi peserta & gentle reminder H-1
5. Siapkan mental & agenda kerja alat tulis
6. Sampai jumpa...

Salam The Next Level !,
Super Team ActionCOACH

CEO PowerLunch - KOMBINASI CEO DAN COACH HASILKAN BISNIS ‘SEGAR’


Rabu (18/12/13), SEA Corp. (ActionCOACH East Java & Bali) kembali mengadakan forum ‘CEO PowerLunch’ di Hotel Sheraton Surabaya. Acara yang bertajuk “CEO as A Great Coach” ini menghadirkan Humphrey Rusli, selaku pembicara sekaligus Chief Operating Officer (COO) SEA Corp.
Dalam forum yang dihadiri oleh para CEO dan owner bisnis ini, coach Humphrey bertutur bahwa tema CEO as A Great Coach didesain karena banyak CEO yang masih mengerjakan tugas-tugas harian (bersifat taktik dan praktikal). Dia belum sadar, bahwa tugas CEO bukan pelaksana, melainkan sebagai kapten untuk mencapai target jangka panjang.
“Lalu mengapa coaching? Karena pada prakteknya coaching bukan memerintah, namun lebih bersifat memberdayakan anak buah, sehingga mereka bisa mengoptimalkan kemampuannya. Seorang CEO yang baik akan membantu mengeluarkan belief bahwa anak buahnya punya kemampuan, sehingga mereka akan termotivasi dan melakukan yang terbaik,” papar coach Humphrey
Selanjutnya international business coach ini menyebut, survey membuktikan bahwa efektivitas kerja mengalami kenaikan sebesar 22% setelah dilakukan training karyawan pada beberapa perusahaan. Namun, efektivitasnya akan naik sebesar 88%, jika dicombine dengan coaching. Sayangnya, selama ini sebagian besar CEO mengalami kesulitan untuk menjadi seorang ‘coach’ yang hebat. Selain tidak memiliki kesamaan visi dengan tim, kendala tersebut berasal dari kebiasaan CEO yang suka memerintah, bukan memberi pertanyaan dan memotivasi anak buahnya.
“Sering CEO merasa lebih tahu dan senior dari timnya, sehingga yang ada budaya memakai parameter ‘saya’, bukan parameter dari anak buah. Para CEO terbiasa untuk lebih mendengar pendapat diri sendiri,” tambah coach Humphrey.
Dalam kesehariannya, top #1 International Business Coach Juli 2013 ini telah melatih dan menjadi pendamping ratusan owner bisnis untuk mencapai sukses. Jadi materi yang diberikan juga bukan hanya teori semata, namun lebih pada pengalaman dan praktek yang dihadapi di lapangan. Beberapa hal yang didiskusikan dalam forum ini, mulai dari teknik mencoaching, seni bertanya, memotivasi tanpa memerintah, proses mengoptimalkan SDM, sampai bagaimana mempersiapkan CEO ke level berikutnya untuk menjadi better CEO.
“Intinya, hal yang yang menjadikan anda sukses menjadi CEO sekaligus coach adalah bukan pada apa yang anda tahu, tapi apa yang anda lakukan dengan apa yang anda tahu,” tegas coach Humphrey di akhir acara.

Pendapat para CEO :
1.       Hermanto – CENTRAL TECHNIC
Materi yang diberikan cukup bermanfaat. Saya sependapat dengan coach Humphrey bahwa konsep coaching dalam satu perusahaan itu tidak harus dengan memberi perintah, namun lebih pada memancing anak buah kita untuk termotivasi mencoba sendiri dan mengoptimalkan kemampuan mereka.
Sejauh ini saya sudah menerapkannya, meskipun terbentur pada beberapa kendala, seperti budaya yang belum terbentuk dan ketidaksiapan anak buah. Sehingga kadang saya juga masih harus mengerjakan hal-hal yang bersifat operasional.

1.       Kris Dwiantoro – PT. NISRINA INDONESIA
     Menurut saya, perusahaan bisa menerapkan budaya coaching, apabila timnya sudah mahir, baik dalam skill maupun knowledge. Kalau belum, maka harus melalui proses training terlebih dahulu. Kebetulan, di perusahaan saya ada semacam training centre untuk para kader baru. Hal ini agar mereka paham bagaimana bermain dalam bisnis yang kita jalankan, sekaligus memaksimalkan kekuatan mereka.
Inti dari CEO as a great coach adalah bagaimana kita sebagai pemimpin sekaligus menjadi pelatih, dimana yang bermain dalam bisnis adalah tim. CEO bertindak sebagai pengendali, meluruskan tim ketika ‘jalan’nya mulai kurang terarah.



Selasa, 24 Desember 2013

Business Mastery - BEDAH 3 MODEL RAJA PASAR DUNIA



Setiap pengusaha pasti ingin mendominasi pasar dan memiliki pangsa terbesar dalam dunia bisnis. Sayangnya, masih banyak yang belum paham bagaimana caranya menjadi market leader. SEA Corp. (ActionCOACH East Java & Bali) melalui Business Mastery Forum membedah langkah-langkah dan bekal apa saja yang harus dimiliki seorang market leader. Forum bertajuk “Discipline of Market Leader” ini menghadirkan pembicara Suwito Sumargo, finalis Rookie Coach of The Year 2013.
Coach Suwito berkata, discipline of market merupakan upaya yang dilakukan secara terus-menerus (konsisten) dan fokus, untuk menguasai pasar bisnis.
 “Banyak owner yang selama ini tidak sabar dan telaten dalam proses menjadi market leader. Dengan mengikuti forum ini, harapannya para owner mulai mempersiapkan diri agar terbiasa berpikir fokus. Karena untuk menjadi market leader itu tidak bisa langsung instant atau seketika, namun melalui proses yang panjang dan perlu kedisiplinan diri,” jelas coach Suwito dalam acara yang berlangsung Jum’at (06/12/13) ini.
Dalam surveynya, Michael Treacy dan Fred Wiersema menyebut, ada 3 model pengoperasian yang selalu ditemukan pada ‘jagoan’ pasar bisnis. Yang pertama, operational excellence (cost leadership/best total cost). Kunci pada model ini tidak harus selalu dengan memberikan harga yang lebih murah, tapi terletak pada biaya operasional yang dibuat seminimal mungkin.
“Tapi tidak semua produk bisa dibuat dengan menggunakan model ini. Aturannya, jika macam atau jenis produknya banyak, jelas costnya tidak bisa murah. Selain itu dibutuhkan cara kerja yang sangat konsisten dan kerjasama tim yang solid dan kokoh. Dengan begitu, tidak perlu ada yang namanya mengulang pekerjaan dan membuang waktu, sehingga biaya produksi bisa ditekan,” tegas coach Suwito.
Model kedua, product leadership (best product), yaitu terus-menerus menghasilkan produk baru. Produk yang dihasilkan bukan hanya bersifat innovatif, namun juga dengan kualitas terbaik.
“Kunci dari model ini adalah talent. Kemampuan untuk berpikir ‘out of the box’ dan peka terhadap keinginan market, baik sekarang maupun ke depan. Keberhasilan produk juga harus didukung dengan promosi.”
Selanjutnya, customer intimacy (best total solution). Fokus pada model ini adalah kedekatan dengan konsumen. Memberikan pelayanan penuh untuk mendapat kepercayaan konsumen. Biasanya yang melakukan hal ini adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa, seperti bank dan asuransi.
Di akhir acara, coach Suwito memaparkan, bahwa owner bisnis tidak mungkin menguasai ketiganya sekaligus. Minimal salah satu atau maksimal dua diantara tiga aspek disiplin di atas.

Kamis, 12 Desember 2013

HR FORUM - SEPULUH RAMBU-RAMBU REKRUITMENT

Karyawan merupakan aset penting dan sumber daya utama bagi perusahaan. Dia bisa membawa keuntungan, bahkan mendongkrak bisnis mencapai puncak. Itu mengapa proses recruitment menjadi satu hal important, yang harus dipahami oleh seorang owner bisnis.
Agar owner bisnis punya bekal dalam merekrut dan mendapatkan karyawan yang sesuai , SEA Corp. (ActionCOACH East Java & Bali) mengadakan acara Human Resource Forum bertajuk “10 Hiring Mistakes”, Jum’at (22/11/13). Sebuah forum yang mengupas kesalahan apa saja yang biasa terjadi ketika merekrut karyawan baru. Suwito Sumargo, sebagai pembicara berkata, penting bagi owner bisnis mengikuti acara ini.
“Saya ingin owner bisnis paham, bahwa kesalahan kecil saat menghire karyawan itu sering dilakukan. Padahal itu sebenarnya tidak perlu terjadi. Karena karyawan sangat penting keberadaanya buat perusahaan, maka jangan sampai kita mendapat orang yang tidak sesuai dengan posisi dan pekerjaannya,” tegas coach Suwito.
Kesalahan pertama yang biasa dilakukan owner bisnis dalam proses recruitment karyawan adalah menghire ‘diri sendiri’ (hiring yourself). Para owner seringkali merekrut karyawan yang terlihat punya karakter sama dengan pemilik perusahaan.
“Kemiripan karakter seringkali menjadi kelemahan bagi owner. Padahal, meskipun dengan background dan karakter yang sama, belum tentu hasil kerja dan pemikirannya juga sama,” tutur coach Suwito.
Lebih jauh, coach Suwito menegaskan, pemilik bisnis harus bersikap fair pada karyawannya. Jadi ketika ia menginginkan satu hal positif dilakukan karyawannya, maka dia harus mengawali dalam melakukannya.
Kedua, fast food hiring, yaitu merekrut hanya pada saat membutuhkan. Di waktu ini, seringkali para owner tergesa dan asal-asalan menerima karyawan. Karena berada pada kondisi ‘kepepet’, mereka jadi terjebak dalam kondisi serba instant (fast food).
Pada poin ini, coach Suwito membagikan tips bagaimana para owner bisa langsung mendapatkan seorang karyawan yang diinginkan pada saat urgent atau benar-benar membutuhkan.
“Proses recruitment baiknya sering dilakukan pada saat kita tidak sedang membutuhkan mereka. Daftar kandidat yang memenuhi kualifikasi, baru dipanggil lagi ketika perusahaan sangat membutuhkan posisi yang tepat untuk kandidat itu. Intinya, di waktu yang ‘kepepet’ kita tidak perlu lagi melakukan proses recruitment,” jelas pria yang juga owner GBT Laras Imbang ini.
Kesalahan berikutnya, hiring the resume, not the person. Hati-hati terhadap ‘jebakan’ resume adalah inti pada poin ini. Jadi ketika merekrut, jangan hanya mengandalkan Curriculum Vitae (CV). Ketika interview juga usahakan jangan terpaku dengan melihat resume. Kandidat yang berpotensi adalah mereka yang bukan hanya cerdas, tapi inovatif dan kreatif.
Keempat, interviewing on autopilot. Poin ini berhubungan dengan seberapa sering anda merekrut karyawan. Sebaiknya jangan terlalu sering, karena nantinya proses rekruitment akan berjalan otomatis dan asal-asalan. Hal ini bisa menghilangkan kepekaan anda untuk memilih kandidat yang sesuai dengan perusahaan.
“Hindari autopilot, karena kita butuh human sense,” tambah coach Suwito.
Kelima, lazy references checking. Sebelum memutuskan untuk menerima kandidat, ada baiknya anda menghubungi rekan yang pernah bekerja sebelumnya dengan kandidat. Dengan begitu anda bisa tahu bagaimana mereka bekerja serta sifat dan tingkah laku, yang bisa dijadikan acuan ketika kelak mereka bergabung dengan perusahaan kita.
Poin berikutnya, freezing out your team. Usahakan melibatkan tim saat proses hiring. Akan lebih baik, jika nantinya tim itu yang akan terlibat langsung dengan kandidat.
Kesalahan yang juga biasa terjadi adalah only hiring outside – or inside. Di beberapa perusahaan, para owner hanya merekrut orang-orang dari internal perusahaan untuk menjabat posisi baru. Hal ini karena owner sudah mengetahui bagaimana attitude serta karakter mereka. Selain itu, culture yang dimiliki sang karyawan sudah sama dengan culture perusahaan. Padahal, diperlukan juga merekrut orang luar untuk membentuk budaya baru, sehingga perusahaan akan lebih beradaptasi dan welcome terhadap perubahan.
“Namun jika hanya merekrut pihak luar saja juga tidak baik, karena culture perusahaan dan proses bisnis yang sudah terbentuk bisa berubah, bahkan berantakan. Itu mengapa, harus ada kombinasi antara keduanya. Diperlukan orang luar, agar yang di dalam ini tidak kaku dan statis. Sebaliknya, diperlukan pihak dalam, untuk mempertahankan budaya perusahaan yang sudah terbentuk.”
Selanjutnya, when it’s all about the money. Pada saat merekrut, jangan semata-mata karena uang. Buat perhitungan dulu sebelumnya. Apa yang dia dapat, harus seimbang atau sesuai dengan apa yang berikan kepada kita.
Terakhir, letting it fester. Jauhkan pekerja yang buruk dan berpengaruh negatif pada perusahaan anda.
“Pengaruh negatif di sini bukan hanya yang punya attitude yang buruk saja, namun juga pekerja yang terlalu potensial, sehingga gap dengan perusahaan jauh,” tegas coach Suwito lagi.